"Pri, geser sebelah sini!" teriak Danu menembus kabut merah rawa. Air rawa yang pekat setinggi pinggang membuat langkah mereka terasa teramat berat.
Supri terbatuk-batuk hebat sambil mencoba memegangi kacamata retaknya. "Kaki gue kesangkut sesuatu di bawah akar kamboja ini, Nu," sahut Supri serak.
Ia meraba ke dalam air rawa yang terasa hangat dan perih menyengat kulit. Tangannya tidak sengaja menyentuh permukaan keras dari sebuah benda logam.
"Bantu gue tarik jalinan akar besar ini, Nu," ajak Supri lagi.
Danu segera mendekat sambil tetap mencengkeram erat kotak kayu hitamnya. Mereka berdua menarik jalinan akar kamboja tersebut dengan sisa tenaga. Sebuah pintu baja berkarat mendadak menyembul ke permukaan rawa. Benda itu ternyata terkubur sangat dalam di bawah lumpur merah yang pekat.
"Ini pintu bunker militer tua atau apa, Nu?" tanya Supri kebingungan.
"Bukan, coba lo lihat engsel sama bentuk kuncinya," jawab Danu pendek.
Danu membersihkan sisa lumpur rawa menggunakan kaki kanannya yang gemetar. Ada sebuah tuas besi besar yang sudah berkarat hijau di bagian tengahnya.
"Ayo kita putar tuas ini sama-sama, Pri," kata Danu memberi aba-aba.
Mereka mencengkeram tuas itu lalu mendorongnya sekuat tenaga yang tersisa. Pintu baja itu akhirnya terbuka dengan derit keras yang memilukan telinga. Hawa dingin mendadak keluar dari dalam lubang gelap di bawah rawa tersebut. Bau formalin yang sangat menyengat langsung menusuk indra penciuman mereka. Ada juga aroma kertas tua yang sudah membusuk karena kondisi lembap.
"Gue turun duluan, Pri, lo tetep di belakang gue," bisik Danu tegas. Ia menuruni anak tangga besi yang menempel pada dinding beton bunker.
Supri menyusul di belakang sambil menahan napasnya yang terasa kian sesak. Senter kepala Supri menyala redup, membedah kegelapan ruangan bunker beton itu.
Ruangan bawah tanah tersebut berupa koridor panjang yang sangat luas dan dingin. Di kanan kiri mereka terdapat rak-rak kayu besar yang dipenuhi map arsip.
"Tempat apa sebenarnya ini, Nu?" tanya Supri dengan tubuh yang mulai gemetar. Ia melangkah kaku lalu mengambil salah satu map yang paling dekat dengannya. Debu tebal seketika beterbangan saat map kuno itu dibuka secara paksa.
"Lihat logo yang ada di sampul depannya, Pri," tunjuk Danu cepat.
Sebuah lambang bersimbol singa Belanda terukir jelas di atas kertas kusam. Di bawah lambang singa itu, tertulis sebuah nama dengan cetakan tinta emas.
"Van Deventer," Supri mengeja tulisan kuno tersebut dengan dahi berkerut dalam.
"Keluarga Van Deventer? Bukannya mereka konglomerat perbankan global yang terkenal itu?"
Danu menggelengkan kepalanya perlahan dengan wajah yang kian memucat pasi.
"Bukan sekadar bankir biasa, Pri," kata Danu dengan suara serak nyaris habis.
"Coba lo baca dokumen logistik yang ada di baris pertama ini."
Danu menunjuk lembaran surat pembelian tanah kuno yang berangka tahun 1845.
"Mereka sudah membeli Pulau Sembah ini sejak abad ke-19," bisik Supri tidak percaya.
"Untuk apa keluarga konglomerat Belanda beli pulau terpencil kayak gini, Nu?" Mata Supri menyusuri baris demi baris kalimat berbahasa asing di dalam dokumen.