Retak Yang Di Balik Janji

Arifin
Chapter #3

#3 Hari Demi Hari Berlalu

Hari-hari setelah kepergian Rena terasa jauh lebih panjang dari biasanya.


Rumah itu masih sama—tidak ada yang berubah secara fisik. Kursi tetap di tempatnya, meja makan masih rapi, dan cangkir yang dulu sering digunakan berdua masih tersusun di rak yang sama.


Tapi suasananya… berbeda.


Terlalu sepi.


Arga mulai menyadari hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan. Lampu dapur yang selalu menyala lebih lama dari seharusnya. Aroma sabun yang khas di kamar mandi. Bahkan suara langkah kaki Rena yang dulu terasa biasa… kini menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.


Ia mencoba menjalani hari seperti biasa.


Bangun pagi.


Pergi kerja.


Pulang malam.


Tapi tidak ada lagi yang menunggunya.


Dan anehnya, justru itu yang paling terasa.


Suatu malam, Arga duduk sendirian di ruang tamu. Televisi menyala, tapi ia tidak benar-benar menonton. Pikirannya penuh dengan potongan-potongan kenangan yang datang tanpa diundang.


Tawa Rena.


Cara Rena memanggil namanya.


Dan bagaimana Rena selalu ada… bahkan saat ia sendiri tidak berusaha untuk hadir.


Arga menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menghindar dari kenyataan—


ia kehilangan seseorang yang selama ini ia anggap akan selalu ada.


Sementara itu, Rena mencoba memulai hidup baru.


Tidak mudah.


Sangat tidak mudah.


Hari pertama di tempat baru terasa asing. Tidak ada rutinitas lama, tidak ada kebiasaan yang familiar. Bahkan hal-hal sederhana seperti bangun pagi atau makan malam terasa berbeda.


Ia sering terbangun di tengah malam, tanpa alasan yang jelas.


Kadang karena mimpi.


Kadang karena ingatan.


Kadang hanya karena perasaan kosong yang datang tiba-tiba.


Tapi setiap kali itu terjadi, Rena hanya menarik napas panjang… dan mencoba kembali tidur.


Ia tidak ingin kembali ke masa lalu.


Bukan karena ia tidak merindukan.


Tapi karena ia tahu—


tidak semua yang dirindukan… layak untuk diperjuangkan kembali.


Hari demi hari berlalu.


Rena mulai menemukan ritmenya sendiri.


Ia mulai menikmati waktu sendirian. Mulai melakukan hal-hal yang dulu tertunda. Membaca buku yang lama ingin ia selesaikan. Pergi ke tempat-tempat yang dulu hanya ia rencanakan.


Dan perlahan, ia mulai merasa… cukup.


Bukan bahagia yang meluap.


Tapi tenang.


Dan itu sudah lebih dari cukup.


Di sisi lain, Arga mulai mencoba memperbaiki semuanya.


Ia mengirim pesan.


Tidak dibalas.


Ia mencoba menelepon.


Tidak diangkat.


Ia bahkan pernah datang ke tempat Rena.


Tapi tidak berani mengetuk pintu.


Karena untuk pertama kalinya, ia merasakan apa yang dulu Rena rasakan—


ragu.


Takut ditolak.


Dan merasa… mungkin sudah terlambat.


Waktu terus berjalan.


Sampai suatu hari, tanpa rencana, mereka bertemu.


Bukan di tempat yang spesial.


Bukan di momen yang dramatis.


Hanya di sebuah tempat sederhana—kedai kopi kecil di sudut kota.


Rena sedang duduk sendiri, membaca buku.


Arga masuk… dan berhenti.


Mata mereka bertemu.


Waktu seolah berhenti sejenak.


“Rena…” ucap Arga pelan.


Rena menutup bukunya. Wajahnya tenang. Tidak terkejut, tidak panik.


“Hai,” jawabnya singkat.


Tidak ada pelukan.


Tidak ada tangisan.


Hanya dua orang yang pernah sangat dekat… kini berdiri dengan jarak yang tak terlihat.


“Boleh duduk?” tanya Arga.


Rena mengangguk pelan.


Mereka duduk berhadapan.


Persis seperti dulu.


Tapi rasanya… tidak lagi sama.


“Apa kabar?” tanya Arga.


“Baik,” jawab Rena.


Kali ini, jawaban itu benar.


“Kerjaannya gimana?”


“Lancar.”


Percakapan mereka terasa kaku.


Seperti dua orang asing yang mencoba menemukan topik.


Padahal dulu, mereka tidak pernah kehabisan cerita.


Arga menatap Rena lebih lama.


“Aku kangen kamu,” katanya akhirnya.


Rena terdiam sejenak.


Kalimat itu dulu akan membuat hatinya bergetar.

Lihat selengkapnya