REWANG

Richi Rizkya
Chapter #10

Amplop

Sehari sebelum akad, halaman dipenuhi tamu yang datang silih berganti, suara anak-anak berlarian di sela kursi plastik, serta aroma masakan yang tak pernah benar-benar hilang dari dapur. Kini tenda mulai dibongkar, janur di depan pagar kehilangan kesegarannya, sementara beberapa laki-laki mengangkat rangka besi ke atas truk sewaan tanpa banyak bercakap. Hajatan yang selama berbulan-bulan memenuhi isi kepala keluarga Brata akhirnya selesai hanya dalam hitungan jam, meninggalkan rumah yang mendadak terasa terlalu lapang.

Di belakang rumah, dapur belum sepenuhnya kembali seperti semula. Panci-panci besar masih bertumpuk menunggu giliran dicuci, sementara beberapa tampah dan baskom yang dipinjam dari tetangga disandarkan di dekat dinding agar mudah dikembalikan. Sekar memeriksa satu per satu peralatan itu dengan daftar kecil di tangannya, khawatir ada barang yang tertinggal atau tertukar. Sejak semalam perempuan itu hampir tak benar-benar beristirahat. Namun, dibandingkan dengan kelelahan yang memenuhi tubuhnya, pikirannya justru tampak lebih berat memikul sesuatu yang belum selesai.

Murti menjadi orang terakhir yang datang pagi itu. Perempuan itu hanya singgah sebentar untuk mengambil panci-panci miliknya sambil memastikan tak ada peralatan dapur yang masih tercecer. Sebelum berpamitan, ia sempat menepuk lengan Sekar pelan. "Kalau badan sudah capek, pekerjaan bisa ditunda sehari," katanya lirih. "Tapi jangan kebanyakan dipikir. Hajatan sudah selesai." Sekar hanya mengangguk sambil memaksakan senyum. Ia tahu Murti sedang berusaha menghiburnya, meskipun keduanya sama-sama mengerti bahwa tidak semua urusan ikut selesai bersama bubarnya tenda.

Menjelang siang, Kinan keluar dari kamar dengan pakaian sederhana yang membuatnya kembali tampak seperti anak perempuan yang selama ini tinggal di rumah itu. Kebaya dan riasan pengantin telah berganti menjadi daster bermotif bunga, sementara sanggul yang semalam dipenuhi melati kini tinggal ikatan rambut seadanya. Ia membantu ibunya merapikan beberapa bingkisan yang akan dibawa ke rumah mertua sebelum berpamitan kepada setiap anggota keluarga. Tak ada tangis panjang ataupun pelukan yang berlarut-larut. Brata hanya mengusap kepala putrinya sebentar, lalu menepuk bahu menantunya sambil berpesan agar mereka saling menjaga. Motor yang membawa keduanya perlahan menghilang di ujung jalan, meninggalkan halaman yang kembali lengang.

Wening berdiri cukup lama di teras setelah motor itu tak lagi terlihat. Sejak kemarin, ia belum benar-benar memiliki kesempatan berbicara dengan Kinan selain beberapa kalimat yang terpotong oleh tamu dan kesibukan rumah. Ada rasa lega melihat adiknya memulai kehidupan baru dengan senyum yang tetap utuh, tetapi di saat yang sama ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Rumah itu kehilangan satu penghuninya hanya dalam semalam, sementara orang-orang yang ditinggalkan justru tampak semakin sibuk membereskan sisa-sisa kebahagiaan yang baru saja mereka rayakan.

"Masuk, Ning," panggil Sekar dari ruang tengah. "Masih ada yang harus dibereskan."

Ketika memasuki ruang tamu, Wening melihat sebuah kardus telah diletakkan di atas meja kayu. Kardus itu berisi amplop dengan berbagai ukuran dan warna, sebagian masih rapi, sebagian lagi sedikit kusut karena sempat berpindah tangan sepanjang hari kemarin. Sekar duduk di depannya sambil memisahkan amplop-amplop itu ke dalam dua tumpukan yang berbeda. Gerakannya pelan, nyaris seperti orang sedang menyusun surat-surat penting yang tak boleh tertukar.

