"Danu! Bagus! Sembunyi, cepat!" bisik seutas suara parau yang mendadak muncul dari kegelapan lorong merah.
Bagus langsung menghentikan langkah kakinya yang gemetar hebat menahan berat tubuh batu Intan. Parang tuanya kembali terangkat tinggi ke udara dengan sisa tenaga yang kian menipis drastis.
Danu menghalang di depan, tangan kanannya memegang erat kunci karatan Kurnia yang berpendar biru kehijauan, sementara Supri berjaga di belakang Danu sambil mencengkeram erat kunci inggris dari kotak perkakasnya.
Sesosok pria melangkah keluar dari balik bayangan pilar batu karang yang berdenyut cepat. Itu adalah Yayan, sang penjaga villa yang sejak kemarin memburu mereka dengan parang jagal besar. Namun, penampilannya kali ini jauh dari kata mengancam layaknya mayat berjalan di hutan kamboja.
Kapak dan parang jagalnya sudah tidak ada lagi di dalam genggaman tangannya yang kasar. Wajah kurus cekungnya dipenuhi oleh keringat dingin dan ekspresi ketakutan yang teramat masif. Ia meletakkan jari telunjuknya di depan lubang hidungnya yang rata, memberikan isyarat agar mereka diam.
"Lo... lo mau ngapain lagi, keparat?!" bentak Bagus dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Yayan tidak membalas dengan kata-kata gaib yang menggelegar layaknya bentakan Nyai Winarsih. Ia justru menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai ubin batu karang yang basah oleh cairan merah.
Dengan gerakan tangan yang gemetar hebat, Yayan merogoh saku pakaian hitamnya yang tampak kebesaran. Ia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil yang terikat tali rami lusuh dari dalam sana. Di dalam botol kecil itu, terdapat cairan bening murni yang memancarkan pendaran cahaya putih redup.
Yayan menunjuk ke arah Intan yang berada di punggung Bagus dengan mata cekungnya yang berkaca-kaca. "Air... Mata... Ibu..." gumam Intan monoton dari balik selaput kelabu matanya yang kian menebal. Zat batu kelabu di tubuh Intan kini telah merambat naik mendekati batas dadanya yang kian sesak.
Yayan membungkuk cepat, jari telunjuk kanannya yang kotor mulai menuliskan sesuatu di atas tanah merah yang lembap. Gerakan tangannya sangat kaku, namun huruf-huruf yang terukir di atas ubin batu karang itu terbaca jelas oleh Danu dan Supri.
MINUMKAN. PENAWAR BATU. begitu bunyi pesan singkat yang ditulis oleh Yayan dengan sisa kemanusiaannya.
"Nu... ini jebakan lagi atau bukan?" bisik Supri yang wajahnya masih pucat pasi di belakang Danu. "Kulit leher gue yang kena rawa asam aja masih perih, gue takut ramuan ini justru racun!" Murni segera merebut botol kaca kecil itu dari tangan Yayan setelah melihat pendaran cahaya sucinya yang murni.