Reuni Mantan

Komandala Putra
Chapter #13

Bab 13 - "Reuni"

Beberapa hari kemudian, Iko duduk berhadapan dengan ibunya di ruang tamu rumah mereka.

Memar tipis masih terlihat di bawah matanya—biru kekuningan yang belum sepenuhnya pudar. Ada plester kecil di sudut dahi yang dipasang dokter IGD pagi itu, dan setiap kali ia menarik napas dalam-dalam, ada ngilu samar di sisi kanan tulang rusuknya.

Ibunya duduk tegak di kursi rotan. Rambut di sekitar pelipisnya semakin banyak yang memutih. Tangannya memegang cangkir teh yang belum diminum, dan matanya tidak berpindah dari wajah Iko sejak tadi—seperti seseorang yang masih memeriksa, masih menghitung, apakah anaknya benar-benar baik-baik saja.

Tidak ada orang lain saat itu. Hanya kucing putih yang sesekali mengeong dari balik pintu dapur, lalu diam lagi.

Iko meletakkan tangannya di atas meja dengan pelan. Ia sudah menyusun kalimat ini berkali-kali dalam kepala—di rumah sakit, di mobil, di kamar sebelum tidur. Tapi sekarang, saat berhadapan langsung dengan ibunya, semua susunan itu terasa tidak cukup.

"Aku hargai maksud baik Ibu," kata Iko pelan.

Ibunya meletakkan sendoknya di cangkir teh dengan bunyi yang sangat pelan. Bukan karena marah—lebih karena hati-hati, seperti seseorang yang tidak ingin suara apa pun memotong momen ini.

"Kalau Ibu memang mau aku bahagia," lanjut Iko, "aku bahagia kalau aku nikah sama Sarah."

Ibunya tidak langsung menjawab. Hanya memandang Iko—wajahnya sulit dibaca, seperti dua perasaan yang sedang berebut tempat di satu ekspresi yang sama.

"Ibu tahu siapa Sarah,” kata ibunya akhirnya.

"Iya, Bu."

"Ibu juga tahu," lanjutnya pelan, "kenapa dulu Ibu tidak setuju."

Iko mengangguk. Ia tidak membantah. Tidak sekarang.

Ibunya memandang cangkir tehnya. Uap tipis mengepul, lalu menghilang. "Ibu tidak mau kamu ... terluka."

"Aku tahu."

"Tapi ternyata," ibunya menghela napas, "Ibu juga tidak bisa memastikan kamu tidak terluka dengan cara Ibu sendiri."

Ruangan itu sunyi. Kucing putih muncul dari balik pintu dapur, berjalan pelan, lalu duduk di atas karpet di antara mereka. Ekornya bergerak malas.

Iko memegang tangan ibunya. Jemari wanita itu terasa lebih kurus dari yang ia ingat—tulang-tulangnya lebih terasa di balik kulit. Ia tidak tahu sejak kapan tangannya menjadi setipis ini.

"Soal Putri dan keluarganya," kata Iko, "biar aku yang bicara secara baik-baik dengan mereka."

Ibunya menunduk, mengaduk tehnya dengan pelan. Putaran sendok itu teratur—satu, dua, tiga—seperti gerakan yang dilakukan bukan karena butuh, tapi karena tangan perlu melakukan sesuatu saat kata-kata belum siap keluar.

Di luar, suara sepeda motor lewat, lalu menghilang. Suara anak-anak di gang sebelah terdengar sayup, bermain sesuatu yang tidak kelihatan dari sini.

Beberapa detik berlalu.

Ibunya menghembuskan napas panjang—bukan napas yang lelah, lebih seperti napas seseorang yang baru saja memutuskan sesuatu dan meletakkan beban yang sudah lama ia gendong.

Lalu ia mengangkat wajah. Matanya masih sama—mata yang sama yang dulu membacakan dongeng sebelum tidur, yang sama yang menangis diam-diam saat Iko wisuda, yang sama yang menyimpan terlalu banyak hal tanpa pernah diucapkan.

"Ibu senang kamu selamat," kata ibu Iko akhirnya.

Lihat selengkapnya