Tak seorang pun berusaha melanjutkan percakapan malam itu. Bukan karena persoalan mereka telah selesai, melainkan karena masing-masing telah kehabisan kata-kata. Ada luka yang tak lagi bisa diperdebatkan; hanya bisa dipikul dalam diam. Rumah itu kembali sunyi, tetapi kesunyian kali ini terasa begitu asing bagi orang-orang yang telah menghuninya seumur hidup.
Keesokan paginya, Wening membantu menurunkan janur yang mulai mengering di depan pagar. Tangannya cekatan melepas ikatan demi ikatan, melipat bambu penyangga, lalu menyusunnya di samping gudang bersama kursi-kursi plastik yang baru saja dikembalikan tetangga. Tak ada yang perlu diperintahkan. Seperti setiap kali pulang ke rumah, ia selalu tahu pekerjaan apa yang harus diselesaikan lebih dulu. Hanya saja, pagi itu tak sekali pun terdengar siulan kecil atau celetukan yang biasanya membuat Sekar tersenyum dari dapur.
Sekar memperhatikan putri bungsunya dari balik jendela dapur. Wening tetap bekerja secepat biasanya, tetapi ada sesuatu yang hilang dari setiap gerakannya. Ia tak lagi bercerita tentang kantor, mengeluh soal macetnya Surabaya, atau berebut gorengan yang baru terangkat dari wajan seperti setiap kali pulang. Kesibukan yang dulu terasa akrab kini berubah menjadi cara paling aman untuk menghindari percakapan. "Ning," panggil Sekar hati-hati. Wening menoleh. "Iya, Bu?" "Istirahat dulu. Dari tadi belum duduk." Wening menggeleng pelan. "Sebentar lagi selesai."
Jawaban itu terdengar biasa. Terlalu biasa. Justru itulah yang membuat dada Sekar sesak. Putrinya tidak membantah, tidak mendiamkan, tidak pula menunjukkan wajah marah. Namun sebagai seorang ibu, ia tahu ada sesuatu yang tak lagi bisa disentuh hanya dengan kata-kata. Luka yang semalam pecah ternyata tidak membuat Wening menjauh dari rumah ini. Yang menjauh adalah kehangatan yang selama ini selalu dibawanya setiap kali pulang.
Menjelang siang, mereka makan di meja yang sama. Kinan dan Arga telah kembali ke rumah keluarga Arga sejak pagi, menyisakan hanya Brata, Sekar, dan Wening. Bunyi sendok yang sesekali menyentuh piring menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Tak ada yang benar-benar lapar. Mereka hanya makan karena tubuh membutuhkan tenaga, sementara hati masing-masing masih sibuk membereskan reruntuhan yang tak kasatmata.
Brata beberapa kali mengangkat wajah ke arah Wening, lalu kembali menunduk. Ada terlalu banyak kalimat yang ingin ia ucapkan, tetapi semuanya terasa terlambat. Permintaan maaf telah disampaikan. Alasan pun telah diakui. Kini ia sadar, tak ada satu pun kata yang mampu mengembalikan sesuatu yang telah patah hanya karena ia menginginkannya utuh kembali. "Ning..." panggilnya pelan. Wening mengangkat kepala. "Besok jadi balik ke Surabaya?" Wening mengangguk singkat. "Iya, Pak." Brata menarik napas panjang sebelum berkata lirih, "Kerja yang hati-hati." "Iya."
Percakapan itu selesai di sana. Dulu, satu pertanyaan sederhana bisa berkembang menjadi cerita tentang kantor, teman kerja, harga kos, atau rencana pulang berikutnya. Kini, empat kalimat sudah terasa terlalu panjang. Bukan karena tak ada lagi yang ingin dibicarakan, melainkan karena mereka sama-sama takut menyentuh luka yang belum sempat mengering.
Sore harinya, Wening masuk ke kamar yang sejak kecil ditempatinya bersama Kinan. Ia melipat pakaian satu per satu ke dalam ransel, lalu berhenti ketika pandangannya jatuh pada sebuah celengan plastik berbentuk rumah di sudut lemari. Celengan itu sudah kusam. Warnanya memudar dimakan waktu, tetapi ia masih mengingat betul bagaimana dulu ia dan Kinan berebut memasukkan uang receh ke dalamnya, lalu membongkarnya setiap menjelang Lebaran untuk menghitung siapa yang paling banyak menabung.
Wening mengangkat celengan itu sebentar, mengusap debu tipis di permukaannya dengan ibu jari, lalu mengembalikannya ke tempat semula. Ia menutup pintu lemari perlahan. Ada begitu banyak hal yang masih ia sayangi di rumah itu. Hanya saja, tidak semuanya sanggup lagi ia bawa pulang.
Keesokan paginya, Brata sudah mengeluarkan sepeda motornya sejak matahari belum benar-benar tinggi. Ia memeriksa tekanan ban, mengelap kaca spion dengan ujung kaus, lalu mengikatkan tali pada rak belakang seperti yang selalu dilakukannya setiap kali Wening hendak kembali ke Surabaya. Tak ada yang menyuruhnya melakukan semua itu. Selama bertahun-tahun, mengantar Wening ke terminal telah menjadi kebiasaan yang tak pernah terpikir akan berubah.