REVENGE

Scha Noire
Chapter #5

Boomerang

Goresan pena, tumpukkan berkas dan kepulan asap menguar di dalam ruangan. Kini, Renan sedang berada di dalam kantornya yang masih terletak di mansionnya. Sang tangan kanan, Warren Rodriguez berdiri setia disampingnya dimana ia masih duduk di kursi kebanggaannya.

“Tuan Eduardo, apa kita perlu mencari lokasi persembunyian Dean dan adiknya?” tanya Warren dengan sopan.

Gelengan kepala menjadi jawabannya. “Mustahil kita bisa menemukannya. Mereka dalam perlindungan keluarga Sanchez. Pasti si keparat itu akan melindunginya dengan segenap kekuatannya, sebab dia tahu bahwa Dean akan menjadi bidak penting untuk menjalankan misinya. Anak itu membawa banyak informasi penting tentang diriku.”

Warren mengangguk paham sebelum berjalan ke depan meja dan menata berkas laporan yang nampak sudah dipenuhi dengan coretan milik Renan. Jari telunjuk Renan menahan selembar kertas yang tadinya ingin Warren ambil untuk dijadikan satu tumpukkan. “Yang ini, tidak perlu,” ingat Renan bernada datar.

“Baik, Tuan Eduardo.” Bungkukan badan ia dapatkan, Warren segera melenggang ke sudut ruangan untuk memasukkan berkas tersebut ke dalam sebuah map.

Batangan nikotin ia hisap lalu menghembuskan asap tersebut seraya bangkit. Pria bersurai hitam legam tersebut melangkah kaki mendekati sang bawahan, yang mulai membuka sebuah pintu lemari besar. Tangannya terulur seakan mempersilahkan sang tuan untuk berjalan terlebih dahulu ke dalam lorong panjang dan sempit tersebut.

Kedua belah bibirnya mengapit batangan nikotin tersebut. Sesampainya di depan sebuah pintu besi yang sangat kokoh, Renan memposisikan dan menempelkan telapak tangannya ke sebuah layar persegi di sebelah pintu. Nampak alat tersebut sedang mencoba mengidentifikasi sidik jari dengan akurat. Wajahnya ia arahkan ke sebuah kamera kecil yang berada di atas layar tersebut. Hingga terdengar bunyi kunci yang terbuka dari pintu tersebut.

Renan menjauhkan tangannya dari layar persegi tersebut lalu munculah sebuah tulisan di layar tersebut.

Verified: Renan Eduardo.

Pintu besi berat itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara yang menggema di sepanjang lorong. Renan melangkah masuk dengan sikap tenang serta Warren yang mengikuti di belakangnya, membawa map berisi dokumen yang baru saja dirapikan. 

Ruangan di balik pintu itu penuh dengan aura misteri. Cahaya temaram dari lampu neon putih menciptakan bayangan di dinding beton yang dingin. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dengan peta besar kota tersebar di atasnya. Titik-titik merah menandai lokasi-lokasi strategis—markas musuh, jalur distribusi, dan gudang-gudang rahasia. 

Renan berdiri di depan meja panjang, menatap peta kota yang penuh dengan tanda-tanda merah, biru, dan kuning. Tangannya dengan sigap menunjuk salah satu titik biru besar di sudut peta. “Gudang penyimpanan senjata di pinggir kota,” katanya, nadanya rendah tapi penuh amarah. “Sanchez bajingan itu telah menghancurkannya. Tidak hanya barang-barang kita, dia juga membunuh belasan anak buah kita.” 

Warren berdiri di sisi meja, mengamati ekspresi tajam sang tuan. “Tuan Sanchez adalah ancaman yang tidak bisa diremehkan. Serangannya ke gudang kita sangat terencana. Dia ingin menunjukkan kekuatannya.” 

Lihat selengkapnya