REVENGE

Scha Noire
Chapter #4

Mission

Matteo duduk di sofa ruang tamu penthouse, pandangannya menelusuri panorama kota yang terhampar di depan jendela besar. Di sampingnya, Max dan Vincente berdiri siaga, matanya tajam mengawasi setiap gerakan. Suasana di ruangan itu tegang, dipenuhi dengan aroma kopi yang menyegarkan dan desas-desus rencana yang mendebarkan.

Matteo menyandarkan punggungnya ke sofa, wajahnya dipenuhi fokus. “Alves sudah menyelidiki gudang yang terletak di pinggiran kota itu, dia bilang ada satu titik lemah—sistem keamanannya tidak sekuat yang di klaim. Para tawanan serta bocah bernama Dean itu membenarkannya.”

Max mengernyit. “Anda yakin? Tuan Eduardo tidak dikenal sebagai orang yang ceroboh.”

Vincente membuka suara mencoba mengutarakan pendapatnya. “Justru karena itu, dia mungkin terlalu percaya pada penjaga. Dia pasti merasa aman dan itu akan jadi keuntungan kita.”

“Benar.” Matteo menjawab, wajahnya semakin serius. “Kita bisa memanfaatkan momen ketika pengawalan sedang berkurang. Jika kita bisa menjatuhkan sistem keamanan, kita akan punya waktu untuk menjelajahi gudang itu tanpa terdeteksi.”

Max mengambil napas dalam-dalam. “Anda yakin disana ada senjata milik kita yang mereka curi?”

“Dean bilang mereka menyimpannya disana,” kata Matteo.

Max menunduk hormat. “Baiklah, jika itu keputusan Anda, Tuan Sanchez.”

Vincente baru saja teringat akan ucapan salah satu dari anak buah Renan saat diinterogasi olehnya kemarin. “Tuan Sanchez,” panggilnya. Yang hanya dijawab dehaman oleh Matteo. Vincente sedikit bimbang untuk menceritakannya atau tidak.

“Kemarin, disaat saya menginterogasi anak buah Tuan Eduardo—pria bernama Lance. Dia sempat berkata bahwa kelemahan terbesar Tuan Eduardo adalah seorang wanita,” ucap Vincente sedikit tidak yakin.

“Seorang wanita? Kau sedang bercanda, Vincente?” sindir Matteo dengan nada penekanan.

Vincente menggelengkan kepala panik. “Dia berkata begitu, tetapi saya masih belum mencari kebenaran dibaliknya,” cicitnya pelan.

“Itu mungkin saja, saya sering mendengar bahwa Tuan Eduardo selalu didampingi seorang wanita saat dia melakukan pertemuan penting dengan tamunya,” timpal Max. Matteo makin mengernyitkan dahinya bingung. Ia sendiri tidak pernah mendengar desas-desus akan hal itu. Seorang wanita tetapi siapa?

“Seorang wanita? Si Renan bodoh itu tidak memiliki saudara perempuan.” Mencoba membantah ucapan kedua bawahannya itu.

Max menghela nafas pelan. “Saya tahu itu. Hanya saja itu yang sering dikatakan orang-orang.” Vincente mengangguk menyetujui ucapan Max.

“Izinkan saya, mencari informasi tentang wanita itu,” kata Vincente penuh semangat. Matteo berdecak pelan saat melihat binar di mata pria itu, tumben sekali pikirnya begitu.

“Terserah kau saja, asal jangan membuat kau terbebani oleh hal itu. Tujuan utama kita sekarang adalah membawa kembali senjata milik kita yang mereka curi dan membakar gudang miliknya,” final Matteo.

✧✧✧✧✧

Lihat selengkapnya