Sarah menelan ludah. Ia maju selangkah. Pisau di tangannya bergetar.
Satu langkah lagi.
Darius di belakangnya berseru, “Ayo, Sayang.”
Sarah berhenti tepat di depan Iko.
Tanpa menoleh, ia berjalan melewati kursi itu. Pisau di tangannya bergerak cepat. Serat tali di belakang sandaran kursi putus dengan bunyi pendek. Iko langsung menarik kedua tangannya ke depan.
Darius tersentak. “Apa—”
Sarah menyerahkan pisau itu ke tangan Iko.
Iko berdiri dalam satu gerakan.
Darius maju dan menebaskan pisaunya ke arah dada Iko.
Iko menangkis.
Dua bilah logam beradu dengan bunyi keras.
Iko menyerang.
Darius menangkis.
Pisau mereka beradu lagi—cepat, kasar, tanpa teknik yang rapi.
Monitor bergoyang ketika tubuh mereka menghantam meja. Gambar di layar monitor bergetar sesaat sebelum kembali stabil.
Darius mendorong. Iko terhuyung ke belakang.
Pisau Iko menyayat udara kosong—Darius menghindar dan menyayat lengan Iko.
Pisau Iko jatuh ke lantai.
Iko menendang tangan Darius hingga pisaunya terpental.
Mereka saling bertukar pukulan ke arah wajah.
Iko menerjang. Mereka bertubrukan keras.
Tubuh mereka bergulat di lantai beton. Darius memukul punggung Iko. Sekali. Dua kali.
Iko meninju wajah Darius. Sekali. Dua kali.
Darius membalas dengan siku ke rahang.