"Mas?"
Iko tidak langsung menyadarinya. Pikiran itu datang lagi. Kali ini berupa bayangan samar—tangan yang dulu biasa menggenggam tangannya, suara tawa yang pernah ia hafal nadanya, dan nama yang kini cukup muncul di layar ponsel untuk mengacaukan segalanya.
"Mas?"
"Oh, maaf," kata Iko begitu tersadar dari lamunannya.
Kasir itu—seorang perempuan muda dengan rambut dikuncir dan tanda bekas jerawat di dahi—menatapnya dengan ekspresi antara sabar dan tidak sabar.
Di belakang Iko, seorang pria berjaket hitam berdiri dengan dua botol minuman energi di tangan, sudah berdeham dua kali sebelumnya.
"Silakan duluan," kata Iko sambil mundur.
Pria itu melangkah ke depan tanpa berterima kasih. Kasir menggeser botol air mineral dan permen mint milik Iko ke tepi, lalu memindai barang si pria dengan gerakan cepat yang sudah ia hafal.
Iko mengeluarkan ponselnya. Layar menyala. Pesan WhatsApp dari Sarah masih berada di bagian paling atas. Ia menatapnya beberapa detik—nama itu terasa seperti pintu yang entah harus ia buka atau biarkan tertutup selamanya.
Ia mengunci layar. Memasukkan ponsel kembali ke saku.
Kasir menoleh padanya. "Giliran Mas."
Iko membayar. Mengambil kembaliannya. Mengantongi permen mint dan meraih botol air mineral tanpa tahu mengapa ia membelinya—ia tidak haus.
***
Di luar, angin sore meniup plastik bekas struk belanja yang tersesat di trotoar. Iko berdiri sebentar di depan pintu minimarket, merasakan udara yang lebih dingin dari tadi, sebelum akhirnya melihat Arif yang sejak tadi duduk di kursi plastik di sudut.
Botol kopi dingin di tangan Arif sudah setengah kosong. Ia tidak melihat ke arah Iko—matanya mengikuti dua kucing yang sedang berebut sesuatu di bawah motor parkir.
"Lama," kata Arif tanpa menoleh.
Iko duduk di kursi di depannya. "Ngelamun."
Arif akhirnya menatapnya. Sepersekian detik, wajahnya dibaca seperti seseorang yang sedang menimbang apakah mau bertanya atau tidak. "Jadi datang ke acaranya Sarah?"