Langkah kaki ketujuh alumni Unas itu terasa berat saat menapaki jalan setapak berbatu yang membelah hutan kamboja menuju bangunan utama. Di depan mereka, Villa Winarsih berdiri angkuh dengan arsitektur kolonial yang memudar; cat putihnya mengelupas seperti kulit yang membusuk, meninggalkan noda keabu-abuan yang suram. Pepohonan tua yang rimbun di sekelilingnya seolah sengaja membungkuk, ranting-rantingnya yang tanpa daun mencakar langit yang mulai menggelap, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menyerupai jemari raksasa.
Danu berjalan paling belakang, sengaja menjaga jarak dari keriuhan teman-temannya. Sejak kakinya menyentuh tanah Pulau Sembah, indra keenamnya yang selama ini ia coba tekan kuat-kuat mulai berteriak. Udara di sini terasa sangat padat, seolah-olah setiap oksigen yang ia hirup membawa partikel debu dari masa lalu yang tidak tenang.
"Ayo, Nu! Jangan melamun terus," seru Ijul sambil sesekali mengarahkan kamera ponselnya ke arah bangunan. Ijul tampak sangat bersemangat, kontras dengan suasana sekitar yang mencekam. "Lihat deh, vibe-nya dapet banget buat konten! Bintang lima nih lokasinya!"
Danu hanya mengangguk kecil tanpa suara. Matanya tidak tertuju pada megahnya bangunan itu, melainkan pada sesosok pria yang berdiri di bayang-bayang pilar teras. Pria itu adalah Yayan, penjaga villa yang sudah disebutkan Pak Atep tadi. Tubuhnya kurus kering dengan pakaian serba hitam yang tampak kebesaran. Ekspresinya datar, matanya cekung dengan pandangan yang kosong namun tajam.
Yayan menghampiri mereka tanpa sepatah kata pun. Ia mulai mengambil koper-koper besar milik Intan dan Bagus seolah-olah beban itu tidak ada artinya. Gerakannya mekanis, kaku, dan dingin. Saat tangan Yayan yang kasar tanpa sengaja bersentuhan dengan lengan Danu ketika mengambil tas ranselnya, Danu tersentak. Kulit pria itu terasa sedingin es, tidak ada denyut hangat kehidupan di sana. Danu segera menarik tangannya, memendam rasa ngerinya dalam-dalam.
"Selamat datang," sebuah suara lembut namun memiliki nada yang menggetarkan gendang telinga terdengar dari balik pintu jati besar yang terbuka perlahan.
Winarsih muncul dari kegelapan ruang tamu. Wanita itu mengenakan kebaya hijau zamrud yang sangat pas di tubuhnya yang masih terlihat tegak meski usianya tak lagi muda. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan tusuk konde perak berbentuk ular yang melilit. Namun, yang paling menarik perhatian Danu adalah auranya.
Bagi orang awam seperti Ijul atau Dodit, Winarsih mungkin hanyalah pemilik villa yang ramah dan anggun. Namun di mata Danu, wanita itu dikelilingi oleh kabut tipis berwarna keunguan yang pekat—sebuah aura mistis yang sangat kuat dan berbau kematian. Setiap kali Winarsih melangkah, Danu merasa suhu di sekitarnya turun drastis. Ada sesuatu yang mengikuti wanita itu, sesuatu yang tidak kasat mata namun memberikan tekanan batin yang luar biasa pada Danu.
"Terima kasih sudah memilih tempat saya untuk reuni kalian," Winarsih tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya yang hitam pekat. "Silakan masuk. Kamar-kamar sudah disiapkan. Makan malam akan disajikan sebentar lagi."
"Wangi bunganya enak banget ya, Tante," celetuk Intan sambil menghirup aroma yang memenuhi ruangan.