"Yang ini dari meja penerima tamu," ujar Sekar sambil mendorong tumpukan yang lebih besar ke arah Brata. "Yang kemarin dicatat sama saudara-saudara." Ia kemudian menunjuk beberapa amplop lain yang jumlahnya jauh lebih sedikit. "Kalau yang ini, semalam diberikan langsung ke Kinan di pelaminan. Sudah dia bawa sebelum berangkat ke rumah mertuanya."

Wening memperhatikan pembagian itu tanpa bertanya. Sejak kecil ia memang mengenal kebiasaan tersebut, tetapi baru kali ini melihat sendiri bagaimana perbedaannya dijaga begitu ketat. Di kampung mereka, amplop yang diserahkan langsung kepada pengantin dianggap sebagai bekal awal bagi rumah tangga yang baru dibangun. Sementara amplop yang dimasukkan ke kotak di meja penerima tamu merupakan buwuh untuk pemilik hajat, uang yang sejak lama dipahami sebagai cara keluarga, tetangga, dan kerabat saling meringankan beban ketika sebuah pesta harus diselenggarakan.

Brata menarik tumpukan amplop itu mendekat tanpa segera membukanya. Di sampingnya telah tersedia sebuah kalkulator tua, buku catatan bergaris, dan bolpoin yang tintanya mulai memudar. Lelaki itu memandang kardus tersebut beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang. "Kita selesaikan sekarang," katanya pelan. "Biar setelah ini tidak ada lagi yang menggantung."

Wening menarik kursi dan duduk di samping ibunya. Semula ia mengira pekerjaan itu hanya sekadar menghitung berapa banyak buwuh yang diterima keluarga mereka. Namun, dari cara ayahnya menyiapkan buku catatan dan beberapa lembar kertas pengeluaran yang dilipat rapi, ia mulai merasa bahwa pagi itu mereka bukan sekadar membuka amplop. Mereka sedang membuka sesuatu yang selama ini sengaja ditutup rapat sejak persiapan hajatan dimulai.

Amplop pertama dibuka oleh Sekar, kemudian isinya diserahkan kepada Brata untuk dicatat. Nama pengirim dibacakan pelan agar tak tertukar dengan catatan tamu yang semalam ditulis di meja penerima, sementara Wening mengelompokkan amplop kosong ke sisi lain meja. Nominal yang muncul hampir serupa satu sama lain dua puluh lima ribu, lima puluh ribu, sesekali seratus ribu dari saudara dekat—membentuk irama yang begitu berulang hingga suara kalkulator jauh lebih sering terdengar daripada percakapan di antara mereka.

Tak seorang pun tampak kecewa setiap kali menemukan lembar uang pecahan kecil. Di kampung mereka, jumlah itu bukan sesuatu yang mengherankan. Orang datang sesuai kemampuan, dan kemampuan setiap keluarga tak pernah sama. Brata tak pernah mengeluhkan isi amplop siapa pun. Ia hanya menekan tombol penjumlahan berkali-kali, lalu sesekali menuliskan hasil sementara di sudut buku catatan sebelum kembali membuka amplop berikutnya.

Semakin lama pekerjaan itu berlangsung, semakin sedikit percakapan yang muncul. Sekar mulai membuka amplop tanpa lagi membacakan nama pengirim, sementara Wening dapat menebak nominalnya hanya dari ketebalan lipatan kertas yang dipegang ibunya. Pagi yang semula terasa tenang perlahan berubah menjadi ruang penuh angka. Di luar rumah terdengar suara bambu terakhir dinaikkan ke atas truk, lalu disusul deru mesin yang membawa sisa-sisa pesta pergi meninggalkan halaman.

Lihat selengkapnya