Udara pada pukul sepuluh pagi seharusnya mulai menghangat. Namun, di dalam ruang tengah Griya Asri, atmosfer terasa seperti membeku di titik nol. Cahaya matahari yang menyusup melalui celah gorden kolonial yang kaku hanya mampu menerangi jutaan partikel debu yang melayang statis, seolah waktu di rumah ini memang dipaksa berhenti sejak lima tahun lalu.
Aruna berdiri di ambang pintu penghubung dapur, jemarinya masih terasa dingin bekas memegang kunci pagar. Matanya tertuju pada sosok pria yang terbaring di ranjang lipat di sudut ruangan, Baskara, ayahnya.
Pria tua itu tidak sedang tidur. Ia terlihat sedang menatap langit-langit plafon yang dihiasi noda air berbentuk pulau-pulau kecokelatan. Saat menyadari kehadiran Aruna, rahang Baskara mengeras. Pria itu tak menoleh sedikit pun, hanya menggeser posisi kepalanya sedikit, menimbulkan bunyi derit dari rangka ranjang besi yang sudah tua.
"Rian bilang kamu sudah berangkat sejak subuh." Nada bicara Baskara datar. Suaranya terdengar kering seperti dedaunan jati yang jatuh di halaman depan.
"Aku mampir ke toko bangunan di bawah. Membeli beberapa peralatan dasar," jawab Aruna. Ia melangkah masuk, suara sepatunya di atas lantai ubin kunci terdengar sangat nyaring dan intrusif di tengah kesunyian itu. "Kaki Ayah ..., bagaimana?"
"Masih di tempatnya."
Jawaban itu singkat, tajam, dan menutup ruang untuk empati. Itulah Baskara. Seorang pria yang membangun dinding di sekeliling perasaannya dengan semen yang lebih kuat daripada beton gedung mana pun yang pernah Aruna rancang.
Aruna mendekat, hendak membetulkan letak bantal ayahnya yang tampak meleset, tetapi tangan Baskara bergerak lebih cepat. Ia menepis tangan Aruna dengan gerakan kikuk tetapi tegas.
"Jangan. Ayah bisa sendiri," tolak Baskara. Ia memaksakan tubuhnya bergeser, meringis saat kaki yang digips itu sedikit tergoncang. "Kamu tidak perlu berakting jadi perawat. Ayah tahu kamu benci bau minyak kayu putih dan rumah yang pengap ini."
Aruna menarik napas panjang, menahan denyut kesal yang mulai naik ke pelipisnya. Ia berjalan menuju jendela, menyibakkan gorden hijau zamrud yang berat itu dengan satu sentakan. Cahaya Dago yang terang benderang menyerbu masuk, menelanjangi setiap sudut ruangan yang kusam.
"Ayah lihat ini?" Aruna menunjuk ke arah kusen jendela yang sudah keropos dimakan rayap. "Ini rumah, Yah. Bukan gua. Kenapa Ayah biarkan semuanya hancur begini? Atap bocor, dinding berjamur, bahkan meja rias Ibu dibiarkan berdebu seperti barang rongsokan."
Baskara memejamkan mata sejenak, seakan-akan pantulan cahaya matahari itu menyakiti penglihatannya. "Rumah ini hanya mengikuti pemiliknya, Aruna. Kalau pemiliknya sudah tidak punya tenaga untuk bersolek, ya, begini jadinya."