REWANG

Richi Rizkya
Chapter #7

Akad

"Sah."

Satu kata itu mengakhiri tarikan napas yang sejak beberapa menit terakhir seolah ditahan oleh seluruh isi rumah. Tepuk tangan segera pecah, disusul ucapan syukur yang bertumpang tindih dari berbagai penjuru ruangan. Brata menggenggam tangan menantunya sedikit lebih lama sebelum melepaskannya, lalu menarik tubuh Kinan ke dalam pelukan. Di sudut lain, beberapa perempuan mengusap mata dengan ujung kerudung masing-masing. Ada yang menangis karena haru, ada yang ikut lega setelah berbulan-bulan menunggu hari itu benar-benar tiba.

Kinan menunduk mencium tangan ayahnya lebih lama daripada yang direncanakan. Jemarinya kemudian berpindah ke tangan Sekar, yang sejak tadi berusaha menahan air mata agar riasan tipis di wajahnya tidak luntur sebelum sesi foto keluarga dimulai. Ketika dahi Kinan menyentuh punggung tangan ibunya, perempuan itu hanya mampu mengusap kepala putrinya perlahan. Tak ada petuah panjang, tak ada kalimat yang telah disusun semalam suntuk. Semua nasihat yang ingin diucapkan terasa terlalu kecil dibandingkan dengan perasaan yang memenuhi dadanya saat itu.

Wening berdiri beberapa langkah di belakang para tamu perempuan. Sejak pagi ia membantu mengatur jalannya acara, sesekali diminta mengambil air minum, sesekali diminta memanggil saudara yang belum masuk ke ruang akad. Kini, untuk pertama kalinya sejak rumah itu dipenuhi orang, ia bisa berhenti sejenak dan memandang Kinan tanpa tergesa-gesa. Perempuan yang beberapa hari lalu masih duduk di dapur membersihkan bawang bersama ibu-ibu rewang, kini telah sah menjadi istri seseorang. Perubahan itu terjadi hanya dalam satu tarikan napas penghulu.

Belum sempat suasana haru benar-benar reda, seorang anak remaja muncul di ambang pintu ruang tamu. Ia mencari-cari seseorang di antara kerumunan, lalu menghampiri Murti yang berdiri tidak jauh dari Sekar. Anak itu membungkuk, membisikkan sesuatu yang membuat wajah Murti seketika berubah. Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan, kemudian menoleh ke arah Sekar.

"Dik..." panggil Murti pelan. Saat Sekar menoleh, ia tak langsung berbicara, hanya memberi isyarat kecil ke arah belakang rumah. Sekar segera memahami maksud kakak iparnya. Ia mengusap pelan lengan Kinan yang masih dikelilingi keluarga besar, lalu berbisik, "Ibu ke belakang sebentar." Kinan hanya mengangguk. Di tengah ramainya ucapan selamat, kepergian satu orang tak cukup menarik perhatian siapa pun. 

Namun, Wening segera menangkap perubahan itu. Selama tiga hari terakhir, Murti tak pernah terlihat panik; perempuan itu selalu menjadi orang pertama yang mengambil keputusan ketika bahan makanan kurang, listrik padam, atau pekerjaan dapur mulai kacau. Jika kali ini ia memilih memanggil Sekar tanpa sepatah kata pun di hadapan banyak orang, Wening yakin ada sesuatu yang tak ingin didengar telinga lain. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan menyusul keduanya ke belakang rumah.

Begitu melewati lorong samping rumah, suara tepuk tangan dan ucapan selamat perlahan digantikan oleh denting piring, bunyi centong yang membentur bibir dandang, serta aroma santan yang semakin pekat. Dapur masih dipenuhi ibu-ibu yang bekerja. Sebagian sedang menata lauk untuk tamu gelombang berikutnya, sebagian lagi membungkus berkat di sudut ruangan. Dari luar, semuanya tampak berjalan seperti biasa.

Sampai Murti membuka tutup baskom berisi ayam goreng. Tangannya berhenti, lalu menghitung dalam hati, lalu membuka baskom kedua.

Sekar ikut mendekat. "Ada apa, Mbak?"

Murti tidak langsung menjawab. Ia kembali menghitung, kali ini lebih pelan. Wening ikut memandang ke dalam baskom yang mulai kosong di beberapa bagian. Ia tidak tahu berapa jumlah yang seharusnya tersisa, tetapi dari cara Murti memindahkan potongan ayam satu per satu, ia mengerti bahwa hitungan di kepala perempuan itu tidak lagi sama dengan yang ada di depan mata.

"Harusnya masih penuh," gumam Murti lebih kepada dirinya sendiri. "Tamu gelombang pertama belum sebanyak ini."

Sekar ikut memeriksa baskom lain. Tempe mulai menipis. Telur balado tinggal setengah nampan. Kerupuk yang pagi tadi memenuhi karung plastik kini hanya menyisakan remah-remah di dasar.

"Mungkin tadi kebanyakan disajikan?" bisik Sekar.

Murti menggeleng. "Bukan." Jawabannya pendek, tetapi cukup membuat Wening menahan napas.

Murti berjongkok, meraih sesuatu yang terselip di bawah meja kayu tempat piring-piring ditumpuk. Sebuah kantong kresek hitam yang bagian bawahnya mulai mengilap oleh minyak perlahan ditarik keluar. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Jumlahnya tiga, tak satu pun diberi nama. Dan tak satu pun berada di daftar pembagian berkat.

Murti memandang ketiga kantong itu cukup lama, seolah berharap isinya berubah hanya karena ia belum berani membukanya. Akhirnya ia membuka simpul pada kantong pertama. Wening berdiri tepat di sampingnya. Begitu plastik itu tersibak, aroma ayam goreng yang masih hangat langsung menyeruak. Di bawahnya tersusun telur balado, tempe, tahu, kerupuk, bahkan beberapa potong daging yang belum seharusnya keluar dari dapur.

Murti menutup mata sesaat. Lalu mengangkat wajahnya ke arah para ibu yang masih bekerja. Dengan suara yang tetap dijaga agar tidak terdengar keluar dapur, ia bertanya,

"Ini... punya siapa?"

Lihat selengkapnya