Restorasi Rasa

Suci Asdhan
Chapter #3

Bau Bedak yang Tertinggal

Malam di Griya Asri tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada simfoni gangguan kecil, seperti bunyi derit kayu plafon yang memuai, suara nyanyian jangkrik yang terdengar menuntut dari balik semak belukar, hingga suara napas berat Baskara yang tertahan di ruang tengah. Aruna duduk di kursi kayu jengki di ruang tamu, memperhatikan butiran debu yang menari-nari tertangkap cahaya lampu neon yang mulai sekarat.

Ia belum berganti pakaian. Kemeja linen mahalnya sudah kusut, dan aroma kopi kantor yang biasa menempel di tubuhnya kini kalah telak oleh bau apak khas rumah yang terlalu lama 'mengunci diri'.

"Ayah butuh sesuatu? Air? Obat?" Suara Aruna membelah kegelapan ruang tengah.

"Tidak perlu. Tidurlah," sahut Baskara singkat. Suaranya serak, khas orang yang baru saja menelan rasa sakit fisik yang hebat tetapi terlalu gengsi untuk mengeluh. "Kamar atas masih seperti dulu. Ayah hanya sempat menyapunya minggu lalu."

Aruna tidak menjawab. Ia tahu betul 'menyapu" versi Ayah hanyalah memindahkan debu dari satu sudut ke sudut lain. Dengan langkah berat, ia menaiki tangga kayu yang berderit memprotes setiap pijakannya. Tangga ini dulunya adalah panggung sandiwara Aruna kecil; tempat dirinya mengintip Ibu yang sedang bersiap-siap pergi ke pengajian atau acara pernikahan tetangga.

Langkah kakinya terhenti di depan pintu kayu jati yang cat peliturnya sudah memudar. Kamar utama. Kamar Ibu dan Ayah.

Seharusnya ia langsung menuju kamarnya sendiri di ujung lorong, tetapi ada magnet tak kasatmata yang menarik jemarinya untuk memutar kenop pintu itu. Cklek.

Bau itu langsung menyergapnya.

Bukan bau apak, bukan pula bau lembap. Itu adalah aroma sisa-sisa bedak tabur mawar dan minyak telon yang samar—aroma yang selama tiga puluh tahun Aruna definisikan sebagai 'Ibu'. Aroma itu seolah tersimpan dalam kapsul waktu, terjebak di sela-sela gorden beludru hijau yang kini sudah berubah warna menjadi kusam.

Aruna menyalakan sakelar lampu. Cahaya kuning temaram menerangi ruangan yang terasa membeku. Ranjang besi besar masih tertutup sprei bermotif bunga krisan yang warnanya sudah pucat. Namun, mata Aruna langsung tertuju pada pojok ruangan.

Meja rias kayu jati dengan cermin oval yang besar.

Dulu, meja ini adalah pusat gravitasi kecantikan di rumah ini. Di atasnya selalu penuh sesak dengan botol-botol kaca cantik, kotak bedak logam, dan sisir tanduk kesayangan Ibu. Aruna ingat betapa ia sering duduk di lantai, memperhatikan pantulan wajah Ibu di cermin saat beliau memoleskan lipstik merah bata dengan sangat hati-hati.

Aruna berjalan mendekat. Debu di lantai kamar ini terasa lebih tebal, seperti salju kelabu yang menyelimuti kenangan. Ia berdiri di depan meja rias itu.

Kosong.

Meja itu benar-benar bersih dari barang-barang. Tidak ada sisir. Tidak ada kotak perhiasan. Tidak ada botol parfum. Permukaan kayunya yang cokelat gelap kini tertutup lapisan debu tebal yang merata, seolah-olah waktu telah mengirimkan pasukan untuk mengubur jejak pemiliknya.

Akan tetapi, saat Aruna menyapukan jemarinya di atas permukaan meja, jantungnya terasa seperti diremas.

Ada sebuah bekas lingkaran bersih di tengah lapisan debu itu. Sebuah lingkaran kecil yang menunjukkan bahwa hingga beberapa waktu yang lalu, ada sesuatu yang berdiri di sana. Botol parfum Eau de Cologne favorit Ibu yang berbentuk botol kaca berulir.

Lihat selengkapnya