Pagi itu datang seperti biasanya—tanpa tanda apa pun bahwa sesuatu akan berubah. Cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai, jatuh di lantai ruang tamu yang dingin. Udara masih segar, dan aroma kopi yang baru diseduh memenuhi sudut rumah kecil itu.
Rena berdiri di dapur, memegang cangkir putih yang sudah mulai kusam di bagian pegangannya. Tangannya bergerak otomatis, menuangkan gula, mengaduk perlahan, seolah semua itu sudah menjadi bagian dari tubuhnya. Di meja makan, Arga duduk dengan ponsel di tangannya, matanya fokus pada layar, bukan pada pagi yang sedang berjalan di sekitarnya.
“Gulanya dua sendok, kan?” tanya Rena tanpa melihat.
“Iya,” jawab Arga singkat.
Tidak ada senyum. Tidak ada tatapan.
Padahal dulu, hal sekecil itu bisa menjadi alasan mereka tertawa.
Rena meletakkan cangkir di depan Arga. Uap hangat naik pelan, tapi tidak cukup untuk mencairkan suasana di antara mereka. Arga mengambilnya tanpa menatap Rena, tanpa mengatakan terima kasih.
Dan entah sejak kapan, hal-hal kecil yang dulu berarti… mulai terasa biasa saja.
Hari berjalan seperti rutinitas yang diulang tanpa variasi. Rena sibuk dengan pekerjaannya dari rumah, mengetik tanpa henti, mencoba mengejar deadline yang terasa tidak pernah selesai. Sementara Arga pergi sejak pagi, kembali dengan alasan pekerjaan yang semakin hari semakin sulit dijelaskan.
Awalnya Rena bertanya.
Lalu ia berhenti.
Karena setiap pertanyaan hanya berakhir dengan jawaban singkat… atau diam yang lebih menyakitkan.
Sore itu, hujan turun tiba-tiba. Suara rintiknya menghantam atap rumah, menciptakan irama yang anehnya justru membuat suasana semakin sepi. Rena duduk di dekat jendela, memeluk lututnya, menatap keluar tanpa benar-benar melihat.
Ia ingat masa-masa dulu.
Saat hujan seperti ini menjadi alasan untuk duduk berdua, berbagi cerita, atau sekadar diam dalam kehangatan yang sama.
“Kalau hujan gini enaknya makan mie instan,” kata Arga dulu, sambil tersenyum.
Dan Rena akan tertawa, pura-pura mengeluh, lalu tetap memasaknya.
Sekarang, bahkan kenangan itu terasa seperti milik orang lain.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika pintu akhirnya terbuka. Arga masuk dengan wajah lelah, atau mungkin hanya terlihat lelah.
“Kamu belum tidur?” tanyanya.
“Belum,” jawab Rena pelan.
Tidak ada yang bertanya lebih jauh.
Tidak ada yang menjelaskan.
Mereka hidup dalam kalimat-kalimat pendek yang tidak pernah benar-benar selesai.
Rena berdiri, berjalan mendekat.
“Kamu makan?” tanyanya.
“Udah.”
Jawaban yang sama. Selalu sama.
Rena mengangguk, meski di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa semakin jauh.
Ia ingin bertanya lebih banyak. Ingin tahu Arga ke mana, dengan siapa, atau kenapa ia berubah. Tapi setiap kali kata-kata itu hampir keluar, ada sesuatu yang menahannya.
Mungkin takut.
Mungkin lelah.
Atau mungkin… ia sudah tahu jawabannya.
Hari demi hari berlalu dengan pola yang sama. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada drama yang meledak-ledak. Hanya keheningan yang perlahan menggerogoti apa yang dulu mereka sebut sebagai cinta.
Sampai suatu malam, Rena akhirnya tidak bisa lagi berpura-pura.
“Ada yang berubah, ya?” tanyanya tiba-tiba.
Arga yang sedang membuka laptop berhenti sejenak. “Maksudnya?”
“Kita.”
Satu kata itu terasa berat.
Arga menghela napas. “Kamu aja yang terlalu mikir.”
Jawaban itu seperti pintu yang ditutup pelan… tapi tidak pernah dibuka lagi.
Rena tersenyum tipis. Bukan karena ia setuju, tapi karena ia tahu—percakapan ini tidak akan ke mana-mana.
Dan mungkin, itu yang paling menyakitkan.
Bukan karena mereka bertengkar.
Tapi karena mereka berhenti mencoba.
Waktu terus berjalan, dan tanpa mereka sadari, jarak di antara mereka semakin nyata. Mereka masih tinggal di rumah yang sama, tapi hidup di dunia yang berbeda.
Rena mulai berhenti menunggu.
Berhenti bertanya.
Berhenti berharap.
Dan di saat itulah, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia cari.
Sebuah pesan.
Di layar ponsel Arga yang tertinggal di meja.
“Aku nyaman sama kamu.”
Nama pengirimnya bukan miliknya.
Tidak ada kata-kata panjang. Tidak ada bukti yang mencolok.
Tapi cukup.
Lebih dari cukup.
Rena menatap layar itu lama. Tangannya tidak gemetar. Air matanya tidak langsung jatuh.
Karena rasa sakit yang terlalu dalam… sering kali datang tanpa suara.
Ia meletakkan ponsel itu kembali, persis seperti semula.
Tidak mengubah apa pun.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.