Pagi itu ruang tamu kembali dipenuhi tumpukan barang yang belum selesai dikerjakan. Di satu sisi, ibu-ibu Rewang masih melipat kotak suvenir sambil menempelkan pita dan kartu ucapan. Di sisi lain, beberapa lembar undangan yang belum dibagikan terikat rapi dengan karet gelang, diletakkan berdampingan dengan buku tulis bergaris yang sampulnya mulai kusam. Sejak subuh, Murti sudah beberapa kali membuka buku itu, mencoret nama, lalu menutupnya kembali ketika teringat masih ada orang yang belum berhasil ditemui kemarin.
Wening semula mengira semua undangan telah selesai dibagikan. Namun, ketika melihat puluhan amplop masih tersusun rapi di atas meja, ia tak kuasa menyembunyikan herannya. "Masih banyak?" tanyanya sambil mengambil satu amplop. Murti mengangguk pelan sembari terus mencatat. "Kemarin beberapa rumah kosong. Ada yang lagi ke sawah, ada yang ke pasar. Hari ini dicoba lagi."
Baginya, semua itu tampak seperti pekerjaan yang seharusnya sudah selesai sejak beberapa hari lalu. Ia tidak mengerti mengapa undangan masih terus bertambah, padahal waktu menuju akad tinggal menghitung hari.
Murti memisahkan beberapa amplop dari tumpukan lainnya sebelum mendorongnya perlahan ke arah Wening. "Yang ini tonjokan," katanya. "Bukan sekadar undangan. Nanti diantar langsung ke rumah-rumah keluarga dekat sambil membawa berkat. Kalau orang sudah menerima tonjokan, rasanya nggak enak kalau sampai nggak datang." Wening mengangguk pelan. Ia baru teringat, sejak kecil ibunya memang selalu membantu menyiapkan beberapa kotak berisi nasi, lauk, dan jajanan khusus untuk dibawa berkeliling sehari menjelang hajatan tetangga.
Tak lama kemudian Brata keluar dari kamar sambil mengenakan kemeja lengan panjang yang biasa dipakainya jika harus bertamu. Ia duduk di samping Murti, menarik buku bergaris itu sedikit mendekat, lalu mulai membaca nama demi nama yang telah dicoret maupun yang masih kosong. Sesekali Murti berhenti pada satu nama, mengerutkan dahi sambil mengingat-ingat. "Pak Tulus belum ketemu. Kemarin rumahnya kosong." Brata mengangguk pelan. "Besok datangi lagi. Orang lama jangan sampai nggak kebagian undangan."
Belum sempat Murti memberi tanda pada nama itu, Sekar keluar membawa nampan berisi teh hangat. Sekilas matanya menangkap daftar undangan yang masih terbuka di atas meja. "Bu Lastri, penjual sate ayam dekat terminal, sudah masuk belum?" tanyanya. Murti menggeleng pelan. Sekar tersenyum tipis. "Jangan sampai lupa waktu dia mantu, kita datang. Sekarang giliran kita yang sowan."
Ipar Sekar itu pun segera menambahkan satu nama lagi ke dalam daftar. Tak lama kemudian Brata kembali teringat seseorang yang lain. Sekar menyebut dua nama tambahan. Setiap kali satu nama berhasil diingat, daftar yang semula tampak hampir selesai justru kembali memanjang. Wening memperhatikan semuanya dengan heran. Ia tidak pernah menyangka menyusun daftar undangan bisa lebih sulit daripada menulis daftar belanja.
"Pak..." Wening mengangkat wajah dari amplop yang sedang dipegangnya. "Kok yang diundang malah nambah terus?" Brata tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu memang sudah diduganya sejak tadi. "Namanya juga baru ingat." Wening menggeleng pelan. "Tapi memang harus semuanya?"
Pertanyaan itu membuat Murti menghentikan bolpoinnya, sementara Sekar perlahan mengangkat pandangan dari cangkir teh di tangannya. Brata menutup buku daftar undangan, lalu berkata pelan, "Bukan harus semua. Tapi ada orang-orang yang kalau sampai nggak kita datangi, bukan karena mereka ingin dihormati, melainkan karena kita yang nanti dianggap lupa menghargai."
Brata tidak langsung menjawab. Ia menatap deretan nama yang memenuhi halaman buku bergaris itu. Beberapa nama bahkan sudah sulit diingat wajahnya, tetapi kenangan tentang hajatan mereka masih tersimpan jelas di kepalanya. Ada yang mengundang ketika Kinan masih duduk di bangku SD, ada yang saat Wening belum masuk sekolah, ada pula yang datang ketika keluarga mereka masih tinggal di rumah lama.
"Dulu mereka pernah mengabari kita," ucap Brata akhirnya. "Sekarang kita punya hajat. Rasanya tidak enak kalau mereka tidak tahu."
Wening masih belum sepenuhnya mengerti. Baginya, mengundang seseorang seharusnya berangkat dari kedekatan, bukan dari ingatan tentang siapa yang lebih dulu datang. Namun ia memilih diam ketika melihat ayahnya kembali membuka buku itu dengan hati-hati, seolah setiap nama yang tertulis di sana membawa cerita yang tak bisa disederhanakan menjadi sekadar daftar tamu.
Di halaman berikutnya masih banyak baris kosong. Dan Brata merasa, sebelum hari itu berakhir, beberapa di antaranya pasti akan kembali terisi.
Menjelang siang, panas matahari mulai terasa menyengat ketika Brata mengikat tumpukan undangan dengan seutas karet gelang. Sebagian dimasukkan ke dalam tas kain berwarna cokelat yang sudah tampak kusam di sudut-sudutnya, sementara sisanya ditinggalkan di atas meja untuk diantar sore nanti. Murti masih tinggal di rumah membantu ibu-ibu menyelesaikan suvenir, sehingga hari itu Brata memutuskan untuk berkeliling sendiri. Saat hendak mengenakan sandal, Wening yang sejak tadi memperhatikan dari ruang tamu tiba-tiba berdiri.
"Pak, aku ikut."
Brata menoleh sebentar, lalu mengangguk tanpa banyak bertanya. Motor bebek tua yang biasa dipakainya keluar perlahan dari halaman rumah. Di jok belakang, tas berisi undangan diletakkan di antara mereka agar tidak terjatuh ketika melewati jalan kampung yang sebagian masih berupa batu dan tanah padat. Udara siang terasa hangat, tetapi angin yang menerpa sepanjang perjalanan cukup mengurangi gerah yang sejak pagi menempel di tubuh.