Kegelapan di Pulau Sembah malam itu terasa tidak alami. Seolah-olah malam telah berubah menjadi zat cair yang kental, dingin, dan menekan dada siapa pun yang berani terjaga. Di dalam Villa Winarsih, ketujuh alumni Unas itu berkumpul di kamar Danu yang menghadap langsung ke arah hutan kamboja dan area tanah merah. Lampu minyak sengaja dimatikan agar keberadaan mereka tidak terdeteksi dari luar.
Danu berdiri di dekat celah jendela kayu yang sedikit terbuka, diikuti oleh Bagus dan Ijul. Di belakang mereka, Murni terus memeluk tasbihnya dengan bibir yang gemetar tanpa suara, sementara Intan dan Supri duduk merapat di atas ranjang, tidak berani melihat ke luar.
"Lihat itu..." bisik Danu. Suaranya nyaris hilang ditelan desau angin.
Di bawah sana, di area makam tanpa nama yang tertutup kain kafan kuning, cahaya kemerahan mulai berpendar. Cahaya itu bukan berasal dari lampu atau api, melainkan seperti uap yang keluar dari pori-pori tanah merah. Tiga sosok manusia berdiri mengelilingi gundukan tanah tersebut.
Winarsih berdiri di posisi paling depan, mengenakan jubah hitam yang melambai-lambai diterpa angin kencang. Di sebelah kanannya, Yayan berdiri mematung dengan memegang sebuah kendi tanah liat. Dan di sebelah kirinya, sosok yang membuat mereka semua tersentak kaget: Atep.
"Pak Atep?!" seru Ijul tertahan. "Bajingan itu... dia bilang dia balik ke dermaga! Dia nggak pernah pergi dari pulau ini!"
Atep tidak lagi mengenakan topi capingnya. Kepalanya yang botak bersinar di bawah cahaya bulan yang pucat. Ia memegang sebilah parang besar yang masih basah, seolah baru saja digunakan untuk menyembelih sesuatu.
Winarsih mulai mengangkat kedua tangannya ke langit. Ia meracaukan mantra dalam bahasa yang sangat tua, suaranya melengking dan pecah, bersahutan dengan suara burung hantu yang hinggap di pohon kamboja raksasa.
"Dengar..." bisik Danu.
Dari arah makam, terdengar suara geraman rendah. Tanah merah itu mulai bergerak-gerak, bergelombang seperti air yang mendidih. Winarsih kemudian menerima sebuah benda dari Atep. Itu adalah kaos kutang milik Dodit yang masih berlumuran darah dan lendir hijau dari kejadian semalam.
Winarsih meletakkan kaos itu tepat di atas nisan kayu tanpa nama. Ia mulai menyiramkan isi kendi yang dibawa Yayan ke atas kaos tersebut. Cairan itu berwarna hitam pekat dan berbau sangat busuk—bahkan baunya sampai menembus celah jendela kamar mereka di lantai dua.
"Metuo... Metuo si jabang bayi tanah abang... Paringi pangan, paringi nyowo..." (Keluarlah... Keluarlah jabang bayi tanah merah... Berilah makan, berilah nyawa...)
Seketika, kaos milik Dodit itu mulai bergerak sendiri. Seolah-olah ada sosok tak kasat mata yang memakainya. Kaos itu menggelembung, lalu tiba-tiba terkoyak menjadi dua. Dari dalam lubang galian di depan nisan, sebuah tangan muncul. Bukan tangan manusia, melainkan tangan yang kurus panjang dengan kulit yang mengelupas dan kuku-kuku yang menghitam.
Tangan itu mencengkeram tanah merah, mencoba menarik tubuhnya keluar dari perut bumi.
"Astaga... mereka lagi bangkitin 'sesuatu' pakai barang milik Dodit!" Bagus mengepalkan tinjunya. "Pantas aja Dodit jadi kayak mayat hidup di kamar sebelah. Jiwanya ditarik buat jadi bahan bakar makhluk itu!"
Di bawah sana, Winarsih tertawa melengking. Ia mengambil sebuah keris kecil dan menyayat telapak tangannya sendiri, membiarkan darahnya menetes ke arah tangan misterius yang muncul dari tanah tersebut. Begitu darah Winarsih menyentuh tanah, tanah merah itu mendadak mengeluarkan suara jeritan ribuan jiwa yang tersiksa.