REWANG

Richi Rizkya
Chapter #5

Ayam Goreng

H-1 selalu menjadi hari yang paling melelahkan dalam setiap hajatan. Sejak matahari belum tinggi, dapur rumah Brata telah dipenuhi perempuan-perempuan yang datang silih berganti membawa celemek, pisau, atau sekadar tangan yang siap membantu. Mereka masuk tanpa perlu dipersilakan, membuka lemari tanpa bertanya, mengambil baskom yang mereka butuhkan seolah-olah sudah hafal letaknya. Di rumah-rumah kampung, dapur memang memiliki kebiasaan aneh. Semakin banyak orang yang membantu, semakin sedikit hak tuan rumah untuk mengatur isinya.

Sekar hanya berdiri di dekat meja kayu sambil mengamati dapur yang bergerak tanpa henti. Baru saja tangannya meraih garam, seseorang lebih dulu menyodorkannya; ketika hendak mengambil talenan, ibu lain segera mengingatkan, "Yang itu buat daging, Bu." Belum sempat berpindah, suara lain menyusul dari arah tungku, meminta agar kompor satunya dinyalakan. Dalam hitungan menit, Sekar menyadari tak ada satu pun pekerjaan yang benar-benar sempat ia selesaikan sendiri.

Tak satu pun ucapan terdengar seperti perintah. Semuanya lahir dari kebiasaan orang-orang yang telah puluhan kali rewang bersama, sehingga setiap gerakan mengalir tanpa perlu banyak disepakati. Sekar hanya mengangguk sambil berpindah dari satu sudut ke sudut lain, mengikuti irama yang telah lebih dulu dikuasai ibu-ibu itu. Di dapur yang selama ini menjadi wilayahnya, ia justru merasa menjadi tamu di rumah sendiri.

Kinan berkeliling mencari ibunya. Ruang tamu telah dipenuhi koper keluarga dari Madiun, teras sesak oleh kursi-kursi plastik yang belum ditata, sementara dapur nyaris tak menyisakan celah untuk berdiri. Baru di belakang rumah, ia menemukan Sekar sedang menyuap beberapa sendok nasi dari piring enamel sambil berdiri di bawah pohon mangga. "Ibu dari tadi dicari orang-orang," katanya pelan. Sekar hanya tersenyum kecil, menelan suapan terakhirnya sebelum menjawab, "Biar Ibu habiskan dulu. Nanti lanjut lagi."

Tidak lama kemudian, Bu Ranti datang dengan kantong plastik berisi cabai rawit yang baru dipetik dari kebun belakang rumahnya. Belum sempat duduk, pandangannya sudah menyapu seluruh dapur sebelum berhenti pada tampah berisi ayam goreng. "Lho, ayamnya sudah digoreng semua?" tanyanya. Bu Sarmi mengangguk tanpa menghentikan tangannya membalik tempe. "Sudah. Memang dari dulu saya memasaknya begitu." 

Bu Ranti tersenyum kecil, lalu menarik bangku ke samping tungku. "Aku cuma kasih usul, lho. Biasanya ayam buat besok cukup setengah matang dulu. Pas dipanasin lagi warnanya masih cantik." Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada yang tetap ringan, "Orang datang ke hajatan itu aneh. Masakan yang enak belum tentu dipuji, tapi ayam kelihatan kering sedikit saja, besok sudah jadi bahan cerita.

Beberapa ibu yang sedang mengiris sayur saling memandang sambil menahan senyum. Mereka mengenal Bu Ranti cukup lama untuk tahu bahwa setiap kalimatnya hampir selalu diawali dengan "aku sih ya", lalu berakhir dengan sesuatu yang membuat orang lain berpikir dua kali.

Sekar yang sedari tadi hanya mendengarkan mulai merasa tak tenang. Pandangannya bergantian jatuh pada tampah berisi ayam dan wajah Bu Sarmi yang tetap tenang di depan wajan. "Kalau menurut Bu Sarmi bagaimana?" tanyanya pelan. Bu Sarmi baru mengangkat kepala. "Kalau saya, yang penting matangnya pas. Orang datang buat makan, bukan menghitung warna ayam." " 

Bu Ranti terkekeh kecil sambil menarik kursi dan mulai memetik tangkai cabai di pangkuannya. "Itu kalau semua tamunya begitu, Bu." Ia menggeleng pelan sebelum melanjutkan, "Masalahnya, orang kampung kadang lebih ingat yang kurang daripada yang baik. Makanannya habis, tapi yang dibawa pulang justru ceritanya." 

"Ya nggak gratis juga, Bu," sahut Bu Sarmi tanpa mengurangi kesibukannya. "Orang datang kan juga bawa buwuh." Beberapa ibu mengangguk setuju. Bu Tutik yang sedari tadi membungkus kerupuk ikut menimpali, "Betul. Waktu hajatan Bu Yati kemarin, makanannya enak semua, tapi yang jadi omongan malah es tehnya kurang manis." 

Bu Ranti tersenyum tipis, seolah itulah yang sejak tadi ingin ia sampaikan. "Makanya yang capek itu bukan masaknya, tapi menjaga supaya orang pulang tanpa bahan cerita." Sekar tak ikut menanggapi. Untuk pertama kalinya sejak persiapan hajatan dimulai, ia menyadari bahwa mengenyangkan tamu ternyata jauh lebih mudah daripada memuaskan penilaian mereka.

Sekar tersenyum tipis, tetapi dadanya terasa semakin berat. Sejak beberapa hari terakhir, hampir setiap orang datang membawa pengalaman, saran, atau peringatan. Semuanya terdengar masuk akal. Semuanya terasa tulus. Namun semakin banyak yang ia dengar, semakin ia takut membuat kesalahan.

Lihat selengkapnya