Pukulan terakhir membuat karung pasir itu berayun keras, dan Rifky Anggara menahannya dengan satu telapak tangan.
Jam di dinding garasi menunjukkan hampir pukul lima. Ia sudah berlatih sejak subuh, bukan karena ingin, tapi karena kepalanya tak mau diam. Keringat menetes dari dagunya ke lantai semen. Di rak atas berderet kamera termal, perekam suara, dan sensor getaran. Di papan tulis putih besar tertulis satu aturan yang ia buat sendiri bertahun-tahun lalu: "Data dulu. Rasa kedua. Ayat terakhir."
Latihan itu sebenarnya cara Rifky menghitung napas sebelum memulai hari. Sejak Ayah meninggal, ia belajar bahwa tubuh yang lelah lebih mudah dibujuk diam daripada kepala yang gelisah. Setiap pagi ia memukul, menendang, menahan, sampai pikirannya cukup tumpul untuk tidak memutar ulang malam itu: telepon dari polisi, sepatu Ayah yang masih di rak, dan Hanif tujuh belas tahun yang berdiri di depan pintu tanpa bicara.
Di atas lemari besi tua di sudut garasi, tergantung selembar foto keluarga dengan bingkai yang sedikit miring. Rifky tidak pernah membetulkannya. Entah kenapa, ia lebih tenang melihat foto itu miring daripada rapi, seakan ada sesuatu yang memang tidak boleh terlalu tertata dalam keluarga mereka. Dan setiap kali ia menatap foto itu terlalu lama, Hanif akan masuk dan bertanya hal sepele, seakan tahu persis kapan kakaknya butuh alasan untuk berhenti memikirkan hal-hal yang berat.
Aturan di papan tulis itu lahir dari kesalahan. Dulu, saat mereka baru mulai membantu orang, mereka terlalu cepat menyimpulkan semua gangguan adalah jin. Ternyata ada yang cuma kurang tidur. Ada yang pipanya bocor. Ada juga yang keluarganya sendiri yang menakut-nakuti. Sejak itu Rifky bersumpah tidak akan mengusir apa pun sebelum yakin apa yang sedang ia usir.
Pintu belakang berderit. Hanif masuk dengan rambut basah dan mata merah.
"Kamu tidak tidur lagi?" tanya Rifky tanpa menoleh.
"Tidur. Sebentar."
"Bohong."
Hanif tidak membantah. Ia menjatuhkan diri ke kursi dan mengambil botol minum kakaknya tanpa izin. Rifky membiarkannya. Sudah sembilan tahun adiknya begitu, dan sudah sembilan tahun pula ia tidak pernah tahu kenapa.
Dulu Hanif anak yang cerewet. Ia suka mengikuti Rifky ke mana pun, bertanya apa saja, tertawa paling keras di meja makan. Setelah ayah mereka meninggal, tawa itu hilang. Yang tinggal hanya adik yang pendiam dan sering menatap tangannya sendiri.
Rifky pernah bertanya baik-baik. Pernah juga mendesak. Hasilnya sama: Hanif tersenyum kecil, lalu mengalihkan pembicaraan. Akhirnya Rifky belajar menunggu, walau menunggu itu melelahkan.
Pintu depan diketuk tiga kali. Zhafir masuk membawa laptop di bawah jaketnya.
Ia berhenti di ambang pintu, memandang mereka berdua sekilas, lalu berkata datar, "Kamu latihan sejak jam tiga, Rif. Pukulanmu kasar, dan karung itu miring dari posisi biasanya. Hanif tidak tidur, dan semalam ia melihat sesuatu. Tangannya masih menggenggam botol seperti takut jatuh."
Hanif menatapnya. "Kamu cenayang sekarang?"
"Bukan." Zhafir menaruh laptop di meja. "Aku detektif. Bedanya, aku punya bukti."
Itu yang membuat Rifky menyukai sahabatnya sejak kuliah. Zhafir tidak percaya hal gaib, tapi ia juga tidak pernah menutup mata pada hal yang tak bisa dijelaskan. Ia mengamati, mencatat, lalu menyimpulkan. Dan hampir selalu benar.
"Ada kasus," kata Zhafir. "Namanya Arsendra Wiryawan. Tiga puluh delapan tahun, notaris. Ditemukan istrinya Selasa pagi di kamar yang terkunci dari dalam. Jendela juga terkunci. Tidak ada luka di tubuhnya, tidak ada racun menurut hasil awal."
"Kenapa polisi bilang bunuh diri?" tanya Rifky.
"Karena tidak ada alasan lain." Zhafir memutar laptopnya. "Dan karena ini."
Foto itu menunjukkan telapak tangan kanan seorang pria. Di tengahnya ada garis melingkar tipis berwarna merah gelap.
Rifky mencondongkan badan dan matanya menyipit. "Sayatan. Kedalamannya seragam, tidak gemetar. Orang yang menyakiti dirinya sendiri biasanya ragu di awal. Yang ini tidak."
"Jadi dia melakukannya dengan tenang?"
"Atau ada yang membuatnya tenang."
"Ada satu hal lagi," kata Zhafir pelan. "Tidak ditemukan benda tajam di kamar itu."