Hari-hari terus berjalan dengan ritme yang semakin tenang.
Tidak ada lagi gejolak besar.
Tidak ada lagi pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban.
Rena menjalani hidupnya seperti seseorang yang akhirnya berdamai dengan masa lalu. Ia tidak lagi mencoba memahami “kenapa semuanya terjadi seperti itu.” Ia hanya menerima bahwa semua yang terjadi… memang bagian dari perjalanan yang harus ia lewati.
Pagi baginya kini sederhana.
Bangun tanpa beban.
Menjalani hari tanpa bayangan.
Dan pulang tanpa perasaan kosong.
Suatu pagi, Rena berdiri di depan cermin.
Ia menatap dirinya sendiri lebih lama dari biasanya.
Bukan untuk mencari kekurangan.
Bukan untuk mengingat luka.
Tapi untuk mengenali.
Dan ia tersenyum.
Karena untuk pertama kalinya, ia merasa cukup… dengan dirinya sendiri.
Di sisi lain, Arga juga mulai menemukan ketenangan yang sama.
Ia tidak lagi mengisi hari dengan penyesalan.
Tidak lagi mengulang-ulang kesalahan di kepalanya.
Ia mulai fokus pada apa yang ada di depannya.
Pekerjaan.
Kehidupan.
Dan dirinya sendiri.
Ia belajar satu hal yang sederhana, tapi tidak mudah—
bahwa memaafkan diri sendiri… adalah bagian dari proses.
Waktu terus berjalan, dan tanpa mereka sadari, kenangan yang dulu terasa berat kini mulai terasa ringan.
Bukan karena hilang.
Tapi karena sudah ditempatkan di tempat yang seharusnya.
Sebagai masa lalu.
Suatu sore, Rena kembali duduk di dekat jendela, menikmati hujan yang turun perlahan.
Sama seperti dulu.
Tapi kali ini, tidak ada rasa menunggu.
Tidak ada harapan yang menggantung.
Ia hanya menikmati suara hujan… seperti apa adanya.
Dan dalam diam itu, ia menyadari sesuatu—
ia tidak lagi merindukan Arga seperti dulu.
Bukan karena ia berhenti peduli.
Tapi karena ia sudah selesai.
Arga pun begitu.
Suatu malam, ia membuka laci lama yang jarang ia sentuh.
Di dalamnya, masih ada beberapa benda kecil.
Foto.
Tiket lama.
Dan beberapa catatan yang dulu mereka buat.
Ia mengambil salah satu.
Membacanya pelan.
Dan tersenyum.
Tidak ada rasa sakit.
Tidak ada sesak.
Hanya ada rasa… hangat yang tenang.
“Lucu ya,” gumamnya pelan. “Kita pernah sebahagia itu.”
Ia meletakkan kembali semua itu.
Tidak dibuang.
Tidak juga disimpan terlalu dalam.
Hanya… dibiarkan ada.
Dan di situlah mereka sampai pada titik yang sama—
titik di mana kenangan tidak lagi menyakitkan.
Titik di mana masa lalu tidak lagi menahan langkah.
Titik di mana mereka bisa melihat ke belakang… tanpa ingin kembali.
Mereka tidak lagi saling mencari.
Tidak lagi saling menunggu.
Tapi juga tidak saling membenci.
Karena apa yang pernah mereka miliki…
tidak pernah salah.
Hanya saja, waktunya sudah selesai.
Suatu hari, Rena berjalan melewati tempat yang dulu sering ia kunjungi bersama Arga.
Ia berhenti sejenak.
Menatap.
Dan menarik napas pelan.