Darius berdiri di luar kamar Rudi sementara yang lain keluar satu per satu.
Setelah Iko lewat, barulah Darius ikut berjalan di belakang mereka.
Begitu sampai di lantai bawah, mereka menuju sofa ruang keluarga yang lampunya masih menyala.
Iko duduk di ujung sofa panjang.
Sarah duduk di sebelahnya, tapi tidak menatap siapa pun. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam erat.
Farhan tidak duduk. Ia berdiri di dekat meja, rahangnya masih mengeras. Pandangannya sesekali melirik Bayu.
Bayu sendiri berdiri di dekat jendela, menatap keluar.
Darius berdiri di dekat meja dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Saya hubungi polisi.”
Semua mata tertuju padanya.
Darius melihat layar ponselnya sebentar, mengangkatnya sedikit lebih tinggi, lalu menggerakkan ponselnya ke kiri-kanan. Ia menghela napas pendek. “Tidak ada sinyal.”
Tiba-tiba lampu padam.
Sarah refleks meraih tangan Iko. Beberapa detik kemudian, ia lepaskan.
“Tenang,” suara Darius terdengar di tengah gelap. “Tunggu di sini. Saya cek dulu panelnya di basement.”
Cahaya senter Darius menyala. Lalu cahaya itu bergerak menjauh ke arah koridor. Tak seorang pun mengikuti.
Di luar, kilatan petir menerangi lereng gunung sebentar sebelum kembali tenggelam dalam gelap.
“Ada yang bawa HP?” tanya Sarah.