Mereka berada di ruang keluarga tanpa banyak bicara.
Iko dan Sarah duduk di sofa panjang. Sarah masih terisak pelan.
Farhan berdiri di dekat meja—tidak duduk sejak turun dari lantai dua. Rahangnya mengeras. Pandangannya sesekali beralih ke arah Bayu yang berdiri di dekat jendela besar.
Di luar, hujan menghantam kaca tanpa henti. Kilat menyambar halaman vila. Dalam kilatan itu, terlihat batang pohon besar tumbang melintang di jalan masuk.
“Jalannya ketutup,” gumam Bayu sambil menatap keluar.
Tak ada yang menimpali.
Bayu berjalan perlahan ke tengah ruangan. “Waktu lihat ke bawah tadi, kabel lift-nya putus.”
Sarah menoleh.
“Mungkin ada yang celakain dia,” sambung Bayu.
Farhan menatapnya. “Siapa?”
Bayu tampak ragu sebentar. Bahunya naik sedikit. “Mungkin pelayan.”
Farhan menatapnya tajam. “Lu mau bilang pelayan juga yang bunuh Rudi?”
Bayu mengangkat bahu. “Kecuali lu mau ngaku.”
Farhan melangkah maju. Bayu membusungkan dadanya. Ketegangan di antara mereka terasa seperti dua bilah pisau yang saling bersentuhan.
“Berhenti!” kata Iko sambil mengangkat kedua tangan.
Sarah dan kedua pria itu menoleh ke arahnya.
Iko menarik napas pendek. “Biar adil ... aku punya ide.”
Tak ada yang memotong.
“Kita periksa kamar satu-satu,” lanjut Iko. “Kalau di antara kita ada yang bunuh Rudi, mungkin petunjuk atau barang buktinya ada di kamar.”
Farhan dan Bayu kembali saling tatap.
“Kalau nanti nggak ada benda yang mencurigakan,” lanjut Iko, “baru kita cari pelayannya bareng-bareng.”
Farhan menoleh Iko dan mengangguk.
Bayu menghembuskan napas panjang. “Oke.”
Iko berdiri. Sarah ikut bangkit perlahan.
“Kita mulai dari kamar yang paling dekat tangga,” kata Iko sambil menatap Bayu.
“Siapa takut?” kata Bayu sambil mengangkat dagu.
Iko menaiki tangga, berjalan paling depan. Sarah berpegangan pada lengannya.
Farhan di belakang Sarah. Bayu yang paling belakang. Hujan masih terdengar keras di atap vila.
Sesampainya di lantai lorong dua, Iko berhenti di depan pintu kamar Bayu. “Lu tunggu di sini.”
Bayu mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Biar adil,” kata Iko, “penghuni kamar nggak boleh ikut meriksa.”
Bayu mengumpat pelan tapi tidak membantah.
Farhan menatap Bayu dari kepala sampai kaki “Buka baju sama celana lu.”
Bayu menatapnya. “Apa?”