Meja makan panjang itu sudah tertata rapi ketika Iko dan yang lain turun dari lantai dua.
Beberapa hidangan telah diletakkan di tengah meja: sup bening dalam mangkuk besar, daging sapi dan ayam panggang, berbagai jenis sayuran, dan sepiring nasi hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
Darius duduk di kepala meja. Sarah dan Iko di sebelah kiri dan kanannya. Gaun merah yang dikenakan Sarah kontras dengan taplak meja krem di depannya.
Di sisi lain meja, Rudi, Bayu, dan Farhan telah mengambil tempat masing-masing.
Pelayan itu berdiri di sisi meja. Ia menusukkan garpu ke permukaan daging lalu mengirisnya perlahan. Pisau itu bergerak lurus dan rapi, memotong lapisan daging merah menjadi irisan tipis.
Beberapa potong ia susun di piring saji sebelum mendorongnya ke tengah meja.
Darius mengangkat tangan sedikit.
Pelayan itu mengangguk. “Permisi.” Lalu berjalan menjauh sambil membawa pisaunya yang berkilau terkena cahaya lampu.
Ruangan itu hanya dipenuhi suara sendok yang menyentuh piring selama beberapa saat.
Darius menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya berbicara, “Saya senang kita bisa duduk bersama malam ini.” Suaranya tenang dan jelas, seperti orang yang telah terbiasa berbicara di depan publik.
“Sarah bilang kalian pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Jadi saya pikir … tidak ada salahnya kita bertemu dengan cara yang baik.”
Ia berhenti sebentar. “Sekalian halalbihalal sebelum kami menikah.” Ia menoleh ke Sarah.
Sarah tersenyum tipis.
Darius menoleh ke yang lain. “Mohon maaf lahir dan batin kalau ada yang kurang berkenan.”
“Sama-sama,” jawab Iko dan yang lain hampir bersamaan.
Darius melanjutkan, nadanya tetap santai. “Selain itu, saya juga berencana mencalonkan sebagai wakil wali kota di pilkada berikutnya. Jadi … mohon doa dan dukungannya.”
Farhan mengangguk lebih dulu. “Terima kasih sudah mengundang kami.”
Bayu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kami bakal nyoblos,” katanya ringan. Ia menoleh ke yang lain.
Iko tersenyum kecil.
Rudi menyandarkan sikunya di meja. “Jarang ada orang yang mau ngumpulin mantan pasangannya kayak gini.” Kalimat itu terdengar seperti setengah bercanda.
Bayu terkekeh pelan. Farhan hanya menatap piringnya.
Sarah tersenyum—Iko menangkap sedikit ketegangan di sudut bibirnya.