REWANG

Richi Rizkya
Chapter #11

Kios

Tak seorang pun bergerak. Map buku nikah masih tergeletak di lantai, sementara Kinan tetap berdiri di ambang pintu dengan napas yang belum beraturan. Wening menatap kakaknya beberapa detik, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar lebih seperti usaha menahan ledakan daripada menenangkan diri. "Jadi, Mbak dengar semuanya?" tanyanya. Kinan mengangguk pelan. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya, tetapi anggukan itu sudah cukup membuat pertahanan Wening runtuh seluruhnya.

"Kenapa baru sekarang?" Suara Wening pecah memenuhi ruang tengah. "Kalau dari awal Mbak bilang ke Bapak nikahan ini cukup sederhana, uang itu nggak bakal habis." Ia melangkah mendekat tanpa menyadari nada bicaranya semakin tinggi. "Aku kerja bertahun-tahun buat kios itu, Mbak. Bertahun-tahun. Masa semuanya selesai cuma dalam satu pesta?"

Kinan mengangkat wajah dengan mata yang masih dipenuhi air mata. "Jangan bilang seolah-olah Mbak yang minta semua itu." Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup tegas untuk menghentikan langkah Wening. "Dari awal Mbak sudah bilang nggak usah pakai orkes. Mbak juga yang minta tamunya dikurangi. Yang Mbak mau cuma akadnya berjalan baik." Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Apa yang Mbak nikmati dari uang itu?"

"Yang aku tahu, uang itu tetap habis buat nikahan Mbak!" balas Wening cepat. Dadanya naik turun menahan napas yang mulai sesak. "Aku nggak pernah nyalahin Mbak nikah. Yang nggak bisa kuterima, semua orang membiarkan aku terus percaya kalau kios itu masih dibangun. Setiap bulan aku kirim uang karena aku pikir kita lagi menuju ke sana. Ternyata aku sendirian yang masih percaya."

"Ning..." Sekar buru-buru mendekat, tetapi Wening menggeleng keras.

"Jangan, Bu." Matanya tak lagi berpindah dari Brata. "Hari ini jangan ada yang nyuruh aku ngerti. Aku cuma minta dijawab. Kenapa? Kenapa harus bohong?" Suaranya bergetar hebat. "Apa aku selama ini cuma dianggap mesin kirim uang? Sampai keputusan sebesar ini pun aku nggak pantas tahu?"

"Tidak pernah begitu." Brata akhirnya membuka suara.

"Kalau tidak, kenapa Bapak diam?" potong Wening tanpa memberi kesempatan. "Setiap kali aku telepon, aku selalu tanya tabungan kios. Setiap kali itu juga Bapak bilang, 'Masih ada, Ning. Sedikit lagi cukup.' Sedikit lagi yang mana, Pak? Sedikit lagi habis?"

Ruangan kembali dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Brata menundukkan kepala, sementara Sekar menggigit bibirnya sendiri agar tangisnya tidak pecah. Kinan memandang ayahnya bergantian dengan Wening, seolah baru kali itu ia benar-benar melihat retakan yang selama ini disembunyikan keluarganya.

"Aku nggak pernah minta pesta semahal itu." Suara Kinan terdengar lebih keras daripada sebelumnya. Ia melangkah maju, berdiri di antara Wening dan kedua orang tuanya. "Kalau dari awal aku tahu uang kios dipakai, aku sendiri yang bakal membatalkan semuanya."

"Kamu pikir semudah itu?" balas Wening spontan. "Undangan sudah tersebar, orkes sudah dibayar, semua sudah jalan. Justru itu yang bikin aku marah. Kenapa keputusan sebesar itu diambil tanpa sekali pun melibatkan orang yang ngumpulin uangnya?"

"Karena itu bukan keputusan Mbak!" Nada suara Kinan akhirnya ikut meninggi. Untuk pertama kalinya sejak kecil, ia tak lagi memilih diam ketika berhadapan dengan adiknya. "Jangan dorong semua kesalahan ke arah Mbak hanya karena pesta itu kebetulan pesta pernikahan Mbak. Mbak juga baru tahu hari ini. Mbak juga dibohongi."

Kalimat terakhir itu membuat Wening terdiam sesaat. Namun kemarahannya belum surut. "Tapi faktanya tetap sama." Suaranya mengecil, justru terdengar lebih menyakitkan. "Kios itu nggak ada lagi."

"Cukup!"

Bentakan Brata menggema memenuhi ruangan. Tak hanya Wening dan Kinan yang terkejut, Sekar pun refleks memejamkan mata. Selama puluhan tahun hidup bersama, nyaris tak pernah lelaki itu meninggikan suara kepada anak-anaknya. Kini, untuk pertama kalinya, kemarahan yang selama ini dipendamnya pecah di hadapan mereka semua.

Lihat selengkapnya