Rumah Arsendra besar, rapi, dan terlalu sunyi.
Laras mempersilakan mereka duduk di ruang tamu, tapi tidak ada yang benar-benar duduk. "Saya tidak percaya Mas Arsen bunuh diri," katanya. "Dua minggu terakhir dia memang aneh. Sering bicara sendiri di kamar. Kadang bilang, 'Dia sudah memanggil.' Saya tanya siapa, dia diam."
Zhafir mencatat di ponselnya. "Pernah menyebut nama, Bu? Suaranya laki-laki atau perempuan?"
"Tidak pernah." Laras meremas ujung kerudungnya. "Tapi dua malam sebelum meninggal, dia minta saya tidur di kamar anak. Katanya, 'Supaya kamu tidak melihat apa yang akan kulakukan.' Saya pikir dia bercanda."
Rifky merasakan Hanif bergeser setengah langkah di sampingnya. Adiknya tidak berkata apa-apa, tapi pandangannya sudah berpindah dari wajah Laras ke langit-langit, ke tangga, ke sudut-sudut ruangan, seperti orang yang mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar siapa pun. Rumah itu memang terlalu rapi. Bantal sofa disusun simetris. Rak sepatu tanpa satu pasang pun yang miring. Di dinding tidak ada foto Arsendra yang tersenyum lebar, hanya potret formal dan satu foto keluarga kecil dengan Tiyas di pangkuan. Rifky mencatat dalam kepala: tempat ini dijaga seperti museum. Ia belum tahu apakah itu kebiasaan Arsendra, atau kebiasaan seseorang yang tidak mau ada apa pun berpindah dari tempatnya. Hanif menangkap tatapannya dan menggeleng samar. Belum, kata gerakan kecil itu. Jangan sekarang, jangan di depan perempuan yang sedang berduka.
Rifky menelan ludah, lalu mengangguk pada Laras.
"Boleh kami lihat kamarnya, Bu?" kata Rifky lembut.
Kamar itu di lantai dua, dan Rifky yang masuk lebih dulu. Itu kebiasaannya. Kalau ada bahaya, ia selalu menjadi yang pertama menghadapinya, dan Hanif tidak pernah berhasil mengubah itu. Rifky memeriksa sudut, lemari, dan kolong ranjang, baru kemudian mengangguk. "Aman."
Ia memasang kamera termal di sudut, perekam audio sensitif di dekat ranjang, dan sensor getaran di kusen pintu. Zhafir sendiri langsung menuju pintu. Ia memotret kunci dari tiga sudut, menyentuh bagian dalam kusen dengan ujung jari, lalu berjongkok sampai matanya sejajar dengan lubang kunci.
"Ada goresan halus di sini," gumamnya. "Seperti pernah ada benang tipis yang ditarik. Tapi sudah lama dibersihkan."
"Jadi kamar ini memang bisa dikunci dari luar?" tanya Rifky.
"Mungkin. Atau Pak Arsen sendiri yang mengunci, lalu orang lain masuk dengan cara yang belum kita tahu." Zhafir berdiri. "Aku mulai tidak suka kasus ini."
"Bagus," kata Rifky. "Berarti kamu mulai berpikir."
Sementara itu Hanif berdiri di tengah ruangan dan menutup mata.
Biasanya, ini bagian yang paling melelahkan baginya. Kalau ada gangguan, ia merasakannya seperti air es yang menyiram punggung. Kadang bisikan. Kadang bayangan di sudut mata. Sesudahnya kepalanya berdenyut berjam-jam.
Tapi kali ini tidak ada apa-apa.
Dua menit berlalu. Tiga menit. Jam dinding berdetak keras di dalam kepalanya.
"Bang," katanya akhirnya. "Kosong."
Rifky berhenti memutar baut sensor. "Maksudmu?"
"Biasanya kalau ada makhluk di tempat seperti ini, ruangannya terasa padat. Kali ini kosong. Terlalu kosong." Hanif mengusap lengannya. "Seperti ada yang sengaja membersihkan."
Layar kamera termal berkedip. "Suhu stabil," kata Zhafir. "Dua puluh tiga derajat di semua titik. Tidak ada titik dingin. Kalau ini kamar berhantu, hantunya malas."
Rifky tidak tersenyum. "Nif, tetap lakukan ruqyahnya. Aku mau lihat reaksi alat."
Hanif mengangguk. Ia berdiri menghadap tengah kamar, menarik napas, lalu mulai membaca dengan suara tenang.
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
A'ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq.
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan."
Lalu ia melanjutkan dengan Ayat Kursi.
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