Menjelang siang, halaman rumah Brata akan dipenuhi keluarga dan tetangga untuk syukuran sederhana sebagai penanda dimulainya rangkaian pernikahan Kinan. Karena itulah sejak subuh dapur tak pernah benar-benar sepi. Apa yang nanti tersaji di atas tikar bukan sekadar makanan, melainkan hasil kerja belasan tangan yang datang membantu tanpa diminta. Langit bahkan belum benar-benar terang ketika halaman rumah Brata mulai didatangi orang satu per satu.
Sekar bahkan belum sempat menawarkan pekerjaan ketika dapurnya sudah terbagi menjadi beberapa kelompok kecil. Bu Sarmi mengambil tempat paling dekat dengan bak cuci, memimpin urusan membersihkan ayam dan sayuran tanpa pernah diminta. Bu Ranti menggelar tikar di sudut dapur, menyusun bawang merah, bawang putih, dan cabai ke dalam tampah besar sebelum membagi tugas mengupas kepada ibu-ibu yang baru datang. Di dekat tungku, dua perempuan lain mulai menanak nasi dalam dandang besar, sementara Murti sibuk membuka buku catatan kecilnya, mencocokkan daftar belanja dengan bahan-bahan yang semalam baru diantar dari pasar.
Kinan turun dari kamar ketika suara lesung dan riuh percakapan ibu-ibu memenuhi dapur sejak pagi. Tanpa banyak bicara, ia mengambil talenan di sudut meja dan meraih beberapa siung bawang, tetapi Bu Sarmi segera menahan tangannya. "Sudah, Mbak. Besok pengantin kok masih disuruh motong bawang." Bu Ranti yang sedang membersihkan daun bawang ikut tertawa. "Iya, nanti mas-masnya kabur gara-gara bau bawang." Tawa langsung pecah memenuhi dapur. Kinan ikut tersenyum, lalu mengusulkan untuk membuat teh sebagai gantinya. Namun, usul itu pun ditolak dengan halus. "Sekarang tugas Mbak cuma istirahat. Besok gantian capek." Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain mengangguk pelan dan keluar dari dapur. Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia merasa menjadi orang yang paling tidak berguna di rumahnya sendiri.
Sekar kembali menghitung daftar anggaran yang sejak tadi terlipat di pangkuannya. Setelah beberapa kali mencoret dan menjumlah ulang, pandangannya berhenti pada satu pos pengeluaran yang nilainya jauh lebih besar daripada yang lain. "Kalau memang mau menghemat," katanya hati-hati, "orkesnya saja yang ditiadakan. Musik biasa juga cukup. Tamu datang untuk mendoakan, bukan menonton hiburan." Kinan mengangguk pelan, seolah sejak awal memang memikirkan hal yang sama. "Aku juga tidak masalah, Pak. Yang penting akadnya lancar."
Brata mengambil kembali daftar itu tanpa banyak berpikir. "Orkesnya tetap jadi," ujarnya mantap. "Kamu sudah terlalu banyak mengalah sejak kecil. Sekali ini biar Bapak yang mengusahakan." Kinan tak lagi membantah. Ia hanya tersenyum tipis, sementara Sekar memilih melipat kembali daftar anggaran itu. Saat itu tak seorang pun menyadari bahwa keputusan yang tampak sederhana tersebut kelak menjadi salah satu alasan yang mengubah nasib seluruh keluarga.
Wening berdiri cukup lama di ambang pintu dapur. Ia sempat berniat membantu, tetapi niat itu menguap ketika menyadari setiap orang telah mengetahui pekerjaannya masing-masing. Tak ada yang saling menunggu perintah, tak ada yang berebut mengambil keputusan. Yang terdengar hanya bunyi pisau beradu dengan talenan, ulekan yang menghancurkan bumbu di atas cobek, serta suara air yang terus mengalir membasuh sayuran.
Selama ini ia hanya mengenal rewang sebagai keramaian yang terlihat dari balik kursi tamu. Baru pagi itu ia menyadari bahwa di balik setiap hajatan ada pekerjaan yang nyaris tak pernah diperhatikan orang. Dapur itu seolah memiliki bahasanya sendiri, bahasa yang tak pernah diajarkan, tetapi dipahami oleh semua orang yang tumbuh di kampung itu.
"Jangan bengong saja, Nduk. Ambilkan tampah yang di atas lemari."
Suara Bu Sarmi membuat Wening tersentak. Perempuan itu bahkan tidak menoleh ketika berbicara. Tangannya tetap sibuk memotong ayam menjadi bagian-bagian yang ukurannya nyaris sama. Wening segera mengambil tampah yang dimaksud, lalu menyerahkannya tanpa sempat bertanya untuk apa. Bu Sarmi menerimanya sambil mengangguk kecil, lalu tampah itu langsung berpindah lagi ke tangan ibu lain yang mulai menata irisan kol dan daun bawang.
Tak lama kemudian, aroma bawang putih yang ditumis mulai memenuhi ruangan. Asap tipis mengepul dari tungku, bercampur wangi kemiri sangrai dan ketumbar yang baru selesai diulek. Percakapan perlahan ikut menghangat bersama masakan yang mulai matang. Ada yang bercerita tentang panen jagung yang gagal karena hujan terlambat datang, ada yang mengeluhkan harga minyak goreng, sementara yang lain sibuk bertukar kabar mengenai anak-anak mereka yang merantau. Di dapur itu, pekerjaan dan obrolan mengalir berdampingan tanpa saling mengganggu.
Murti sesekali mengangkat kepala dari buku catatannya. Setiap keranjang ayam, setiap ikat sayur, setiap botol minyak yang dibuka selalu diberi tanda kecil dengan pensil. Kebiasaannya, menghitung sering menjadi bahan candaan ibu-ibu lain. Bu Ranti bahkan sempat berseloroh bahwa Murti bisa tahu berapa butir bawang yang hilang kalau ada yang iseng membawa pulang satu genggam. Candaan itu disambut dengan tawa, termasuk Murti sendiri yang hanya menggeleng pelan sambil kembali menulis.
Menjelang matahari naik, dapur memasuki kesibukan yang paling padat. Kuah mulai mendidih, ayam digoreng bergelombang, sementara piring-piring besar berjajar menunggu diisi. Sendok sayur yang semula dipakai Bu Sarmi mencicipi kuah kemudian berpindah dari satu tangan ke tangan lain, mengikuti pendapat yang bersahut-sahutan tentang rasa yang masih perlu disempurnakan.
Wening memperhatikan semuanya tanpa berpikir macam-macam. Baginya, pemandangan itu tampak akrab dan hangat, seperti bagian dari pekerjaan yang memang sudah semestinya dilakukan bersama. Di sudut dapur, tawa kembali pecah ketika Bu Ranti berseloroh bahwa kalau terlalu banyak yang mencicipi, nanti tamunya kebagian kuah saja.
Semua ikut tertawa.
Kesibukan di dapur terus bergerak mengikuti jam. Setelah bumbu selesai dihaluskan dan kuah mulai matang, pekerjaan yang semula terasa terburu-buru berubah menjadi lebih longgar. Beberapa ibu bergantian mengaduk panci agar santan tidak pecah, sementara yang lain mulai menata lauk ke dalam tampah-tampah besar sebelum nanti dipindahkan ke meja penyajian. Di sela-sela pekerjaan itulah percakapan menjadi semakin ramai, seolah tangan mereka telah hafal apa yang harus dilakukan tanpa perlu lagi dipikirkan.