Reuni di Pulau Sembah

Langit Berawan
Chapter #28

BAB 28: LABIRN BAWAH TANAH

Kepingan kabut merah dari hutan bagian atas perlahan terurai, tersedot masuk ke dalam celah-celah tanah yang menganga ganjil. Di bawah runtuhan dahan kamboja tua yang saling membelit, sebuah rongga alami yang gelap gulita menganga lebar di depan mata Bagus dan Murni. Bau lembap batu karang bercampur formalin menyembur keluar dari kedalaman lubang, memicu rasa mual yang luar biasa.

"Gus... lompat ke dalam lubang itu... di bawah aman..." gumam Intan patah-patah dari punggung Bagus.

Kedua kaki batunya yang sudah mengeras hingga pinggang bergetar pelan, menangkap getaran ghaib yang merambat naik dari dasar bumi.

Suara monotonnya terdengar seperti gesekan dua bilah batu kali yang kering di dalam kegelapan hutan.

Bagus tidak memiliki pilihan lain karena sayup-sayup suara langkah kaku Yayan mulai terdengar mendekat dari balik semak.

"Murni, Dodit! Pegang pundak gue, kita merosot bareng-bareng ke bawah!" perintah Bagus dengan urat leher menegang.

Mereka bertiga meluncur jatuh menembus kegelapan rongga tanah, membiarkan tubuh mereka dihantam udara dingin yang pekat.

BRAAAKKK...! Mereka mendarat di atas permukaan lantai batu karang yang basah, licin, dan dilapisi lendir berwarna merah kehitaman.

Bagus segera memeriksa kondisi Intan yang tidak mengeluarkan suara sedikit pun meski benturan keras baru saja terjadi.

Murni menyalakan kembali sisa lampu minyaknya yang untungnya tidak pecah saat mereka meluncur jatuh tadi.

Cahaya kuning redup dari lampu minyak Murni membedah kelebaran ruangan yang ternyata sebuah labirin gua karang raksasa.

Di saat yang bersamaan, dari arah lorong bunker beton di ujung kiri, terdengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa.

"Siapa di sana?! Jangan mendekat!" teriak Bagus gila sambil langsung mengacungkan parang tuanya tinggi-tinggi.

"Gus! Ini gue, Danu!" sebuah teriakan serak membalas dari balik kepekatan kabut lorong bawah tanah tersebut.

Danu muncul menembus kegelapan dengan kemeja yang koyak dan tubuh yang masih basah oleh air rawa merah yang asam.

Di belakangnya, Supri berjalan terseok-seok sambil terus mendekap kotak perkakas besarnya dengan wajah pucat pasi.

"Danu! Supri! Ya Allah, kalian masih hidup!" jerit Murni langsung berlutut lemas di atas lantai gua karang.

"Gue pikir kalian udah mati tenggelam di bawah rawa jahanam itu, Nu!" tangis Dodit pecah kembali sambil memeluk Danu.

Danu hanya mengangguk pelan, matanya langsung tertuju pada kondisi Intan yang separuh tubuhnya sudah mengeras jadi batu.

Lihat selengkapnya