Kegelapan telah menelan Pulau Sembah sepenuhnya. Di luar villa, suara ombak yang menghantam karang terdengar seperti geraman binatang buas yang sedang mengintai. Namun, di dalam ruang makan Villa Winarsih, suasana tampak kontras. Lampu gantung kristal yang tadinya redup kini menyala benderang, memantulkan cahaya pada meja kayu jati panjang yang telah tertutup taplak putih bersih.
Winarsih keluar dari arah dapur dengan langkah anggun, diikuti oleh Yayan yang membawa nampan-nampan besar. Aroma masakan segera memenuhi ruangan—bau rempah yang kuat, harum santan yang gurih, dan aroma daging panggang yang menggugah selera.
"Silakan duduk, anak-anak manis. Kalian pasti lapar setelah perjalanan jauh," ujar Winarsih dengan senyum yang terkembang lebar. Gincu merahnya tampak semakin menyala di bawah cahaya lampu.
Dodit, yang sedari tadi perutnya sudah berbunyi, adalah yang pertama menarik kursi. Matanya berbinar melihat hidangan di depannya: rendang daging yang hitam pekat, ayam goreng bumbu kuning, dan sayur lodeh yang mengepulkan uap panas. "Wah, Tante! Ini mah pesta namanya! Makasih banyak ya, Tante Winarsih," seru Dodit sambil segera menyambar piring.
Ijul juga tidak mau ketinggalan. Meski tadi sempat tegang karena urusan makam, bau makanan ini seolah menghapus ketakutannya. Ia segera menyalakan kembali kameranya yang entah bagaimana tiba-tiba bisa menyala lagi. "Guys, lihat nih! Hospitality di Villa Winarsih juara banget! Makanannya otentik masakan rumahan!"
Namun, Danu hanya terpaku di kursinya. Ia menunduk menatap piring kosong di depannya. Saat ia mencoba melihat ke arah rendang yang diambil Dodit, pandangannya mendadak bergetar. Dalam sekejap mata, citra rendang yang lezat itu berubah di matanya. Apa yang ia lihat bukanlah daging matang berbumbu, melainkan potongan daging mentah yang masih berdenyut, berlumuran darah segar yang kental, dan dikerumuni oleh belatung-belatung putih kecil yang menggeliat.
Danu mengerjap, mencoba menepis penglihatan itu. Ia menggelengkan kepala, dan makanan itu kembali tampak normal. Namun, setiap kali ia mencoba menyuap, aroma rempah itu di hidungnya berubah menjadi bau bangkai yang busuk.
"Danu, kenapa nggak makan? Nanti sakit lho," tanya Murni lembut. Murni sendiri hanya mengambil sedikit sayur dan nasi, masih merasa mual setelah kejadian di kamar mandi.
"Aku... aku belum lapar, Mur," jawab Danu singkat. Ia melirik ke arah sudut ruangan. Di sana, Kurnia duduk di atas kursi kayu kecil, membelakangi mereka. Anak itu mulai menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan secara ritmis.
Tiba-tiba, suara nyanyian lirih keluar dari bibir Kurnia. Ia menyanyikan sebuah lagu nina bobo dalam bahasa daerah yang sangat kuno dan serak.
"Lir-ilir, luluné mati... Tak lelo lelo ledung... Sembah dumateng Ibu... Sing nunggu tanah abang..."
Nada lagu itu sangat mendayu namun memiliki frekuensi yang membuat telinga berdenging. Suasana di meja makan mendadak hening. Bulu kuduk Danu berdiri sempurna. Nyanyian itu terdengar seperti sebuah mantra pemanggil, bukan lagu pengantar tidur.