Restorasi Rasa

Suci Asdhan
Chapter #6

Retakan di Kamar Ibu

Suasana di malam hari di Bandung selalu membawa suara-suara yang tidak pernah terdengar di Jakarta. Gemerisik dahan pohon pinus yang saling bergesekan terdengar seperti bisikan rahasia, serta angin yang menyelinap masuk melalui sela-sela kusen jendela Griya Asri mengeluarkan siulan panjang yang melankolis.

Aruna memutuskan untuk tidur di kamar utama. Bukan karena ia merasa nyaman, melainkan karena ia butuh menghadapi bayangan kenangan di masa silamnya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa sebagai arsitek profesional, ia bisa menaklukkan sebuah ruangan seluas dua puluh meter persegi tanpa harus merasa tercekik.

Akan tetapi, saat punggungnya menyentuh kasur tua yang sudah sedikit lembap, Aruna menyadari bahwa logika tidak punya kuasa di sini.

Uhuk!

Aruna tersentak. Perempuan itu segera duduk tegak, matanya liar memindai kegelapan kamar. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding kuno di ruang tamu.

Uhuk-uhuk!

Suara itu muncul lagi. Yang semula hanya terdengar bunyi samar-samar, kali ini lebih jelas, lebih parau, dan sangat akrab di telinganya. Suara batu itu bukan berasal dari ruang tengah, sebab Aruna hafal betul, kalau suara ayahnya lebih berat dan berdahak. Sedangkan suara ini tipis dan ringan, seolah-olah berasal dari balik dinding, atau mungkin dari balik lipatan memorinya yang paling dalam.

"Ibu?" bisik Aruna. Suaranya gemetar, hilang di antara bayangan lemari jati yang menjulang.

Tentu saja tidak ada jawaban. Aruna menyalakan lampu tidur di nakas. Cahaya kuning yang redup menyinari sudut kamar yang paling ia benci, yaitu dinding di samping meja rias yang tertutup wallpaper bermotif bunga krisan pudar.

Wallpaper itu terlihat sudah lama menyerah pada kelembapan dinding rumah ini. Di beberapa bagian, permukaannya menggulung seperti kulit yang mengelupas, memperlihatkan semen di bawahnya yang berjamur hitam. Aruna berdiri, mendekati dinding itu. Ia benci ketidakteraturan. Ia benci sesuatu yang rusak dan dibiarkan begitu saja.

Dengan gerakan impulsif, Aruna menyelipkan jemarinya ke sela-sela wallpaper yang mengelupas itu.

Srettt.

Bunyi robekan kertas itu terasa memuaskan sekaligus mengerikan di tengah malam yang sepi. Aruna terus menariknya. Ia penasaran ingin menyingkap sesuatu yang tersembunyi di balik motif bunga-bunga pucat ini. Ia butuh membongkar segalanya agar bisa membangun kembali. Namun, semakin lebar wallpaper-nya terkelupas, Aruna mencium aroma yang menyengat. Bukan hanya bau lem lama, tapi bau kayu yang busuk.

Lantas, Aruna merasakan setetes demi setetes air dingin jatuh tepat di ubun-ubunnya. Perempuan itu mendongak. Di atas kepalanya, plafon putih itu sudah melengkung, membentuk kantung air yang tinggal menunggu waktu untuk pecah. Warnanya kecokelatan, jenuh oleh air hujan yang sepertinya sudah merembes berhari-hari melalui genteng yang bergeser.

"Sialan," umpat Aruna. "Bahkan atapnya pun mengkhianatiku."

Mata Aruna beralih ke bawah, ke sebuah meja kecil di bawah plafon yang bocor itu. Di sana, tergeletak sebuah bingkai foto kayu yang sudah miring. Itu adalah satu-satunya foto keluarga lengkap mereka yang dipajang di kamar ini. Aruna menyambarnya dengan panik. Namun, ia terlambat.

Air hujan yang merembes dari atap telah membasahi kertas foto di dalam bingkai itu. Cairan keruh itu masuk ke sela kaca, membuat wajah ibunya dalam foto itu perlahan-lahan luntur. Tinta warnanya meleleh, menciptakan gradasi biru dan abu-abu yang menakutkan. Wajah Ibu yang tersenyum kini terlihat seperti sedang menangis dengan air mata yang menghapus hidung dan mulutnya.

Lihat selengkapnya