Retak Yang Di Balik Janji

Arifin
Chapter #1

#1 Retak Yang Di Balik Janji

Hujan turun perlahan di luar jendela, membasahi kaca seperti air mata yang tak sempat jatuh. Di dalam rumah yang dulu penuh tawa itu, kini hanya tersisa sunyi yang menggantung di setiap sudut.


Alya berdiri diam di dapur, menatap secangkir teh yang mulai dingin. Sudah satu jam ia menunggu, dan seperti malam-malam sebelumnya, kursi di hadapannya tetap kosong.


“Mas Raka pasti lembur lagi…” gumamnya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Namun jauh di dalam hati, Alya tahu—ini bukan lagi soal pekerjaan.


Beberapa tahun lalu, semua terasa begitu berbeda. Raka adalah pria yang penuh janji. Ia berjanji akan selalu pulang tepat waktu, berjanji akan mendengarkan setiap cerita Alya, dan berjanji bahwa cinta mereka tak akan pernah pudar.


Dan Alya percaya. Ia percaya sepenuh hati.


Mereka memulai kehidupan sederhana, dengan rumah kecil dan mimpi besar. Setiap malam diisi dengan obrolan panjang, tawa ringan, dan rencana masa depan.


“Kalau kita punya anak nanti, aku mau dia punya kamar yang jendelanya menghadap taman,” kata Alya suatu malam.


Raka tersenyum sambil menggenggam tangannya. “Aku janji, semua yang kamu mau akan kita wujudkan.”


Janji itu… kini terasa seperti bayangan yang semakin kabur.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika pintu akhirnya terbuka. Raka masuk dengan langkah lelah, tanpa menatap ke arah Alya.


“Kamu belum tidur?” tanyanya singkat.


Alya menahan napas. “Aku nunggu kamu.”


Raka hanya mengangguk, lalu berjalan ke kamar tanpa berkata apa-apa lagi.


Dulu, ia akan memeluk Alya lebih dulu. Sekarang, bahkan sekadar menatap pun terasa berat.


“Ada apa dengan kita, Mas?” tanya Alya akhirnya, suaranya bergetar.


Raka berhenti di ambang pintu, tapi tidak menoleh. “Nggak ada apa-apa. Kamu aja yang terlalu mikir.”


Jawaban itu seperti pisau kecil yang perlahan mengiris hati Alya. Tidak langsung terasa sakit, tapi meninggalkan luka yang dalam.


Hari-hari berlalu, dan jarak di antara mereka semakin nyata. Percakapan menjadi singkat, tatapan menjadi dingin, dan kehangatan yang dulu ada kini menghilang tanpa jejak.


Suatu sore, saat membersihkan meja kerja Raka, Alya menemukan sesuatu—sebuah pesan di ponsel yang tertinggal.


“Terima kasih tadi siang. Aku senang bisa ketemu kamu lagi.”


Nama pengirimnya: Nadira.


Jantung Alya berdegup kencang. Tangannya gemetar saat membaca pesan-pesan berikutnya. Tawa, candaan, dan perhatian… semua yang dulu hanya miliknya, kini terbagi dengan orang lain.


Dunia Alya seakan runtuh dalam sekejap.


Malam itu, Alya menunggu lagi. Tapi kali ini bukan dengan harapan—melainkan dengan keberanian.


Ketika Raka pulang, Alya langsung berdiri di hadapannya.


“Siapa Nadira?” tanyanya tanpa basa-basi.


Raka terdiam. Wajahnya menegang.


“Jawab aku, Mas. Aku berhak tahu.”


Beberapa detik terasa seperti selamanya, sebelum akhirnya Raka menghela napas panjang.


“Dia… teman lama,” jawabnya singkat.


“Teman lama yang kamu sembunyikan?” suara Alya meninggi. “Teman lama yang kamu kasih perhatian lebih dari istrimu sendiri?”


Raka tidak menjawab.


Dan diamnya… adalah jawaban paling menyakitkan.


Tangis Alya pecah. Semua yang ia tahan selama ini akhirnya runtuh.


“Aku cuma minta kamu jujur… aku cuma minta kamu tetap jadi suami yang dulu aku kenal,” katanya sambil terisak.


Raka menunduk. “Aku capek, Alya… aku capek dengan semua tuntutan.”


“Tuntutan?” Alya tertawa pahit. “Aku cuma minta kamu pulang… aku cuma minta kamu peduli.”


Sunyi kembali menyelimuti mereka.


Namun kali ini, sunyi itu bukan lagi sekadar jarak—melainkan retakan yang hampir memisahkan segalanya.


Hari itu menjadi titik balik.


Alya tidak lagi menunggu di meja makan. Ia tidak lagi mengirim pesan panjang yang tak dibalas. Ia mulai belajar berdiri sendiri, meski hatinya masih rapuh.


Sementara Raka… perlahan menyadari kehilangan yang ia ciptakan sendiri.


Rumah itu masih berdiri, tapi rasanya berbeda. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi tawa.


Hanya ada dua orang yang pernah saling mencintai… namun kini terjebak di antara janji yang telah retak.


Suatu pagi, Alya berdiri di depan pintu dengan koper kecil di tangannya.

Lihat selengkapnya