Reuni di Pulau Sembah

Langit Berawan
Chapter #31

BAB 31: MANTRA PEMBALIK

Danu menerjang sisa kabut merah di ujung lorong terowongan gua karang dengan napas terengah-engah. Di belakangnya, Bagus, Murni, Supri, Dodit, dan Intan berlari kencang tanpa berani menoleh ke belakang. 

Celah lorong di samping altar pemujaan yang ditunjukkan oleh Yayan ternyata menembus ke sebuah dinding karang yang tampak buntu. Danu segera meraba permukaan batu yang dingin dan bergetar halus tersebut.

Tangan kanan Danu yang memegang kunci karatan Kurnia mendadak bergetar hebat saat menyentuh sebuah ukiran kuno. Pendaran cahaya biru kehijauan dari kunci itu merembes masuk ke dalam sela-sela retakan batu. 

Sebuah pintu batu rahasia bergeser perlahan tanpa mengeluarkan suara, menyingkap sebuah ruangan gelap yang tersembunyi.

"Masuk, semuanya! Cepat!" perintah Danu dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan.

Bagus segera menurunkan tubuh Intan secara perlahan di atas lantai ubin ruangan rahasia tersebut. Ruangan ini semacam kuil pemujaan kuno yang sangat sunyi dan berbau wangi minyak mistis. 

Di tengah ruangan, terdapat sebuah altar batu hitam yang dikelilingi oleh cawan-cawan kuningan berkarat. Di atas altar itu, tergelletak sebuah kitab tebal bersampul kulit manusia yang sudah mengelupas di beberapa sudutnya.

Murni melangkah mendekati altar tersebut dengan tubuh yang masih gemetar hebat karena trauma labirin. Ia mengangkat lentera minyaknya yang bergoyang, menyinari lembar demi lembar kertas kusam di dalam kitab jahanam itu. 

"Danu, lihat ini! Tulisan di buku ini punya dua bahasa yang berbeda," bisik Murni dengan mata membelalak. Jari-jarinya yang pucat menyusuri rentetan huruf gotik Belanda kuno dan aksara Jawa krama inggil yang ditulis rapi.

"Ini milik Keluarga Van Deventer, Mur," kata Danu sambil meletakkan kotak kayu hitamnya yang retak di samping altar. "Mereka mencatat seluruh mekanisme gaib pulau ini di sini."

Murni yang memiliki latar belakang sastra kuno mencoba mengeja kalimat di halaman tengah dengan bibir bergetar. 

"Ini... ini adalah catatan tentang mantra pembalik, Nu!" seru Murni dengan secercah harapan di matanya. "Mantra ini bisa melepaskan kutukan 'inang' yang mengikat jiwa seseorang ke tanah merah."

Lihat selengkapnya