Sore belum benar-benar turun ketika dapur kembali dipenuhi pekerjaan. Setelah Brata pergi mengirim keponakannya mencari tambahan lauk, Murti meminta beberapa ibu mengatur ulang makanan yang tersisa, sementara yang lain mulai menghitung piring dan wadah yang masih bersih. Tidak ada yang lagi membicarakan baskom-baskom yang kosong, tetapi keheningan yang muncul di antara mereka justru membuat persoalan itu terasa belum selesai.
Wening tetap berada di dekat meja kayu tempat beberapa kantong plastik tadi ditemukan. Ia memperhatikan kantong-kantong yang tersisa dengan perasaan yang sulit diberi nama; sebagian berisi lauk lengkap, sebagian hanya beberapa potong makanan, dan sebagian lagi telah diikat begitu rapat hingga isinya tidak lagi terlihat. Tidak ada yang tampak seperti barang hasil rampasan, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat Wening semakin tidak nyaman.
Ia teringat ucapan Murti bahwa lauk yang dibawa pulang oleh orang-orang rewang memang sudah menjadi kebiasaan. Namun setelah melihat sendiri jumlah kantong yang terkumpul, Wening tidak lagi bisa menganggap kebiasaan itu sebagai sesuatu yang kecil. Ada sesuatu yang hilang dari dapur mereka, dan hilangnya bukan karena satu orang mengambil banyak, melainkan karena terlalu banyak orang merasa bahwa mengambil sedikit tidak akan mengubah apa-apa.
Menjelang petang, Bu Endang muncul dari ruang belakang sambil membawa ember kecil berisi air. Wajahnya tampak lebih lelah daripada biasanya, mungkin karena sejak pagi ia hampir tidak berhenti bekerja, dan ketika meletakkan ember di dekat sumur, ia sempat memegangi pinggang sebelum kembali ke dapur. Wening yang melihatnya mendekat dan menawarkan bantuan, tetapi Bu Endang hanya tersenyum sambil berkata bahwa pekerjaan seperti itu memang harus selesai sebelum orang lain pulang.
Di bawah meja kayu dekat pintu, Wening kembali melihat kantong plastik milik Bu Endang. Simpulnya berbeda dari kantong-kantong lain karena diikat dua kali, seolah perempuan itu tidak ingin isinya tumpah selama perjalanan pulang nanti. Wening sebenarnya ingin bertanya, tetapi pertanyaan itu terasa seperti sesuatu yang tidak pantas diucapkan setelah melihat bagaimana Bu Endang bekerja sejak hari pertama.
Akhirnya ia hanya bertanya, “Bu, itu nanti dibawa pulang?” Bu Endang yang sedang mencuci tangannya menoleh, lalu mengangguk tanpa terlihat terkejut. Ia mengatakan bahwa di rumah ada cucunya yang sejak beberapa hari terakhir sulit makan karena sedang demam, dan pagi tadi anaknya sempat berpesan agar kalau memungkinkan ia membawa sedikit lauk yang mungkin disukai anak itu.
“Bukan nggak ada makanan di rumah,” kata Bu Endang ketika melihat Wening masih diam. “Ada nasi, ada sayur, tapi dia beberapa hari ini cuma mau makan kalau ada ayam.” Ia mengatakannya sambil tersenyum tipis, seperti seorang nenek yang sedang membicarakan kebiasaan cucunya, tetapi kemudian wajahnya berubah ketika ia menambahkan bahwa kemarin cucunya bahkan hanya makan beberapa sendok sebelum kembali tidur.
Wening menatap kantong plastik itu. Ia teringat beberapa potong ayam yang dilihatnya tadi dan membayangkan bagaimana makanan tersebut akan sampai ke sebuah rumah kecil di ujung kampung, kemudian diletakkan di piring seorang anak yang sedang sakit. Namun bayangan itu tidak membuat persoalannya menjadi lebih sederhana; lauk itu tetap diambil tanpa izin, dan di rumah lain mungkin ada tamu yang nanti harus menerima bagian lebih sedikit karena makanan tersebut sudah berpindah tangan.
“Bu Endang tahu kalau tadi lauknya kurang?” tanya Wening hati-hati. Bu Endang tidak langsung menjawab; ia mengeringkan tangannya pada celemek sebelum akhirnya berkata bahwa ia tahu, bahkan sejak tadi ia juga mendengar Murti berkali-kali meminta agar lauk dikeluarkan secukupnya. Ia menunduk sebentar dan mengakui bahwa kantong itu memang sudah ia siapkan sebelum persoalan kekurangan muncul.
“Kalau begitu, kenapa tetap dibawa?” Wening bertanya, kali ini hampir berbisik. Bu Endang memandangnya cukup lama sebelum menjawab bahwa ia tidak punya alasan yang bisa membuat tindakannya menjadi benar, tetapi pagi tadi ketika anaknya menelepon dan mengatakan cucunya belum makan, ia hanya berpikir bahwa dua potong ayam tidak akan mengubah apa-apa.
Kalimat itu membuat Wening terdiam. Bu Endang kemudian mengikat kembali ujung celemeknya dan kembali bekerja, seolah pengakuan tadi tidak perlu diperpanjang; mungkin karena bagi perempuan itu, kesalahan tersebut sudah cukup jelas tanpa harus diberi nama. Wening melihat punggungnya menjauh dan untuk pertama kalinya merasa bahwa mengetahui alasan seseorang melakukan kesalahan tidak selalu membuat kesalahan itu terasa lebih ringan.
Tak lama kemudian, Bu Tutik datang dari ruang makan membawa tumpukan piring. Ia meletakkannya di dekat tempat cuci, kemudian memandang ke arah kantong plastik yang masih tersisa sebelum bertanya apakah lauk tambahan sudah datang. Ketika Murti menjawab belum, Bu Tutik menghela napas dan mengatakan bahwa kalau tamu terus berdatangan seperti itu, mungkin sampai malam dapur tidak akan sempat duduk.