Restorasi Rasa

Suci Asdhan
Chapter #2

Panggilan Pulang

Layar monitor di hadapan Aruna menampilkan cetak biru sebuah lobi hotel bintang lima di pusat Jakarta. Garis-garis digital itu begitu presisi, tegak lurus, dan sempurna. Aruna menyesap kopi hitamnya yang sudah mendingin. Matanya menyipit memperhatikan satu sudut pilar yang menurutnya meleset dua milimeter dari titik simetris.

Di dunia Aruna, dua milimeter yang tak pas itu adalah bencana.

"Aruna, klien dari Surabaya minta revisi fasad depan, tuh. Mereka pengen kesan yang lebih 'terbuka'." Terdengar suara asistennya, Maya, memecah keheningan ruang kerja yang beraroma kayu cendana dan kertas baru.

Aruna tidak menoleh. Jemarinya lincah memainkan tetikus. "Bilang aja sama mereka, keterbukaan tanpa struktur yang kuat hanya akan membuat bangunan itu terlihat telanjang, bukan elegan. Aku nggak akan ngubah fondasinya."

Suara Aruna datar, sedingin pendingin ruangan yang dipasang di suhu 18°C. Perempuan itu memang seorang arsitek yang dikenal bukan karena keramahannya, melainkan karena ketidakmampuannya menoleransi kecacatan. Baginya, setiap inci bangunan harus memiliki logika. Karena jika logika runtuh, perasaan akan mengambil alih, dan perasaan adalah variabel yang paling tidak bisa diandalkan di dunia ini.

Tepat saat ia hendak menarik garis baru, ponselnya di atas meja kayu ek itu bergetar. Sebuah nomor tanpa nama. Aruna membiarkannya hingga benda itu bergetar untuk kali ketiga, sebelum akhirnya mengangkatnya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.

"Ya, Aruna di sini."

"Na? Aruna? Ini Rian."

Gerakan tangan Aruna terhenti. Nama itu seperti kunci yang membuka kotak pandora yang sudah ia gembok rapat-rapat selama lima tahun. Rian. Teman masa kecil yang dahi dan lututnya selalu penuh luka karena memanjat pagar rumah Aruna.

"Rian? Ada apa? Aku lagi rapat," ucap Aruna berbohong. Suaranya sedikit bergetar, meski hanya ia yang menyadarinya.

"Na, ini soal Bapak." Nada bicara Rian terdengar terengah-engah, beriringan dengan deru mesin motor di latar belakang. "Bapak jatuh, Na. Di kamar mandi."

Jantung Aruna seolah melewatkan satu detakan. Kamar mandi.

Dunia digital di depannya mendadak mengabur. Garis-garis presisi itu meliuk, berubah menjadi bayangan ubin putih kusam yang licin dan berlumut. Aruna bisa merasakan sensasi dingin yang merambat di telapak kakinya, sensasi yang sama seperti malam itu. Malam ketika ibunya ditemukan tergeletak tak berdaya di tempat yang sama.

"Sudah dibawa ke puskesmas?" tanya Aruna. Ia berusaha keras menjaga suaranya tetap profesional, seolah-olah ia sedang membicarakan kerusakan pipa air di salah satu proyeknya.

"Lagi di jalan, Na. Untung tadi aku lewat depan rumah karena mau antar pesanan kayu, terus dengar suara teriakan dari dalam. Bapak kelihatannya kesakitan sekali. Kakinya nggak bisa digerakkan." Rian terdiam sejenak, lalu suaranya melunak. "Kamu harus pulang, Na. Rumah itu, nggak ada yang urus sejak Ibu nggak ada. Bapak juga, beliau nggak sekuat yang kamu kira."

Aruna memejamkan mata. Ia bisa membayangkan Griya Asri sekarang. Rumah dengan atap pelana yang mungkin sudah banyak yang merosot, pagar besi hijau yang kini tertutup karat, dan kamar mandi tua di bagian belakang rumah yang cahayanya selalu temaram.

Kamar mandi itu adalah tempat terakhir Ibu pingsan sebelum akhirnya benar-benar menyerah pada maut sebulan kemudian. Bagi Aruna, ruangan itu adalah muara dari segala kesedihan.

"Aku punya tenggat waktu proyek besar, Rian. Aku akan kirim uang untuk biaya pengobatan dan sewa perawat," ujar Aruna. Kata-katanya keluar seperti mesin otomatis, nyaris tanpa jeda.

"Uang nggak bisa benerin tulang yang patah, Na. Apalagi hati yang patah," balas Rian cepat. Nada suaranya berubah, ada ketegasan khas pemuda desa yang tidak terbiasa dengan basa-basi korporat. "Bapak nggak butuh perawat asing. Dia butuh kamu. Dia terus panggil nama kamu tadi, walaupun suaranya hampir hilang."

Aruna terdiam. Kata-kata Rian menghantamnya lebih keras daripada kritik klien mana pun.

"Na, aku tahu kamu benci rumah itu. Aku tahu apa yang kamu rasakan tentang kamar mandi itu. Tapi ini Bapak. Satu-satunya keluarga yang kamu miliki, orang yang masih punya kunci rumah itu selain kamu."

Lihat selengkapnya