Mendung tebal di atas Pulau Sembah mendadak turun, memerangkap udara dalam keheningan yang menyesakkan. Kabut kelabu merayap cepat menembus celah pepohonan kamboja, membawa aroma kayu lapuk dan kapur tulis yang menyengat indra penciuman. Di punggung bukit yang terisolasi, sebuah bangunan kayu tua berdiri kokoh dengan atap seng yang sudah berkarat hitam.
Bagus mendorong pintu kayu bangunan itu hingga terbuka dengan derit keras yang memilukan. "Masuk, cepat! Badai di luar bisa bikin kita mati konyol!" serunya sambil memapah Intan yang kakinya kian lunglai.
Murni dan Dodit bergegas masuk ke dalam, diikuti oleh riap angin dingin yang menusuk tulang. Mereka terengah-engah, mencoba mengusir rasa mencekik yang sejak tadi bergelayut di dada mereka setelah terpisah dari Danu dan Supri.
"Tempat apa ini, Gus?" bisik Dodit dengan suara gemetar, matanya liar memandangi sekitar. "Kok kayak... ruang kelas sekolah dasar zaman dulu?"
Di dalam ruangan itu berjejer belasan meja dan kursi kayu kecil yang permukaannya sudah berjamur pekat. Sebuah papan tulis hitam besar tergantung di dinding depan, dipenuhi coretan kapur putih yang kusam dan berdebu.
Supri yang seharusnya menganalisis bangunan ini tidak ada, membuat keheningan di kelas itu terasa makin janggal. Logika mereka kini sepenuhnya tumpah pada rasa takut yang menggulung.
"Lihat papan tulisnya, Gus," suara Murni tercekat di tenggorokan, tangannya menunjuk dengan jemari bergetar.
Bagus melangkah mendekat, mengarahkan senter tuanya ke arah tulisan kapur yang berantakan tersebut. Di sana tertera puluhan nama orang dengan format penulisan yang teramat rapi.
"Roni – Angkatan 1982. Siska – Angkatan 1985," Bagus mengeja tulisan itu dengan dahi berkerut dalam. "Ini... nama-nama mahasiswa Universitas Terbuka yang dikabarkan hilang puluhan tahun lalu."
"Bukan cuma mereka, Gus," sela Murni yang kini sudah berdiri di dekat meja guru yang lapuk di sudut ruangan.
Tangan Murni yang gemetar perlahan membuka sebuah buku absen bersampul kertas cokelat yang sudah robek-robek. Lembarannya yang menguning mengeluarkan bau apek yang teramat pekat.
"Maksud lo apa, Mur?" tanya Dodit, melangkah mendekat dengan langkah kaku dan wajah seputih kain kafan.
Murni tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan hanya menunjuk halaman terakhir dari buku absen kuno tersebut.
Di sana, tertulis tujuh nama dengan tinta merah darah yang masih tampak basah ganjil: Danu, Bagus, Ijul, Murni, Supri, Dodit, Intan.