Halaman rumah Brata belum sepenuhnya kembali dari kesibukan syukuran ketika sebuah truk kecil berhenti di depan pagar. Dua lelaki turun dari bak belakang dan mulai menurunkan rangka besi, gulungan kabel, serta beberapa kotak hitam yang ukurannya hampir setinggi pinggang orang dewasa. Wening yang sedang membawa gelas-gelas bekas dari ruang tamu berhenti di ambang teras, memperhatikan benda-benda itu satu per satu sebelum akhirnya mengenali sebuah papan nama yang ikut diturunkan bersama peralatan lain. Di sana tertulis nama sebuah grup orkes lokal yang cukup dikenal di wilayah kabupaten.
Ia meletakkan gelas di atas nampan dan berjalan mendekat. Di bawah pohon mangga, Brata sedang berbicara dengan seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun yang mengenakan kaus hitam bertuliskan nama grup yang sama. Lelaki itu membuka map bening, mengeluarkan selembar kertas, lalu menunjuk beberapa bagian sambil menjelaskan sesuatu. Brata mendengarkan dengan tangan bersilang di depan dada, sesekali mengangguk tanpa banyak bertanya. Dari cara ayahnya berdiri, Wening tahu keputusan itu sudah dibuat.
"Pak, itu buat orkes?" tanyanya ketika sudah cukup dekat.
Brata menoleh dan tersenyum tipis. "Iya. Hari ini mereka memasang panggung dulu. Besok tinggal dipakai."
Wening memandang halaman yang mulai dipenuhi rangka besi. "Bukannya kemarin mau musik biasa?"
Brata tidak langsung menjawab. Lelaki di depannya justru menutup map, memberi salam kepada Wening, lalu berkata bahwa ia akan membantu para pekerja di depan sebelum berjalan menuju pagar. Setelah orang itu menjauh, Brata mengembuskan napas pendek. "Memang awalnya begitu," katanya. "Tapi setelah dipikir-pikir, sekalian saja."
Sekar yang baru keluar dari rumah membawa dua gelas teh mendengar kalimat terakhir itu. Ia meletakkan gelas di atas meja kecil, kemudian memandang suaminya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Sekalian bagaimana?" tanyanya, meski sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. Brata menggeser salah satu gelas ke arahnya sebelum menjawab, "Orkes yang kemarin ditawarin masih ada jadwalnya. Kalau diambil sekarang, mereka bisa sekalian pasang semuanya."
Sekar duduk pelan. Pandangannya beralih ke rangka panggung yang sedang dirakit. "Berapa?"
Brata tidak menjawab segera. Ia melirik Wening sebentar sebelum berkata, "Sepuluh juta."
Sekar menundukkan kepala. Jemarinya memainkan ujung gelas yang masih mengepulkan uap. "Sepuluh juta itu sudah termasuk semuanya?"
"Sudah. Panggung, lighting, sound, genset. Tinggal acara."
Wening ikut diam. Angka itu terasa terlalu besar untuk sekadar musik yang akan dimainkan beberapa jam, tetapi ia tidak tahu harus mengukurnya dengan apa. Selama bekerja di kota, sepuluh juta baginya adalah jumlah yang cukup untuk berbagai kebutuhan sekaligus. Namun di rumah itu, sejak beberapa hari terakhir, uang seolah memiliki ukuran yang berbeda. Kursi ditambah sedikit, beras ditambah beberapa karung, lauk ditambah beberapa kilogram, lalu satu per satu keputusan lain datang dengan alasan yang selalu terdengar masuk akal.
Sekar menatap suaminya, lalu kembali memandang panggung yang perlahan memenuhi halaman. “Kalau yang biasa saja, berapa?” tanyanya, seolah masih berharap ada pilihan yang lebih ringan tanpa harus membuat hajatan mereka terlihat kurang. Brata menyebutkan harga yang lebih murah, tetapi paket itu tidak termasuk panggung sebesar yang sedang dipasang, sehingga Sekar mengernyit kecil. “Memangnya kita butuh panggung sebesar itu?” tanyanya lagi, dan Brata hanya tersenyum tipis karena ia tahu pertanyaan itu bukan lagi soal ukuran panggung, melainkan tentang apakah semua yang mereka lakukan beberapa hari terakhir masih sesuai dengan rencana awal.
Dari arah pagar, salah seorang pekerja memanggil Brata untuk memastikan posisi panggung. Brata segera berdiri, lalu berkata kepada Sekar, “Nanti kita bicarakan lagi,” sebelum berjalan menuju halaman tanpa menunggu jawaban. Sekar tidak menahannya; ia hanya mengikuti langkah suaminya dengan pandangan sampai lelaki itu kembali sibuk mengatur para pekerja, kemudian mengembuskan napas panjang seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa sebuah keputusan kecil telah berubah menjadi urusan yang lebih besar.
Wening mengambil salah satu gelas yang sejak tadi belum disentuh dan duduk di samping ibunya. “Ibu sebenarnya nggak mau, ya?” tanyanya pelan, bukan untuk menyalahkan, melainkan karena sejak beberapa hari terakhir ia mulai melihat ibunya semakin sering menerima sesuatu yang semula tidak ada dalam rencana.
Sekar tersenyum kecil sambil menggeleng. “Bukan nggak mau. Ibu cuma mikir, kalau uang sepuluh juta itu masih bisa dipakai buat kebutuhan lain, kenapa harus dikeluarkan untuk musik?” Wening menatap halaman yang dipenuhi rangka panggung sebelum bertanya, “Terus kenapa akhirnya jadi dipakai?”
Sekar mengangkat bahu, lalu menundukkan pandangan ke gelas di tangannya. “Bapakmu bilang, anak pertama cuma sekali,” jawabnya pelan, seperti kalimat yang sudah cukup untuk menjelaskan semuanya sekaligus tidak menjelaskan apa-apa.
Wening tidak membalas; ia hanya memandang panggung yang semakin tinggi di depan rumah, sementara kalimat itu kembali berputar di kepalanya seperti jawaban yang belakangan selalu muncul setiap kali ada sesuatu yang sebenarnya bisa mereka kurangi. Anak pertama cuma sekali. Dan entah mengapa, semakin sering ia mendengarnya, semakin Wening merasa kalimat itu bukan lagi alasan untuk sebuah keputusan, melainkan alasan untuk terus mengatakan iya.