Menjelang magrib, suasana di Pulau Sembah berubah menjadi keemasan yang mati. Cahaya matahari yang redup menyapu dinding-dinding Villa Winarsih, memberikan kesan seolah bangunan itu sedang terbakar pelan dalam keheningan. Burung-burung malam mulai bersahutan, suaranya melengking aneh, tidak seperti kicauan burung pada umumnya—lebih mirip rintihan yang tertahan di tenggorokan.
Murni merasa tubuhnya sangat lengket. Debu dari dermaga dan aroma kamboja yang menempel di pakaiannya membuatnya merasa tidak nyaman. Sebagai sosok yang paling menjaga kebersihan dan kesucian, ia memutuskan untuk mandi sebelum waktu magrib benar-benar masuk. Ia ingin menyegarkan diri agar bisa melaksanakan salat dengan khusyuk di tengah suasana villa yang mulai terasa "berat".
"Mur, beneran mau mandi sekarang? Bentar lagi magrib lho," tegur Intan yang sedang sibuk memoles kutek di ruang tengah. "Kata orang tua dulu, pamali mandi pas senja begini di tempat asing."
Murni tersenyum tipis, mencoba menenangkan kegelisahan sahabatnya. "Nggak apa-apa, Tan. Justru biar segar pas salat nanti. Kamu jangan sendirian di sini, ajak yang lain ya."
Murni melangkah menuju kamar mandi di ujung lorong lantai satu. Kamar mandi itu sangat luas dengan ubin keramik tua yang retak di sana-sini. Sebuah bak mandi besar dari batu alam berdiri di sudut, berisi air yang tampak jernih dan tenang. Di atasnya, terdapat sebuah celah ventilasi kecil yang terbuka, memperlihatkan langit yang mulai berubah menjadi ungu pekat.
Murni mulai melepas pakaiannya dan menggantungnya di balik pintu kayu yang berat. Ia mengambil gayung plastik berwarna putih dan mulai menyiramkan air ke tubuhnya.
Byur.
Airnya terasa dingin dan sangat menyegarkan. Murni memejamkan mata, menikmati sensasi dingin yang membasuh kelelahannya. Namun, saat ia mulai menyabun tubuhnya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Udara di dalam kamar mandi yang tadinya lembap biasa, mendadak berubah menjadi sangat dingin hingga pori-porinya meremang.
Ia merasa seolah-olah ada sepasang mata yang mengintipnya.
Murni mendongak, menatap ke arah celah ventilasi di atas. Di sana, di kegelapan yang mulai menebal, ia melihat bayangan dua titik putih yang memantulkan sedikit cahaya—seperti mata kucing, namun posisinya terlalu tinggi. Titik itu diam, tidak berkedip, menatap tepat ke arahnya.
"Siapa di sana?!" seru Murni dengan suara bergetar.
Keheningan menjawabnya. Titik cahaya itu menghilang dengan cepat, seolah-olah pemiliknya baru saja melompat turun dari dinding luar. Jantung Murni berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin itu hanya musang atau hewan liar pulau.
Ia mempercepat mandinya. Ia ingin segera keluar dari ruangan yang kini terasa sangat sempit itu. Ia mengambil gayung untuk siraman terakhir guna membilas sisa sabun di bahunya. Ia menciduk air dari bak batu dengan gerakan terburu-buru.
Namun, saat gayung itu terangkat ke depan wajahnya, Murni membeku.
Air di dalam gayung itu tidak lagi jernih. Cairan di dalamnya kental, berwarna merah pekat, dan mengeluarkan bau anyir yang sangat menyengat—bau karat darah yang baru saja keluar dari luka segar. Murni menatap bak mandi di bawahnya; air yang tadinya jernih kini berubah menjadi kolam darah yang berbuih.