Restorasi Rasa

Suci Asdhan
Chapter #4

Rian dan Kenangan Pagar

Mentari pagi di Bandung tidak pernah benar-benar hangat, melainkan selalu datang terbungkus kabut tipis yang menyusup ke sela-sela serat pakaian. Aruna berdiri di depan pagar besi hijau yang kini lebih menyerupai rongsokan berkarat daripada sebuah gerbang pelindung. Tangannya yang biasa memegang penggaris presisi kini menggenggam gembok besar yang macet total.

"Sial," umpat Aruna pelan. Ia mengguncang besi itu, membiarkan serpihan karat mengotori telapak tangannya yang halus.

"Jangan dipaksa, Na. Besi itu seperti Bapakmu, makin dikerasin makin mogok."

Aruna menoleh. Rian berdiri di sana, bersandar pada motor bebek tuanya yang batuk-batuk sebelum dimatikan. Pemuda itu turun, membawa sebuah botol kecil berisi minyak pelumas dan sebilah tang jepit. Ia tidak memakai seragam kontraktor necis seperti rekan-rekan Aruna di Jakarta Rian hanya mengenakan kaos oblong yang memudar warnanya dan celana kargo penuh saku yang tampak berat oleh perkakas.

"Sini, biar ahli kunci amatiran yang turun tangan," kelakar Rian. Ia mendekat, aroma serbuk kayu dan matahari menempel pada tubuhnya.

Rian meneteskan cairan pelumas ke lubang gembok dengan telaten. Gerakannya tenang, kontras dengan Aruna yang sejak tadi hanya bisa menggerutu.

"Kamu nggak berubah, ya, Na. Masih musuhan sama benda mati yang nggak mau nurut," ucap Rian tanpa menoleh.

"Aku cuma nggak punya waktu buat ngurus drama gembok yang susah dibuka, Rian. Banyak yang harus diperiksa di dalam," balas Aruna, berusaha membersihkan noda karat di tangannya dengan tisu basah.

Cklek.

Akhirnya, gembok itu pun terbuka. Rian mendorong pagar besi itu perlahan-lahan. Suara deritnya memanjang, membelah kesunyian pagi seperti jeritan minta tolong. Rian tidak langsung masuk. Ia berhenti di ambang pintu pagar, jemarinya mengusap bagian atas besi yang melengkung.

"Ingat nggak? Dulu kita sering balapan lari dari sekolah, terus siapa yang sampai duluan harus lompat pagar ini." Rian terkekeh pelan. "Kamu selalu kalah karena rokmu tersangkut di bagian runcing ini."

Aruna menatap titik yang ditunjuk Rian. Ingatannya mengembara pada kenangan sore hari yang berdebu, suara tawa yang lepas, dan lutut yang lecet. "Itu sudah lama sekali, Rian. Sebelum aku tahu kalau dunia nggak sesederhana balapan lari."

"Dunia emang nggak sederhana, tapi pagar ini tetap di sini, Na. Menunggu kamu pulang buat benerin rokmu yang tersangkut." Rian melangkah masuk ke halaman yang ditumbuhi rumput liar setinggi lutut.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak semen yang sudah retak-retak dimakan usia. Aruna mengeluarkan buku sketsa kecilnya, mulai mencatat kerusakan secara teknis: Paving block amblas, drainase tersumbat, vegetasi tidak terkendali.

Akan tetapi, langkah Rian terhenti tepat di depan teras. Sebuah kursi kayu panjang dengan sandaran melengkung terletak di sana, tertutup debu dan beberapa lembar daun kering.

Lihat selengkapnya