Reuni di Pulau Sembah

Langit Berawan
Chapter #1

BAB 1: KEBERANGKATAN YANG GANJIL

Sinar matahari sore di pelabuhan kecil pinggiran Jakarta terasa gerah dan lengket, namun suasana itu tidak menyurutkan keriuhan tujuh orang yang sudah tiga tahun tidak bertatap muka secara lengkap. Sejak lulus dari Unas, kesibukan masing-masing telah membangun tembok jarak yang tinggi. Hari ini, tembok itu runtuh oleh ambisi Ijul, sang ketua rombongan yang kini berprofesi sebagai konten kreator travel-horror yang haus akan viewer.

"Oke, guys! Check this out! Kita lagi di dermaga menuju destinasi paling eksklusif tahun ini!" seru Ijul ke arah kamera ponselnya yang bertengger di atas stabilizer. Ia memutar tubuhnya, memperlihatkan latar belakang laut yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. "Kita bakal reuni di sebuah pulau pribadi. Namanya Pulau Sembah. Dalam bahasa kuno, ‘sembah’ artinya hormat, menyembah, atau menyerah diri. Keren banget, kan? Hidden gem yang bahkan Google Maps pun ragu buat nampilin!"

"Jul, fokus dong! Ini tas gue berat banget, bantuin napah!" keluh Intan. Gadis itu tampil kontras dengan lingkungan pelabuhan yang kumuh; mengenakan dress pantai desainer dan kacamata hitam besar, seolah-olah ia sedang menuju resor mewah di Maladewa, bukan sebuah pulau antah berantah.

Bagus, yang bertubuh paling atletis di antara mereka, segera mengambil alih koper Intan dengan sigap. "Sini, Tan. Biar gue yang bawa. Lo fokus jaga keseimbangan aja di dermaga kayu yang lapuk ini."

Di sudut lain, Dodit sibuk membongkar tas ranselnya yang menggembung. Bukannya buku atau baju ganti yang banyak, isinya adalah tumpukan mie instan, berbagai jenis keripik, dan botol-botol minuman bersoda. "Gue denger di pulau itu nggak ada warung, ya? Jadi gue sedia payung sebelum hujan. Kalau kita kejebak badai, setidaknya perut gue aman," gumamnya sambil mengunyah sebatang cokelat.

Supri, si mahasiswa teknik yang kini bekerja di perusahaan konstruksi, sibuk menatap layar tabletnya. Alisnya berkerut dalam. "Aneh... sinyal GPS di sini unreliable banget. Tadi katanya koordinatnya di sebelah utara Pulau Seribu, tapi barusan titiknya lompat ke arah laut dalam. Mungkin ada gangguan geomagnetik di sekitar Pulau Sembah itu."

Berbeda dengan teman-temannya yang sibuk, Danu hanya berdiri mematung di ujung dermaga. Matanya yang tajam menatap ke cakrawala, di mana sebuah bayangan daratan kecil mulai terlihat samar di balik kabut tipis. Danu memiliki intuisi yang tajam, sebuah "bakat" yang sering membuatnya dianggap aneh semasa kuliah. Ia merasa angin yang berhembus dari arah pulau itu tidak membawa aroma garam laut yang segar, melainkan bau anyir yang samar, seperti besi berkarat atau... darah kering.

"Nu, kamu pucat," suara lembut Murni mengejutkannya. Gadis itu berdiri di samping Danu, menggenggam tasbih kayu di saku gamisnya. Murni adalah sosok yang paling religius di antara mereka, pembawa kedamaian yang sering menengahi pertengkaran Ijul dan Dodit.

"Aku cuma kurang tidur, Mur," jawab Danu singkat, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. "Cuma... pulau itu. Kamu ngerasa nggak kalau dia kayak lagi... manggil kita?"

Murni tidak menjawab, tapi jemarinya bergerak lebih cepat menghitung butiran tasbih di dalam sakunya.

Tiba-tiba, suara deru mesin diesel tua yang batuk-batuk memecah percakapan mereka. Sebuah boat kayu berukuran sedang, dengan cat mengelupas dan kayu yang menghitam karena lumut, mendekat ke dermaga. Di atasnya berdiri seorang pria paruh baya dengan kaos oblong kumal dan topi caping. Kulitnya legam terbakar matahari, dan mata kirinya tertutup selaput putih katarak yang mengerikan.

"Itu Pak Atep," bisik Ijul sambil mengecek pesanan online-nya di aplikasi. "Dia pemilik boat tunggal yang melayani rute ke Pulau Sembah. Gue udah bayar mahal buat antar-jemput kita."

Lihat selengkapnya