Reuni di Pulau Sembah

Langit Berawan
Chapter #29

Bab 29: Perjamuan Arwah

"Nu, di depan ada cahaya remang-remang!" seru Bagus dengan napas yang memburu parah.

Langkah kaki Bagus terasa semakin berat karena menahan bobot tubuh Intan yang kian mengeras menjadi batu.

Danu yang memimpin di depan segera mempercepat jalannya menembus ujung labirin terowongan gua karang. Mereka semua akhirnya keluar dan menghentikan langkah kaki di sebuah aula gua raksasa yang sangat luas.

Langit-langit gua itu begitu tinggi hingga tidak terjangkau oleh cahaya lampu minyak milik Murni. Hawa dingin yang sangat pekat langsung menyergap kulit mereka, membawa aroma busuk melati dan formalin yang tajam.

Di tengah-tengah aula gua raksasa itu, terdapat sebuah pemandangan yang seketika menyayat hati mereka. Sebuah meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati mewah berdiri dengan sangat kokoh di sana. Di sekeliling meja tersebut, duduk belasan arwah penasaran dalam posisi tegak dan mematung sempurna.

"Ya Allah... mereka semua itu mahasiswa yang hilang dulu, kan?" bisik Murni dengan air mata yang menetes.

Tangan Murni yang gemetar langsung mendekap sisa butiran tasbih kayunya erat-eart ke arah dada. Arwah-arwah itu mengenakan pakaian kusam dari berbagai era angkatan kuliah yang berbeda-beda.

Di salah satu ujung kursi meja jati, duduk sesosok arwah pemuda dengan kemeja lusuh berlogo Unas. Wajah pemuda itu sangat pucat, dengan nama yang samar-samar tertera pada papan nama dadanya: Rian Sanjaya.

Rian duduk membeku dengan tatapan mata kosong yang lurus menatap piring porselen kuno di depannya.

"Nu... lihat apa yang ada di atas piring mereka," gumam Supri dengan suara yang bergetar hebat.

Supri mencengkeram erat lengan kemeja Danu, sisa logikanya kembali terguncang melihat perjamuan abadi tersebut.

Di atas piring porselen kuno itu tidak ada makanan lezat manusia, melainkan gundukan pasir hitam yang pekat.

Arwah-arwah penasaran itu dipaksa bergerak secara mekanis layaknya boneka kayu yang digerakkan kekuatan ghaib. Tangan pucat mereka menyendok pasir hitam bercampur kelopak bunga kamboja yang sudah membusuk dan berulat. Mereka memasukkan hidangan jahanam itu ke dalam mulut mereka yang terus mengeluarkan lelehan lendir hitam.

"Mereka dikunci dalam perjamuan abadi buat jadi budak tanah ini," bisik Danu dengan suara sangat rendah.

Danu mengangkat tinggi-tinggi kunci karatan Kurnia di tangan kanannya untuk mengusir kabut ghaib yang mendekat. Kotak kayu hitam di tangan kirinya terus memancarkan hawa panas gila yang membakar sisa kulit telapak tangannya.

"Dodit! Lo mau ke mana, Dit?! Jangan maju!" teriak Bagus mendadak melengking panik di ujung aula.

Dodit yang sejak tadi gemetar di pojok ruangan tiba-tiba melangkah gontai menuju ke arah meja makan jati. Sepasang bola mata Dodit melotot kosong dengan air mata kerinduan yang mengalir deras membasahi pipinya.

"Ibu... Ibu kok ada di sini? Ibu bawa ayam goreng kesukaan Dodit ya?" bisik Dodit terengah-engah.

Di salah satu kursi kosong di tengah meja, muncul sesosok wanita paruh baya dengan daster batik yang sangat dikenal Dodit.

Sosok yang menyerupai almarhumah ibu Dodit itu tersenyum teramat teduh sambil menyodorkan sebuah piring penuh makanan.

Lihat selengkapnya