Reuni Mantan

Komandala Putra
Chapter #5

Bab 5 - Truth or Dare

Ruang keluarga di lantai bawah terasa lebih hangat dari ruang makan tadi. Sofa panjang menghadap meja kayu rendah. Lampu berdiri di sudut ruangan memancarkan cahaya kekuningan yang lembut.

Di sudut ruangan, sebuah lemari pajangan berdiri agak miring. Pintu bawahnya sedikit terbuka. Di lantai di depannya ada kotak perkakas kecil—obeng dan kunci Inggris tergeletak di atasnya, seperti seseorang baru saja memperbaiki sesuatu.

Iko, Sarah, dan Darius duduk di sofa panjang menghadap meja. Sarah di tengah—ada bantal sofa yang membatasi Iko dan wanita itu.

Rudi dan Bayu duduk bersebelahan di sofa lain.

Farhan duduk di sofa tunggal yang berada paling dekat dengan lemari pajangan di sudut.

Angin tiba-tiba menghantam jendela besar di sisi ruangan dengan bunyi keras. Kaca bergetar sebentar.

Kilatan petir menerangi lereng. Jalan sempit yang tadi mereka lewati hampir tak terlihat di balik hujan yang turun seperti tirai.

Di meja, ada beberapa gelas berisi jus dan satu botol kaca kosong. Rudi memutar botol itu.

Setelah berputar sebentar, ujung botol itu berhenti dan menghadap Sarah.

Truth or dare?” tanya Farhan.

Sarah menoleh kiri-kanan cepat. “Truth.”

“Di mana pertama kali ketemu Pak Darius?” tanya Bayu.

Sarah menoleh Darius sebentar. “Di acara penggalangan dana,” jawab Sarah. “Kami dikenalin sama temen.”

Permainan berlanjut. Ada yang memilih truth. Ada yang memilih dare. Suasana yang tadi canggung perlahan berubah menjadi lebih santai.

Ketika Rudi menerima tantangan joget, ia menggerakkan pinggul sambil memonyongkan bibir dan menjulurkan lidah.

Bayu tertawa keras.

Sarah ikut tertawa—refleks menoleh ke Iko.

Iko menangkap tatapan itu, lalu segera mengalihkan pandangannya kembali ke meja.

Darius merangkul pundak Sarah.

Botol kembali diputar. Kali ini giliran Darius.

Truth or dare?” tanya Rudi.

“Saya pilih truth,” jawab Darius santai.

Bayu menyandarkan siku di lututnya. “Serius nanya, Pak. Kenapa sih mau jadi wakil wali kota?”

Darius tersenyum kecil, seolah pertanyaan itu sudah sering ia dengar. “Di Jakarta, terlalu banyak masalah yang dibiarkan.”

Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan, nadanya tetap tenang. “Kadang untuk menyelesaikan masalah besar, kita harus turun tangan langsung agar masalah benar-benar beres.”

“Wah, berat,” kata Rudi sambil tertawa kecil. “Langsung beresin kota.”

Darius hanya mengangkat bahu tipis.

Botol kembali diputar. Kali ini ujungnya mengarah ke Farhan. “Truth,” katanya.

Bayu mengangguk kecil. Ia memajukan wajahnya sambil bertanya, “Apa yang paling lu suka dari Sarah?”

Ruangan terasa lebih sunyi.

Farhan menatap meja sebentar sebelum mengangkat kepalanya. Ia membersihkan tenggorokan. “Sarah itu ...,” ia menoleh ke arah Sarah, menatapnya lekat-lekat.

Sarah menopang dagunya dengan tangan, lalu mengangkat alis.

“Kalau udah sayang,” lanjut Farhan, “totalitas banget.”

Sarah tersenyum kecil, lalu menyandarkan kepalanya di lengan Darius. Darius menoleh padanya dan mengusap rambut wanita itu.

Sarah kembali meluruskan punggungnya.

Farhan masih menatap ke arah mereka. “Tapi kalau udah nggak sayang ….” Ia berhenti. Alisnya terangkat sedikit. Lalu menoleh ke arah Iko sekilas.

Tak ada yang menjawab ucapannya.

Lihat selengkapnya