Sesudah prosesi akad usai, rumah itu tidak benar-benar menjadi lebih tenang. Justru pada saat para tamu mulai memenuhi ruang makan, kesibukan berpindah dari ruang depan ke belakang rumah. Orang-orang yang sejak pagi mengantre untuk bersalaman kini bergantian mencari tempat duduk, sementara ibu-ibu yang sejak subuh bergelut dengan tungku kembali mengangkat baskom demi baskom ke meja hidang. Dari kejauhan semua tampak berjalan sebagaimana mestinya; orang tertawa, anak-anak berlarian di halaman, suara pembawa acara sesekali memanggil nama keluarga pengantin untuk sesi foto berikutnya. Namun bagi Wening, keramaian itu terasa seperti kain lebar yang menutupi sesuatu yang sedang bergerak pelan di bawahnya.
Ia baru saja membantu seorang tamu lanjut usia mencari tempat duduk ketika Murti muncul dari lorong dapur dengan langkah yang jauh lebih lambat daripada biasanya. Perempuan itu tidak lagi sibuk memberi aba-aba kepada ibu-ibu rewang seperti sejak tiga hari terakhir. Buku catatan yang selalu terselip di saku celemek kini berada di tangannya, terbuka pada halaman yang penuh coretan angka. Murti berhenti di hadapan Wening tanpa lebih dulu menyapa tamu-tamu yang melintas di sampingnya. Pandangannya tidak lagi menunjukkan ketegasan yang selama ini membuat semua orang merasa pekerjaan di dapur selalu berada dalam kendali.
"Aku sudah menghitungnya tiga kali," katanya perlahan sambil menyerahkan buku itu kepada Wening. "Semuanya sesuai dengan daftar belanja, tetapi lauknya tetap tidak cukup. Coba kamu hitung sekali lagi. Barangkali ada yang luput dari mataku."
Buku catatan itu berpindah ke tangannya tanpa banyak penjelasan. Selama beberapa hari berada di rumah, gadis itu belum pernah melihat Murti meminta siapa pun memeriksa hitungannya; perempuan itulah yang selalu lebih dahulu menemukan selisih, bahkan ketika pedagang datang membawa pesanan yang kurang. Pengalaman puluhan tahun mengurus dapur hajatan membuat angka-angka di dalam buku itu nyaris tak pernah meleset. Karena itulah, ketika buku itu diserahkan kepadanya, Wening merasa yang sedang dipindahkan bukan sekadar catatan belanja, melainkan keyakinan Murti yang perlahan mulai runtuh.
Wening membuka halaman demi halaman. Di sana tercatat jumlah beras, ayam, telur, minyak goreng, hingga kerupuk yang dibeli beberapa hari sebelumnya. Di sisi lain terdapat perhitungan jumlah tamu, cadangan untuk keluarga, dan perkiraan sisa yang bahkan menurut catatan itu masih cukup untuk tamu yang datang tanpa undangan. Tidak ada angka yang terasa janggal. Semuanya tersusun rapi, seperti soal berhitung yang jawabannya seharusnya hanya satu. Akan tetapi, ketika ia mengangkat kepala dan mengikuti Murti menuju deretan baskom di dapur, kenyataan yang terhampar di hadapannya seolah sedang mengejek seluruh hitungan itu.
Halaman demi halaman dibalik perlahan, lalu dicocokkan dengan deretan baskom yang berjajar di atas meja panjang. Catatan belanja itu nyaris tak menyisakan celah untuk sebuah kekeliruan; jumlah ayam, telur, beras, hingga cadangan bagi tamu yang datang tanpa undangan telah ditulis dengan rinci sejak hari pertama persiapan dimulai. Namun angka-angka yang tampak begitu meyakinkan di atas kertas seolah kehilangan artinya begitu berhadapan dengan kenyataan. Beberapa baskom mulai memperlihatkan dasar aluminiumnya, sementara dari ruang makan terdengar suara piring kembali berdenting, pertanda tamu terus berdatangan tanpa mengetahui bahwa dapur perlahan kehabisan jawaban.
Murti menarik buku itu kembali, lalu mengulang hitungan dari awal dengan bibir yang bergerak pelan mengikuti deretan angka. Sesekali ia berhenti, mencoret satu baris, lalu menuliskannya kembali seolah berharap kekeliruan itu muncul dari ujung pensilnya sendiri. "Aku tidak pernah meleset sejauh ini," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatan. "Kalau cuma selisih satu atau dua porsi, masih mungkin. Tapi ini seperti ada puluhan porsi yang hilang begitu saja." Kalimat itu tidak ditujukan kepada siapa pun, melainkan kepada dirinya sendiri, kepada pengalaman puluhan tahun yang mendadak tak lagi mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Belum sempat keduanya menyimpulkan apa pun, seorang gadis yang bertugas menyajikan hidangan datang tergesa dari ruang makan. Wajahnya tampak kebingungan ketika mengatakan bahwa meja hidang mulai kehabisan ayam, sementara tamu gelombang berikutnya sudah memenuhi kursi-kursi yang baru saja dikosongkan. Ia juga menyampaikan beberapa tamu mulai bertanya mengapa lauk yang diterima berbeda dengan tamu yang datang lebih awal. Murti memejamkan mata sejenak, lalu membuka salah satu baskom yang tersisa. Isinya tak lebih dari beberapa potong ayam yang bahkan tak cukup memenuhi satu nampan saji.
Wening membantu mengangkat baskom-baskom lain dengan harapan masih ada cadangan yang belum sempat dikeluarkan. Rak penyimpanan telah kosong. Meja persiapan tinggal menyisakan panci-panci besar yang mulai mengering di dasarnya. Di sudut dapur, beberapa kantong plastik hitam tampak tersusun rapi menunggu pemiliknya mengambil pulang. Ketika salah satunya bergeser karena tersenggol ember, bagian mulut kantong yang tidak terikat rapat memperlihatkan potongan ayam goreng dan telur balado yang masih utuh dalam jumlah yang tak sedikit.
Pandangan Wening berhenti cukup lama pada kantong-kantong itu. Ingatannya segera kembali kepada pertengkaran beberapa saat sebelumnya, ketika persoalan membawa pulang lauk nyaris membuat ibu-ibu rewang meninggalkan dapur. Ia memahami mengapa tak seorang pun lagi berani menyentuh persoalan itu. Namun, semakin lama ia memandangi deretan kantong tersebut, semakin sulit pula ia mengabaikan kenyataan bahwa lauk yang dicari-cari keluarga Brata mungkin tidak pernah benar-benar hilang. Lauk itu hanya berpindah tempat, sedikit demi sedikit, dibawa pulang atas nama kebiasaan yang selama bertahun-tahun tak pernah dipersoalkan.