Mendung tebal yang menggantung di atas Pulau Sembah mendadak bergulung turun, membawa kepekatan yang mencekik batin. Angin kencang yang berhembus dari arah pantai utara tidak lagi membawa aroma garam laut yang segar. Udara di sekeliling hutan bagian atas kini dipenuhi oleh bau busuk bunga kamboja yang memadat ganjil.
Bagus merosot bertumpu pada lututnya di atas tanah merah yang lembap dan dingin. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya, membasahi seluruh permukaan kaos kutangnya yang robek. Di punggungnya, tubuh Intan kini terasa berkali-kali lipat lebih berat dari ukuran manusia normal.
"Gus... turunin gue... berat banget ya?" bisik Intan dengan suara yang teramat serak.
Nada suaranya tidak lagi memiliki cengkok manja seperti saat mereka masih kuliah di Unas. Suara itu terdengar sangat monoton, datar, dan bergetar dalam frekuensi yang konstan.
"Nggak, Tan! Gue nggak bakal tinggalin lo!" raung Bagus dengan urat leher menegang gila.
Ia memaksakan seluruh otot kakinya untuk kembali berdiri tegak menahan beban tubuh Intan. Namun, kedua lutut Bagus bergetar hebat seolah-olah ia sedang memikul sebongkah batu karang raksasa.
Murni bergegas mendekat, mengarahkan lampu minyak kecilnya ke arah bagian bawah tubuh Intan. Jeritan ngeri seketika tertahan di tenggorokan Murni saat melihat perubahan yang teramat masif. Tekstur kulit kelabu keras seperti batu kasar yang awalnya hanya mengunci pergelangan kaki Intan, kini telah merambat naik.
Zat batu kusam itu telah menelan seluruh paha hingga mencapai batas pinggang Intan secara merayap. Guratan-guratan halus berwarna merah darah mencuat di sela-sela pori-pori kulit batunya yang pecah-pecah. "Astaghfirullah... proses pembatuannya makin cepat, Gus!" pekik Murni dengan air mata yang mulai menetes.
"Bagus... denger nggak?" sela Intan tiba-tiba, kepalanya terkulai kaku di pundak kiri Bagus.
Sepasang bola matanya yang semula jernih kini mulai dilapisi oleh selaput kelabu yang tipis. Tatapan matanya lurus menatap kosong ke arah tanah merah di bawah kaki mereka.
"Denger apa, Tan? Nggak ada suara apa-apa di sini!" sahut Dodit dengan suara melengking panik.
Dodit berdiri gemetar di samping pohon bambu, tangannya mencengkeram erat sebilah kayu patah. Keheningan hutan atas itu terasa begitu mencekik bagi sisa kewarasan mereka yang kian tipis.
"Pulau ini... jantungnya mompa, Gus... dug... dug... dug..." gumam Intan lambat.
Tubuhnya yang separuh batu mendadak bergetar ganjil, selaras dengan denyutan ghaib dari dalam tanah. Efek samping mengerikan dari kutukan tanah merah itu mulai mengambil alih seluruh saraf batinnya.
"Intan sekarang bisa denger detak kehidupan Pulau Sembah, Mur," bisik Bagus dengan ngeri.