REWANG

Richi Rizkya
Chapter #1

Teras

Bus antarkota yang ditumpangi Wening berhenti di pertigaan desa ketika matahari mulai condong ke barat. Sopir membuka pintu beberapa saat untuk menurunkan barang bawaan penumpang, lalu kembali menaikkan tuas persneling sebelum melanjutkan perjalanan menuju terminal kecamatan. Wening turun paling akhir, menunggu dua karung beras dipindahkan lebih dulu dari bagasi. Setelah memastikan ranselnya tak tertinggal, ia mengangguk singkat kepada sopir sebagai ucapan terima kasih. Tak lama kemudian, bus itu menghilang di balik tikungan, meninggalkan debu tipis yang perlahan luruh di tepi jalan.

Sudah hampir empat bulan ia tidak pulang. Selama itu pula rumah hanya hadir melalui suara ibunya yang kadang terputus-putus di telepon atau pesan singkat Kinan yang hampir selalu diakhiri kalimat yang sama: Hati-hati kerja. Jangan lupa makan. Tidak banyak yang berubah dari desa itu. Sawah masih membentang di kiri jalan, saluran irigasi masih membawa air keruh sisa hujan semalam, dan angin masih mengangkat aroma tanah basah yang selalu membuatnya merasa sedang berjalan menuju rumah, bukan sekadar menuju sebuah alamat.

Ransel di pundaknya tidak terlalu berat. Isinya hanya beberapa potong pakaian, sebuah laptop, dan sepasang sepatu yang sengaja dibawanya untuk menghadiri akad nikah kakaknya empat hari lagi. Empat hari, pikirnya, masih cukup untuk membantu banyak hal. Mungkin membungkus suvenir yang belum selesai, menemani ibunya berbelanja ke pasar, atau sekadar mengobrol panjang dengan Kinan sebelum kehidupan mereka berubah setelah pernikahan.

Gang menuju rumah masih menyimpan wajah yang sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Pohon mangga di depan rumah Pak Lurah tetap menjulurkan dahan hingga menutupi sebagian jalan, sementara warung Bu Minah masih memajang stoples-stoples kerupuk yang warnanya mulai pudar dimakan matahari. Namun, semakin jauh ia melangkah, suasana yang ditemuinya terasa berbeda. Seorang lelaki melintas membawa beberapa batang bambu di belakang sepeda motornya. Dua pemuda memanggul lembaran seng bekas sambil bercanda. Dari kejauhan terdengar bunyi palu bersahutan dengan tawa orang-orang yang sedang bekerja.

"Lho, Wening!" seru Bu Sarmi dari balik pagar sambil menepuk-nepuk kedua tangannya yang masih berlumur tepung kerupuk. "Pulang juga, Nduk. Ibumu dari pagi bercerita kalau kamu datang hari ini. Pas sekali, besok syukuran. Mulai malam nanti, saudara-saudara sudah banyak yang berdatangan." Wening tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Bu. Baru sampai." 

"Pantas rumahmu dari tadi ramai terus," lanjut Bu Sarmi. "Orang keluar-masuk nggak ada putusnya." Wening kembali mengangguk sebelum berpamitan untuk melanjutkan langkah. Menjelang pernikahan Kinan, rumah mereka memang seharusnya mulai sibuk. Sejak kecil ia terbiasa melihat tetangga saling membantu setiap kali sebuah keluarga menggelar hajatan. Namun kali ini, tanpa ia sadari, kepulangannya akan membawanya ke sebuah peristiwa yang kelak mengubah cara ia memandang rumah itu sendiri

Semakin dekat dengan rumah, langkahnya justru semakin pelan.

Halaman yang biasanya lengang kini dipenuhi orang-orang yang datang membawa barang dari berbagai arah. Ada yang menjinjing dandang besar, memikul ikatan kayu bakar, atau membawa gulungan terpal di atas bahu. Mereka tidak tampak seperti tamu. Tak seorang pun menunggu untuk dipersilakan. Begitu tiba, masing-masing langsung berjalan menuju sudut rumah yang berbeda, seolah telah mengetahui pekerjaan yang harus dilakukan.

Wening berhenti di depan pagar.

Rumah itu masih berdiri di tempat yang sama. Dindingnya masih dicat hijau muda. Pohon jambu di samping teras masih tumbuh miring seperti dulu. Namun, rumah itu tak lagi tampak seperti rumah yang sedang menunggu seorang anak pulang. Rumah itu sedang sibuk menerima kedatangan semua orang.

Ia baru melangkah ke halaman ketika seorang pemuda keluar sambil memanggul gulungan terpal. Di belakangnya, dua orang lain menurunkan batang-batang bambu dari sebuah pikap tua yang diparkir di tepi jalan. Tak ada yang memberi aba-aba, tetapi pekerjaan berlangsung begitu teratur hingga nyaris tak terlihat kacau.

"Anaknya Pak Brata, ya?" sapa seorang lelaki yang sedang mengikat tali rafia pada tiang bambu. "Iya, Pak," jawab Wening singkat.

"Baguslah sudah datang. Besok-besok kerjaannya tambah banyak."

Wening hanya tersenyum. Dalam ingatannya, pemasangan tenda biasanya dilakukan sehari menjelang akad. Namun, halaman rumahnya kini sudah dipenuhi bambu, terpal, dan meja-meja panjang yang entah dipinjam dari mana. Persiapannya terasa jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Pintu rumah terbuka lebar. Di ruang tamu terdengar suara beberapa perempuan yang sedang menghitung sesuatu, diselingi tawa kecil yang sesekali pecah. Wening baru saja hendak melepas ransel ketika pandangannya tertumbuk pada seorang lelaki yang keluar dari dalam rumah sambil membawa map plastik hitam.

Usianya sebaya dengan ayahnya. Kemeja lengan panjang yang dikenakannya digulung hingga siku, sementara sebuah pulpen terselip rapi di saku dada. Penampilannya terlalu rapi untuk seorang tetangga yang datang membantu.

Beberapa langkah di belakang lelaki itu, Brata ikut keluar hingga ke teras. Mereka berhenti di dekat pagar.

Lelaki bermap itu membuka beberapa lembar kertas, menunjuk salah satu bagian, lalu berbicara dengan suara yang terlalu pelan untuk didengar. Brata tidak segera menjawab. Ia hanya mengangguk pendek sambil mengusap tengkuknya.

Gerakan itu begitu biasa. Namun, Wening mengenalnya. Sejak kecil, ayahnya selalu melakukan hal yang sama setiap kali sedang memikirkan sesuatu yang tak ingin diketahui orang lain.

Lihat selengkapnya