Reuni di Pulau Sembah

Langit Berawan
Chapter #3

BAB 3: PENEMUAN MAKAM TANPA NAMA

Sore itu, matahari di Pulau Sembah tidak tenggelam dengan megah, melainkan perlahan ditelan oleh kabut abu-abu yang merayap dari arah hutan kamboja. Di dalam villa, ketegangan mulai terasa meski teman-temannya mencoba bersikap normal. Supri masih sibuk mengutak-atik tabletnya di ruang tengah, sementara Dodit sudah mulai membongkar persediaan camilan di meja makan kayu yang panjang.

Danu merasa dadanya sesak. Ia membutuhkan udara segar, atau setidaknya, setitik sinyal ponsel untuk sekadar memastikan dunia luar masih ada. Ia melangkah keluar dari teras samping, melewati barisan pohon kamboja yang aromanya kini terasa lebih busuk daripada wangi. Tanpa sadar, kakinya membawanya menjauh dari bangunan utama, melewati batas pagar tanaman yang sudah mati.

Ia teringat peringatan Pak Atep tentang "tanah merah", namun rasa frustasinya terhadap hilangnya sinyal ponsel mengalahkan akal sehatnya. Sinyal ponsel umumnya sulit menembus lapisan tanah atau beton tebal, dan Danu berharap dengan berjalan ke area yang lebih terbuka di belakang villa, ia bisa mendapatkan satu atau dua batang sinyal. 

Namun, semakin ia melangkah, tekstur tanah di bawah kakinya berubah. Tanah yang tadinya berpasir dan kering kini menjadi lembap dan berwarna kemerahan pekat—seperti hati ayam yang baru saja dikeluarkan dari tubuhnya. Bau anyir besi mendadak menyerang indra penciumannya.

Danu berhenti tepat di depan sebuah gundukan tanah yang tidak wajar. Di tengah area terlarang itu, berdiri sebuah nisan kayu tua yang sudah mulai melapuk. Nisan itu tidak memiliki nama, hanya guratan-guratan kasar yang menyerupai simbol-simbol aneh. Yang membuatnya bergidik adalah selembar kain kafan yang sudah menguning dan sobek, melilit kayu nisan itu seperti sebuah syal yang ditinggalkan oleh pemiliknya.

"Astaga..." bisik Danu pelan.

Angin tiba-tiba berhembus kencang, menggoyangkan kain kafan tersebut hingga menimbulkan suara kepakan yang menyeramkan. Danu merasa seolah-olah ada ribuan pasang mata yang mengawasinya dari balik rimbunnya pepohonan kamboja. Keheningan di tempat itu begitu pekat, hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup tidak beraturan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru dan derak ranting patah memecah kesunyian.

"WOI! NU! LO NEMU APAAN?!"

Danu meloncat kaget. Ia berbalik dan melihat Ijul berlari ke arahnya dengan kamera ponsel yang sudah terpasang di atas stabilizer. Lampu LED dari ponsel Ijul menyambar gundukan tanah merah itu dengan cahaya putih yang menyilaukan.

"Gila! Nu, lo jenius!" seru Ijul dengan wajah berbinar penuh nafsu konten. "Gue dari tadi nyari spot buat uji nyali, eh lo malah udah nemu makam keramat di sini! Lihat nih, guys!" Ijul berbicara ke arah kameranya seolah-olah sedang menyiarkan siaran langsung, padahal sinyal sama sekali tidak ada. "Gue bareng Danu nemu makam tanpa nama di area terlarang Pulau Sembah. Tanah di sini beneran merah darah! Gokil nggak tuh?"

Lihat selengkapnya