REWANG

Richi Rizkya
Chapter #3

Kursi

Selepas salat Isya, satu per satu tamu syukuran mulai berpamitan. Halaman yang sejak magrib dipenuhi tikar kini kembali memperlihatkan tanah yang masih lembap setelah beberapa kali disiram untuk mengurangi debu. Di sudut teras, piring-piring kotor bertumpuk menunggu dibawa ke belakang, sementara ibu-ibu yang sejak pagi berada di dapur masih sibuk mencuci peralatan masak di bawah lampu bohlam yang menggantung rendah. Rumah Brata belum benar-benar beristirahat. Ketika sebagian orang menganggap syukuran telah selesai, pekerjaan lain justru baru akan dimulai.

Di bawah pohon mangga, beberapa bapak memilih untuk tidak pulang. Bangku plastik yang tadi dipakai untuk menjamu tamu ditarik membentuk lingkaran kecil. Gelas-gelas kopi kembali terisi, rokok dinyalakan bergantian, lalu obrolan mengalir ke mana-mana, mulai dari harga pupuk yang terus naik hingga jalan desa yang tak kunjung diperbaiki. Brata ikut duduk bersama mereka, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Sesekali ia hanya mengangguk atau tersenyum ketika candaan dilemparkan ke arahnya.

Pak Karyo datang paling akhir sambil membawa meteran gulung yang sedari tadi dititipkan di rumahnya. Lelaki sepuh itu memang selalu menjadi orang pertama yang diminta membantu setiap kali ada warga mengadakan hajatan. Ia bukan tukang dekorasi, tetapi hampir semua orang kampung percaya bahwa Pak Karyo tahu bagaimana memanfaatkan halaman sempit agar cukup menampung tamu. Tanpa banyak bicara, ia berdiri di tengah halaman, membentangkan meteran dari teras hingga pagar depan, lalu meminta dua pemuda memegang ujungnya.

Obrolan perlahan terhenti. Beberapa bapak bangkit dari duduknya dan ikut mendekat. Pak Karyo menunjuk beberapa titik di tanah dengan ujung sandal, menjelaskan di mana tiang tenda akan berdiri, ke arah mana pintu masuk sebaiknya dibuat, serta bagian mana yang perlu dibiarkan kosong agar orang tetap leluasa keluar-masuk rumah. Tak ada gambar, tak ada denah. Semua hanya mengandalkan pengalaman yang berulang dari satu hajatan ke hajatan berikutnya.

Brata berdiri bersama Pak Karyo di tengah halaman, mengamati setiap jengkal tanah di depan rumahnya. "Kalau tendanya sampai pagar itu, kursinya muat berapa, Pak?" tanyanya. Pak Karyo menghitung sebentar sebelum menggeleng pelan. "Seratus lima puluh masih bisa, tapi jalannya bakal sempit." Seorang tetangga yang sedari tadi ikut memperhatikan langsung menimpali, "Seratus lima puluh mana cukup, Pak Brata. Keluarga dari Madiun saja banyak, belum teman-teman Kinan. Masa hajatan anak pertama, kursinya sampai kurang?"

Pembicaraan yang semula hanya membahas letak tiang perlahan berubah menjadi hitung-hitungan jumlah tamu. Setiap orang menyebut angka berdasarkan perkiraannya sendiri. Ada yang mengingat hajatan anak Pak Lurah tahun lalu; ada yang membandingkan dengan pesta keponakannya beberapa bulan sebelumnya. Tak seorang pun bermaksud menggurui Brata. Mereka hanya berbagi pengalaman, sebagaimana yang selalu dilakukan setiap kali ada tetangga yang punya gawe.

Pak Karyo kembali memandangi halaman sebelum menepuk pelan meteran di tangannya. "Tambah dua puluh atau tiga puluh kursi saja, Pak. Lebih aman." Kinan keluar membawa nampan berisi teh hangat tepat ketika pembicaraan bergeser dari hitungan kursi menjadi hitungan biaya. Ia tak ikut menyela. Sambil meletakkan gelas di hadapan para tamu, yang tertinggal di telinganya hanya potongan-potongan kalimat: "...kalau kurang nanti malu...""...ditambah saja...""...anak pertama..."

