Garasi itu terasa lebih sempit malam ini.
Hujan sudah reda, tapi udara di dalam masih lembap dan berbau besi. Rifky duduk di kursi kerjanya dengan siku bertumpu di lutut. Zhafir bersandar di meja, laptopnya terbuka tapi tak ia sentuh. Hanif duduk di lantai dekat rak, punggungnya ke dinding, memegang gelas teh yang sudah dingin.
Sejak pulang dari rumah Arsendra, Rifky sudah dua kali memeriksa adiknya. Mimisan Hanif sudah berhenti, tapi kulitnya masih sedingin batu, dan setiap kali ia mengedip, matanya terlihat seperti sedang menatap sesuatu yang jauh. Rifky membuatkan teh manis, menyelimuti bahunya dengan jaket, dan tidak bertanya apa pun. Ia tahu, setelah kilasan seperti tadi, tubuh Hanif butuh waktu untuk kembali ke dunia yang normal.
Zhafir akhirnya berdiri dan menyeduh tiga cangkir kopi instan tanpa bertanya, kebiasaan lama setiap kali suasana terlalu berat untuk diisi kata-kata. Uap kopi naik pelan di bawah lampu neon. Ia menaruh satu cangkir di dekat Hanif, satu di dekat Rifky, dan duduk kembali tanpa menyentuh yang ketiga. Dari luar terdengar katak di selokan dan satu motor yang lewat jauh, lalu hening lagi. Di rak, sebuah perekam audio cadangan masih menyala, lampu merahnya berkedip pelan seperti mata yang tidak mau tidur. Rifky memandanginya sebentar, lalu mengalihkan pandang. Ada benda-benda yang lebih baik tidak dipandang terlalu lama ketika hati sedang rapuh, dan alat kecil itu sudah terlalu banyak mendengar. Di luar, gerimis tipis mulai turun lagi, ketukannya lembut di atap seng, seperti seseorang yang berjalan jinjit mengelilingi garasi.
Tak ada yang bicara sejak mereka pulang. Rifky menunggu. Ia sudah menunggu sembilan tahun, jadi satu jam lagi tidak akan membunuhnya.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana," kata Hanif akhirnya.
"Mulai dari malam itu," jawab Rifky pelan.
Hanif menarik napas panjang. Ia menceritakan semuanya. Lampu ruang kerja yang menyala. Kilasan mobil di jalan tol yang basah. Pembatas jalan yang menyongsong. Garis melingkar merah di telapak tangan ayah mereka, dan kertas kosong dengan pisau lipat di atas meja.
"Ayah bilang apa waktu itu?" tanya Zhafir hati-hati.
"Dia tanya, 'Kamu melihatnya ya, Nif?' Aku tidak jawab. Terus dia bilang, jangan sampai mereka tahu kamu bisa melihat."
"Mereka siapa?"
"Aku tidak tahu." Hanif menunduk. "Sembilan tahun aku mikir itu terus."
Rifky berdiri begitu tiba-tiba sampai kursinya berderit. Ia berjalan ke ujung garasi, berhenti di depan papan tulis, lalu berdiri membelakangi mereka. Bahunya naik turun.
"Kamu lihat Ayah mati," katanya tanpa menoleh, "dan kamu diam."
"Bang…"
"Kamu tujuh belas tahun. Kamu lihat itu sendirian, dan kamu bawa selama sembilan tahun, dan aku tidak tahu." Suaranya rendah dan bergetar. "Setiap kali kamu pucat, setiap kali kamu tidak tidur, aku pikir aku harus lebih sabar. Aku pikir aku kurang melindungi kamu."
Hanif mendongak. "Bukan salah Abang."
"Aku tahu itu bukan salahku." Rifky akhirnya berbalik, dan matanya merah. "Tapi aku marah. Dan aku sedih. Dua-duanya sekaligus, dan aku tidak tahu harus tarik mana dulu."
Zhafir menunduk, memberi mereka ruang. Ia sahabat mereka cukup lama untuk tahu kapan sebaiknya tidak bicara.
Rifky berjalan mendekat dan berlutut di depan adiknya. Tanpa kata, ia memegang kedua bahu Hanif. Tangannya yang biasa menjatuhkan orang dengan satu gerakan itu sekarang gemetar.
"Mulai sekarang," katanya, "kamu tidak membawa apa pun sendirian. Mengerti?"
Hanif mengangguk. Air matanya jatuh juga, pelan, dan ia tertawa kecil di sela napasnya. "Abang cengeng."
"Diam."
Rifky menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu bertanya pelan, "Selain Ayah, kamu pernah melihat yang lain?"
Hanif ragu sebentar. "Tiga kali."
"Siapa?"
"Pak Jali, tetangga kita dulu. Seorang anak yang kusapa di terminal. Dan seorang ibu di mikrolet." Suaranya mengecil. "Aku lihat mereka mati, lalu sehari kemudian mereka benar-benar mati. Yang di terminal itu aku coba peringatkan. Aku bilang, 'Hati-hati, Dek.' Dia cuma menatapku aneh."