"Lepasin gue, Gus! Sakit, bangsat!" jerit sebuah suara parau dari dalam kegelapan gudang belakang kelas.
Bagus tersentak, senter tuanya langsung menembak ke arah tumpukan kursi patah di pojok ruangan pengap itu. Di sana, sesosok pria sedang meringkuk dengan tubuh gemetar hebat dan wajah belepotan debu hitam.
"Ijul?!" teriak Dodit, matanya melotot tidak percaya melihat sahabatnya yang sempat hilang kini ada di depan mata.
Bagus melangkah kasar, mencengkeram kerah jaket yang dikenakan pria itu lalu menyeretnya paksa ke bawah temaram lampu kelas. Namun, langkah Bagus mendadak tertahan saat matanya menangkap sesuatu yang janggal pada pakaian yang dikenakan Ijul.
"Ini... bukan jaket lo, Jul," desis Bagus, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya.
Jaket jepret berbahan parasut biru tua itu terlihat terlalu besar di tubuh Ijul, lengkap dengan emblem nama di dada kanan: Rian – Unas 2021.
"Lo dapet dari mana jaket ini, Jul?! Rian itu mahasiswa yang tertulis mati di papan tulis depan!" bentak Bagus gila, ia mengguncang keras tubuh Ijul.
Ijul hanya menunduk dalam, air matanya menetes ganjil membasahi emblem nama milik orang mati tersebut. "Maafin gue, Gus... Gue nggak punya pilihan lain... Gue kepepet..."
"Kepepet apa, bangsat?! Lo hampir bikin kita semua mati dikunci di kelas ini!" amuk Bagus, parang tuanya kini teracung tepat di depan hidung Ijul.
Murni memapah Intan mendekat, wajahnya yang pucat memancarkan kekecewaan yang teramat dalam pada sang ketua rombongan. "Jul, demi Allah, jujur sama kita. Apa yang sebenarnya lo sembunyiin dari Jakarta?"
Ijul tertawa sumbang, sebuah suara tawa putus asa yang terdengar teramat menjijikkan di tengah kepungan arwah tanpa wajah. "Kalian pikir reuni ini gratis? Kalian pikir resor mewah pribadi ini hasil kerja keras gue jadi konten kreator?!"
"Maksud lo apa, Jul?!" teriak Dodit dengan suara melengking panik, tangannya mencengkeram erat lengan baju Bagus agar tidak langsung menebas Ijul.