RIFKY dan HANIF #1 — BLOOD COVENANT

Bobby Mahmud
Chapter #6

Bab 4 — Ayah

Embun menempel di kaca jendela garasi, dan dari balik tirai terdengar ayam tetangga yang kokoknya sudah serak. Rifky membuat teh manis dalam diam, lebih kental dari biasanya, dan menaruh cangkirnya di dekat Hanif yang meringkuk di sofa sambil memeluk bantal. Adiknya belum benar-benar tidur. Rifky tahu dari cara matanya bergerak di balik kelopak, mengikuti sesuatu yang tidak ada di ruangan itu. Ia menarik selimut sampai ke dagu Hanif, hal kecil yang sudah sembilan tahun ia lakukan tanpa pernah diucapkan. Dari luar jendela terdengar tukang sayur mendorong gerobaknya sambil bersiul, dan untuk sesaat Rifky iri pada orang-orang yang pagi harinya hanya berisi harga cabai dan cuaca. Hanif menggeliat pelan dan bergumam sesuatu tak jelas dalam tidurnya. Rifky membeku, menunggu, lalu bernapas lega ketika adiknya kembali tenang.

Tak ada yang tidur nyenyak. Rifky mengulang rekaman suara itu tiga kali, dan setiap kali, kalimat yang sama keluar dari pengeras suara dengan nada yang sama. "…Hanif… Anggara… kau sudah melihat." Zhafir mengecek log perangkat misterius di Wi-Fi rumah Arsendra dan hanya menemukan satu hal: perangkat itu aktif tepat pukul 02.13, seperti biasa, tapi alamat sinyalnya berpindah tiap menit.

"Dia tahu kita memantau," kata Zhafir sambil menutup laptop. "Atau dia tidak peduli."

"Yang mana yang lebih buruk?" tanya Hanif.

Zhafir tidak menjawab.

Rifky menaruh tiga cangkir kopi di meja. "Hari ini kita mulai dari Ayah. Semua jawaban kelihatannya bermuara di sana."

Begitu terbangun, Hanif sudah duduk dengan sesuatu di tangannya. Sebuah buku kecil bersampul lusuh, kitab doa peninggalan ibu mereka. Dari sela halaman, ia menarik selembar kertas putih yang sudah menguning di tepinya.

"Ini kertas di meja Ayah malam itu," katanya. "Kosong. Aku mengambilnya sebelum polisi datang, dan menyimpannya sembilan tahun."

Rifky menatap kertas itu seolah itu bom. "Kenapa?"

"Karena waktu itu aku merasa itu satu-satunya hal yang masih milik Ayah." Hanif menelan ludah. "Aku tidak pernah berani melihatnya lama-lama."

Zhafir mengambilnya dengan dua jari, memiringkannya ke arah cahaya jendela, lalu mengerutkan dahi. "Ada bekas tekanan."

"Maksudmu?"

"Seseorang menulis sesuatu di kertas lain yang ditaruh di atas lembar ini. Tekanan penanya membekas ke bawah." Ia membuka laci Rifky, mengambil pensil lunak, dan miring-miring menggoreskannya di atas permukaan kertas, pelan dan merata. "Teknik lama. Tidak butuh alat canggih."

Perlahan, garis-garis putih muncul di antara arsiran abu-abu. Huruf-huruf miring dan tergesa-gesa. Tiga baris.

…tujuh darah satu janji…

…Nur Cahaya, 12 Maret…

…maafkan aku…

Tak ada yang bicara. Hanif menutup mulut dengan punggung tangan.

"Nur Cahaya," ulang Rifky. "Itu nama tempat?"

"Yayasan, panti, asrama, sekolah. Bisa apa saja." Zhafir sudah mengetik di laptop. "Tapi tanggalnya penting. Dua belas Maret, tahunnya tidak ada. Aku akan lacak."

Rifky mengambil kertas itu dan memandangi baris terakhir. Maafkan aku. Ia teringat ayahnya, lelaki pendiam yang selalu pulang telat, yang jarang bicara soal masa lalu dan selalu menjawab "nanti" setiap kali ditanya. Kini ia sadar, kebiasaan itu ia warisi dengan sempurna, dan adiknya mewarisinya juga.

"Berkas kecelakaan Ayah," katanya. "Kita butuh siapa yang menanganinya waktu itu."

"Sudah kucari," jawab Zhafir. "Namanya Sulaksono, mantan polisi lalu lintas. Pensiun lima tahun lalu. Sekarang tinggal di pinggir kota dan membuka kios kecil."

Rifky meraih jaketnya. "Ayo."

Lihat selengkapnya