Ketika masa buruk sudah terlewati
orang mengira itu sudah usai
ternyata membekas
JOGJA.
Kubuka jendela kamar mulai terlihat hiruk pikuk di jalanan menunggu lampu merah untuk kembali hijau. Mungkin mereka tidak membiarkan orang untuk menunggu terlalu lama. Deru mesin mereka mengatakan mereka tidak sabar untuk menjumpai kenyataan. Secangkir teh celup yang kubuat pagi ini menemaniku bersama camilan yang kubawa dari Jakarta. Ternyata aku tidak bermimpi. Aku bangun di tempat orang-orang tidak mengenalku. Dan aku tidak mengenal mereka.
Aku memutuskan untuk tinggal berada di rumah kecil milik Keluarga di Jogja. Kakak bilang Mama tidak mengizinkanku jika aku tinggal di tempat yang mereka tidak tahu. Ku iyakan keputusan mereka. Agar mereka tidak khawatir terhadapku. Tapi aku hanya ingin memiliki hidupku sendiri.
Sudah kususun rencanaku dalam buku Jurnalku. Banyak List-list yang harus aku lakukan di Jogja agar aku mampu bertahan hidup tanpa bantuan keluargaku. Sejujurnya aku terlalu cepat datang untuk memulai perkuliahan. Waktu 2 bulan ini aku siapkan diriku untuk mencari pekerjaaan paruh waktu.
...
Setiap kali orang datang aku selalu menanyai apa yang mereka inginkan untukku pesan. Sangat lucu melihat mereka berada dalam meja yang sama. Ada sepasang kekasih yang memperdebatkan kenapa sang pria terlambat datang. Ada sekumpulan remaja yang asik bermain permainan ular tangga. Ada juga yang sibuk memainkan laptopnya entah mengerjakan tugas atau menonton drama korea. Dan ada bapak-bapak tua sedang menepi mungkin ia hanya ingin menyingkirkan diri dari hiruk pikuk dunia. Lobe Cafe ini setidaknya mampu menyibukku di kala malam datang. Cukup membahagiakan tinggal ditempat yang tidak tau mengenai masa laluku.
"Rey, hari kamis depan kamu shift panjang ya dari mulai sore ya? plis bantuin aku soalnya pak bos gak mau kalau aku minta ijin tapi nggak ada yang gantiin.."
"Oke.. tapi cuma sekali ya lain kali aku nggak mau tukeran sama kamu cuma gara-gara mau ketemu pacar"
"Makasih.. Kamu telah menyelamatkan masa depanku.."
Sudah dua minggu aku bekerja Lisna adalah teman terbaikku di tempat kerja Ia juga sama sepertiku kerja parttime dan ternyata juga kuliah di universitas yang sama. Memanng unik dunia ini. tapi dia lebih dulu berkuliah disana. Usia kami sama hanya karena ia lebih awal masuk SD jadi lebih dulu lulus SMA. Dia terlalu bucin sama pacarnya. Aku tak paham betul tentang cinta. Tapi ketika melihat mereka aku tau lelaki itu tidak baik untuk Lisna.
...
Memang menyenangkan melihat manusia-manusia berlalu lalang dengan membawa kehidupannya. Mereka sibuk dengan telepon genggamnya. Sibuk dengan suara yang ditempel di telinga. Mungkin mereka tak ingin mendengar kegaduhan suara penumpang yang menceritakan keluh kesah mereka tentang tetangga mereka. Dan juga suara tangisan anak kecil yang mengganggunya. Sangat lucu melihat kondektur yang selalu berteriak Ngabean.. Ngabean... yang artinya akan sampai di Ngabean. Bayangkan kondektur selalu berteriak sepanjang hari. Begitu banyak orang yang berjuang untuk hidupnya. Setidaknya aku harus lebih berusaha untuk hidup lebih baik lagi.
Tempat tujuanku sudah sampai Tugu Jogja. Manusia-manusia sibuk bersliweran kesana kemari suara deru mesin kendaraan menambah ramai suara di telinga. Matahari sudah berpamitan untuk kepenjuru dunia yang lainnya. Aku sudah mempersiapkan kameraku untuk membidik moment yang membuat simpul senyum di bibirku. Ada orang tua yang tergopoh-gopoh membawa anaknya secepatnya ke kamar mandi barangkali ibu itu tidak mempersiapkan pakaian ganti kalau si anak tiba-tiba mengompol. Atau mungkin ibunya tau itu di depan umum sehingga tidak pantas untuk kencing sembarangan.
Ada juga sepasang kekasih yang berpegangan tangan mungkin ia enggan melepaskan tangan satu sama lain. Mereka mungkin bangga memegang tangan satu sama lain serasa menunjukkan pada dunia bahwa ia milikku.
Ada juga ibu-ibu yang menghampiri ku menjajakan kopi hangatnya. Entah berapa penghasilannya satu hari sehingga ia harus meninggalkan anaknya sampai tengah malam. Kopi hangat, Suara deru kendaraan, manusia berslieran adalah moment yang tepat untuk merefleksikan hidup.