Dapur di Griya Asri selalu menjadi wilayah kekuasaan Ibu yang tak tersentuh. Bagi Aruna, ruangan ini adalah laboratorium aroma; tempat di mana kunyit meninggalkan noda kuning di ujung kuku dan uap nasi mendidih menjadi kabut yang menghangatkan kaca jendela wilayah Dago yang dingin. Namun pagi ini, dapur itu terasa seperti museum yang ditinggalkan secara mendadak serta terburu-buru. Apalagi, ia sempat menemukan sebuah catatan medis yang terasa mengganjal dalam pikirannya, tetapi saat Aruna menuntut penjelasan, Baskara bungkam. Dan ia tak kuasa memaksa ayahnya untuk buka suara. Mungkin Ayah belum siap untuk berbagi.
Aruna berdiri di depan lemari gantung kayu jati yang pintunya sudah sedikit miring. Setelah malam yang melelahkan di kamar atas, ia merasa perlu melakukan sesuatu yang "normal". Sesuatu yang melibatkan tangan, bukan hanya pikiran. Ia ingin merestorasi fungsi dapur ini sebelum ia menyentuh semen dan pasir.
Saat ia sedang mengosongkan rak bumbu yang dipenuhi botol-botol kaca berdebu, sebuah buku tulis bersampul cokelat jatuh dari sela-sela buku resep cetakan lama.
Buku Catatan Masakan Ibu.
Aruna membukanya perlahan. Tulisan tangan Ibu yang rapi dan tegak bersambung menyapa pandangan matanya. Halaman demi halaman berisi resep kesukaan Ayah, yaitu Rendang Daging Tanpa Lemak, Sayur Lodeh, Sambal Terasi Jeruk Purut. Di setiap pinggir halaman, disertai dengan catatan kecil, seperti: 'Baskara suka kalau cabainya digoreng sebentar dulu' atau 'Aruna tidak suka daun seledri, jangan dimasukkan.'
Jari Aruna terhenti di halaman tengah, pada sebuah resep bertajuk Sup Ayam Jahe Hangat. Tulisan di halaman itu terlihat berbeda dari halaman-halaman sebelumnya. Garis-garisnya tidak lagi tegak, tampak seperti hasil tulisan tangan yang tengah gemetar, miring, dan terkadang terputus-putus.
'Siapkan jahe dua ruas, geprek sampai ....'
Kalimat itu terhenti di sana. Ada sebuah goresan tinta panjang ke arah bawah kertas, seolah-olah pena yang dipegang Ibu terjatuh ketika wanita terkasihnya itu sedang menulis. Di sudut bawah, ada setitik noda kecokelatan. Aruna mendekatkan noda itu seraya menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas. Firasatnya meyakini, bahwa itu bukan noda bekas tetesan kecap, melainkan noda darah yang sudah mengering dan memudar.
Aruna menutup buku itu dengan cepat, napasnya tiba-tiba saja memburu. Saat ini, ia seperti bisa membayangkan Ibu, duduk di kursi dapur ini, berusaha tetap menjadi 'Ibu' yang menyediakan resep untuk keluarganya meski paru-parunya sedang berperang.
"Na? Apa yang kamu cari di sana?"
Baskara muncul dengan kruknya, berdiri di ambang pintu dapur. Wajah pria itu terlihat sedikit lebih segar setelah tidur semalam, tapi matanya tetap waspada saat melirik pada buku cokelat di tangan Aruna.
"Cuma lagi baca-baca resep Ibu," sahut Aruna, berusaha menetralkan suaranya agar sang ayah tak menaruh curiga. "Ayah udah lapar? Aku lagi pengen nyoba buat sup ayam jahe. Seperti yang biasa Ibu buat."
Baskara terdiam sebentar, matanya menatap kompor gas tua yang berkarat. "Ibu tidak pernah benar-benar menyelesaikan resep itu di buku, Na. Dia lebih suka pakai ilmu kira-kira."
"Aku juga bisa mengira-ngira, kok, Yah." Aruna melangkah menuju wastafel, mencoba menyibukkan diri. "Ayah duduk aja di meja makan. Kalau udah matang, nanti aku hidangkan."
Baskara mendengkus pelan, tetapi kali ini pria itu tak membantah dan memilih menuruti perintah putri semata wayangnya. Ia duduk di kursi kayu yang biasanya menjadi tempatnya memantau sang istri memasak. "Jangan terlalu banyak jahe. Nanti getir, seperti omonganmu."
Aruna tak lagi merespons dengan emosi, melainkan hanya tersenyum tipis mendengar sindiran itu. Sedikit demi sedikit, dinding es di antara mereka mulai retak, meski bukan karena kehangatan, melainkan karena merasakan lelah yang sama.
Aruna mulai memotong sayuran. Suara pisau yang beradu dengan talenan kayu menjadi satu-satunya bunyi di dapur itu. Namun, saat ia harus mengambil air untuk kaldu, tangannya mulai merasakan hal yang ganjil.
Ia mengambil sebuah gelas kaca bening dari rak. Gelas yang mirip sekali dengan gelas berukiran mawar merah yang ia pecahkan dua puluh tiga tahun lalu.