Ayahnya tidak banyak berbicara. Ia hanya lebih sering mengangguk daripada menyanggah.

Kinan membawa nampan kosong kembali ke dapur dengan langkah yang lebih pelan daripada ketika ia keluar tadi. Wening yang sedang menyusun beberapa piring di meja makan sempat memperhatikannya, tetapi Kinan tidak mengatakan apa-apa sampai nampan itu diletakkan di dekat bak cuci. Baru setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka, Kinan berkata, “Mereka mau nambah kursi lagi?” Wening mengangguk dan mengatakan bahwa kemungkinan akan ditambah dua puluh atau tiga puluh, sebab keluarga dari Madiun diperkirakan datang lebih banyak daripada yang semula dihitung.

Kinan bersandar sebentar pada meja dapur. “Padahal aku sudah bilang ke Om Darto kalau datang jangan bawa rombongan. Cukup keluarga inti.” Wening menoleh, baru mengetahui hal itu. Kinan kemudian menjelaskan bahwa sejak beberapa hari lalu ia memang sudah menghubungi beberapa kerabat yang tinggal jauh agar tidak perlu merasa sungkan membawa seluruh keluarga, terutama karena mereka harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk menghadiri akad dan syukuran. “Aku nggak enak kalau mereka datang jauh-jauh terus kita malah harus keluar lebih banyak,” katanya, lalu tersenyum kecil. “Tapi mungkin mereka juga nggak enak kalau nggak datang.”

Wening ikut tersenyum, meski pikirannya kembali kepada percakapan di halaman. “Kalau begitu, bilang saja ke Bapak supaya nggak usah ditambah.” Kinan menggeleng pelan. “Bapak nggak akan mau.” Ia menatap ke arah pintu belakang yang terbuka, tempat suara bapak-bapak masih terdengar samar dari halaman. “Bapak tidak takut kursinya kurang. Bapak takut ada orang yang pulang merasa keluarganya nggak dihargai.”

Kalimat itu membuat Wening terdiam. Beberapa hari terakhir ia mulai melihat bahwa hampir setiap keputusan di rumah mereka selalu punya alasan yang sama. Tidak ada yang secara terang-terangan meminta mereka mengeluarkan lebih banyak uang, tetapi selalu ada kemungkinan bahwa seseorang merasa kurang dihargai, merasa tidak mendapat tempat, atau membandingkan hajatan mereka dengan hajatan orang lain.

Dari halaman terdengar suara Brata memanggil Murti. Keduanya sedang membicarakan penyedia tenda, dan Wening sempat mendengar angka tambahan yang disebutkan Murti sebelum percakapan mereka tertutup oleh suara orang lain. Kinan menoleh kepada adiknya, lalu berkata pelan, “Kalau nanti semuanya selesai, jangan bilang ke Bapak aku yang minta sederhana.” Wening tertawa kecil. “Kenapa?” Kinan merapikan ujung lengan bajunya sebelum menjawab, “Karena kalau aku bilang, nanti Bapak merasa aku nggak menghargai usahanya.”

Wening tidak lagi tertawa. Ia memandang kakaknya beberapa saat, lalu baru memahami bahwa Kinan pun sebenarnya berada di tengah persoalan yang sama. Ia ingin pernikahannya berjalan sederhana, tetapi setiap kali mencoba mengurangi sesuatu, selalu ada orang lain yang menganggap pengurangan itu sebagai bentuk kekurangan. Dan tanpa sadar, orang yang paling ingin membuat semua orang merasa cukup justru adalah ayah mereka sendiri.

Ketika Wening hendak kembali ke ruang depan, Kinan menahannya sebentar. “Kalau nanti kursinya benar-benar ditambah, jangan ikut mikirin, ya.” Wening mengangkat alis. “Kenapa?” Kinan tersenyum tipis. “Karena kalau semua orang di rumah ini ikut menghitung, nanti nggak ada yang sempat menikmati hajatan.”

Wening mengangguk, tetapi ketika ia kembali mendengar suara bapak-bapak dari halaman, kalimat terakhir kakaknya justru terasa semakin sulit diucapkan. Sebab di rumah itu, bahkan sebelum pesta dimulai, semua orang sudah mulai menghitung sesuatu.

Lihat selengkapnya